Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Update Pasar Kripto 17 Januari 2026: Bitcoin dan Ethereum Tertekan

2026-01-17 | 09:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T02:00:32Z
Ruang Iklan

Update Pasar Kripto 17 Januari 2026: Bitcoin dan Ethereum Tertekan

Bitcoin dan Ethereum, dua aset kripto terkemuka berdasarkan kapitalisasi pasar, mengalami pelemahan tipis pada hari Jumat, 17 Januari 2026, setelah periode perdagangan yang fluktuatif sepanjang pekan. Bitcoin (BTC) dibuka dengan sedikit penurunan, melemah 0,12 persen ke kisaran 95.484 dolar Amerika Serikat (AS) dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, Ethereum (ETH) juga bergerak di zona merah, terkikis 0,37 persen pada periode yang sama. Penurunan ini terjadi setelah reli yang signifikan di awal pekan, di mana Bitcoin sempat melonjak hingga 97.000 dolar AS pada 15 Januari, didorong oleh data inflasi AS yang stabil dan aksi beli institusional.

Meskipun terjadi pelemahan harian, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan 5,4 persen selama sepekan terakhir, sementara Ethereum naik 0,79 persen. Pergerakan harga Bitcoin dalam denominasi rupiah menunjukkan stabilisasi, dengan nilai menguat 0,07 persen menjadi sekitar 1,614 miliar rupiah, mencerminkan tidak adanya penjualan panik di pasar domestik. Namun, tren global tetap menunjukkan kehati-hatian.

Sentimen pasar kripto telah bergeser dari zona "ketakutan" menjadi "rakus" pada pertengahan Januari, mencapai skor 61 pada Indeks Fear & Greed, yang menandakan peningkatan optimisme investor. Namun, optimisme tersebut tampaknya tertahan di tengah tekanan jual jangka pendek dan aksi ambil untung. Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa stabilnya inflasi AS pada Desember 2025 (naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan) awalnya memberikan ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa. Antony menambahkan, akumulasi berkelanjutan oleh institusi besar, seperti penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari 1 miliar dolar AS oleh Strategy Inc. di awal 2026, mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap aset digital ini, terlepas dari volatilitas.

Namun, Christopher Tahir, Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, menilai tren pelemahan harga Bitcoin dan Ethereum berpotensi berlanjut apabila pasar tidak memperoleh katalis kuat. Christopher menyatakan bahwa kontribusi pembelian oleh perusahaan treasury aset digital tidak lagi memberikan dampak besar, menjadikan kebijakan moneter global, khususnya keputusan suku bunga The Federal Reserve AS, sebagai pendorong sentimen utama. Pasar juga menghadapi tekanan dari aksi ambil untung investor institusional dan arus keluar dari produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot, meskipun permintaan ETF secara keseluruhan menunjukkan arus masuk kumulatif mingguan sebesar 1,81 miliar dolar AS per 16 Januari.

Secara teknikal, Bitcoin berada dalam fase konsolidasi, mencoba menstabilkan diri di atas zona support 92.000-93.000 dolar AS, namun kesulitan menembus resistance signifikan di kisaran 98.000-100.000 dolar AS. Trader kripto Skew mencatat pergerakan harga Bitcoin yang "choppy" atau tidak konsisten, dengan adanya penjual pasif di level 94.000 dolar AS. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan secara sempit antara support EMA 100-hari dan resistance EMA 200-hari, dengan model valuasi Rainbow Chart menempatkannya di area "still cheap" (2.576 hingga 3.650 dolar AS).

Koreksi harga ini, meskipun moderat, menyoroti sensitivitas pasar kripto terhadap sinyal ekonomi makro dan dinamika pasokan-permintaan. Penurunan minat ritel, yang terlihat dari menurunnya Open Interest (OI) Bitcoin di bursa, menjadi kontras dengan aktivitas institusional. Pasar akan terus mencermati data ekonomi AS berikutnya dan arah kebijakan The Fed, yang diproyeksikan dapat memberikan ruang bagi penurunan suku bunga di tahun 2026, berpotensi memicu reli baru aset berisiko. Namun, dengan resistensi teknikal yang kuat dan tekanan profit-taking, volatilitas jangka pendek diperkirakan akan tetap menjadi karakteristik utama pasar aset digital.