Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Strategy Kembali Gelontorkan Rp 21,07 Triliun untuk Akuisisi Bitcoin Besar-besaran

2026-01-14 | 00:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T17:01:43Z
Ruang Iklan

Strategy Kembali Gelontorkan Rp 21,07 Triliun untuk Akuisisi Bitcoin Besar-besaran

Perusahaan Strategy, yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, telah melakukan pembelian Bitcoin (BTC) substansial senilai sekitar $1,25 miliar, setara dengan sekitar Rp 21,07 triliun, antara 5 hingga 11 Januari 2026. Akuisisi 13.627 Bitcoin tersebut dilakukan dengan harga rata-rata $91.519 per koin, menambah total kepemilikan aset digital perusahaan menjadi 687.410 BTC.

Pembelian terbaru ini didanai melalui program penjualan saham di pasar (at-the-market/ATM) untuk saham biasa MSTR dan penjualan produk ekuitas preferen digitalnya, Stretch (STRC). Dengan tambahan ini, total investasi kumulatif Strategy pada Bitcoin kini mencapai sekitar $51,8 miliar, dengan biaya akuisisi rata-rata sekitar $75.353 per Bitcoin. Perusahaan saat ini dilaporkan mengantongi keuntungan yang belum terealisasi lebih dari $10 miliar berdasarkan harga Bitcoin saat ini yang mendekati $90.500.

Strategi akuisisi Bitcoin oleh Strategy dimulai pada Agustus 2020, memposisikan mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut sebagai aset cadangan utama perbendaharaan perusahaan. Michael Saylor, Ketua Eksekutif dan salah satu pendiri Strategy, dikenal sebagai pendukung vokal Bitcoin, sering kali memberikan sinyal pembelian melalui media sosial sebelum pengumuman resmi. Saylor berpendapat bahwa Bitcoin dapat menjadi aset terbesar di dunia dalam waktu 48 bulan ke depan, didorong oleh adopsi institusional yang berkelanjutan dan penerimaan perbankan. CEO Strategy, Phong Le, juga memprediksi bahwa negara-negara akan menjadi pendorong utama pembelian Bitcoin pada tahun 2026.

Meskipun pembelian berskala besar semacam ini dapat mengurangi pasokan yang tersedia dan mengindikasikan permintaan institusional yang kuat, sebuah laporan Keyrock pada Juli 2025 menunjukkan bahwa kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan memiliki dampak minimal pada pergerakan harga pasar jangka pendek, hanya menyumbang 0,59% dari pergerakan harga BTC harian. Hal ini karena sebagian besar perusahaan cenderung berperilaku sebagai pemegang jangka panjang dan tidak sering memindahkan koin mereka. Namun, akuisisi korporasi yang besar dan reaksi pasar publik dapat menimbulkan efek riak pada penemuan harga dan transmisi volatilitas untuk saham penerbit.

Perubahan kebijakan akuntansi yang menguntungkan, seperti ASU 2023-08, yang kini memungkinkan perusahaan untuk menilai Bitcoin berdasarkan nilai pasar, telah menghilangkan disinsentif signifikan sebelumnya dan diperkirakan akan mendorong pertumbuhan eksponensial dalam kepemilikan Bitcoin oleh korporasi. Keputusan MSCI baru-baru ini untuk mempertahankan perusahaan dengan kepemilikan aset digital dalam indeks utamanya juga mengurangi risiko penjualan paksa oleh dana institusional. Terlepas dari volatilitas harga Bitcoin yang signifikan pada kuartal keempat 2025, yang menyebabkan Strategy melaporkan kerugian belum terealisasi sebesar $17,44 miliar, perusahaan tetap berkomitmen pada model perbendaharaan yang mengutamakan Bitcoin. Perusahaan bahkan meningkatkan cadangan kasnya menjadi $2,25 miliar untuk menahan gejolak pasar yang dramatis.

Saham Strategy (MSTR) sering kali dianggap sebagai proxy Bitcoin yang memanfaatkan leverage, dengan kinerjanya sangat berkorelasi dengan pergerakan harga Bitcoin. Analis dari Clear Street dan Cantor Fitzgerald telah menyesuaikan target harga mereka untuk MSTR, mencerminkan eksposur Bitcoin yang memanfaatkan leverage dan juga volatilitas harga aset kripto tersebut. Saylor sendiri membandingkan kinerja Strategy dengan Nvidia dan Bitcoin sebagai "aset dengan kinerja terbaik" dekade ini, menyebut MSTR sebagai "Kredit Digital" dan Bitcoin sebagai "Modal Digital". Namun, saham MSTR juga mengalami penurunan tajam pada tahun 2025, turun 52% selama setahun terakhir karena tekanan jual dan kekhawatiran dilusi saham akibat penggalangan modal berkelanjutan untuk pembelian Bitcoin.

Ke depan, Saylor berpendapat bahwa pengembangan kredit digital dan penerimaan bank yang lebih luas akan memacu kelas aset ini ke tingkat yang baru, dengan sejumlah bank besar AS mulai memperluas kredit terhadap Bitcoin dan lembaga keuangan seperti Charles Schwab dan City mengumumkan kustodi Bitcoin pada paruh pertama tahun 2026. Hal ini menunjukkan pergeseran lanskap keuangan di mana Bitcoin semakin diintegrasikan ke dalam struktur keuangan tradisional, meskipun dengan risiko inheren yang tetap perlu dipertimbangkan.