:strip_icc()/kly-media-production/medias/4220932/original/073840600_1668038725-Laporan_Keuangan_5.jpg)
PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) pada Kamis, 22 Januari 2026, menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) untuk berinvestasi bersama dalam lebih dari 10 proyek film layar lebar. Melalui unit bisnisnya, Folago Pictures, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga 200% sepanjang tahun 2026. Penandatanganan ini berlangsung di Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta, dan melibatkan sejumlah rumah produksi terkemuka nasional, termasuk Visinema Pictures, MVP Pictures, VMS Pictures, Tiger Wong Entertainment, dan KUY STUDIO.
Direktur Utama IRSX, Subioto Jingga, menyatakan bahwa langkah ini bukan sekadar investasi pada beberapa judul film, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk membangun ekosistem hiburan yang terintegrasi. Folago Pictures akan berperan sebagai mitra yang menyediakan modal, struktur bisnis, dan akses distribusi bagi para kreator dan studio. Pendekatan co-investment yang bersifat "asset-light" ini dirancang untuk mendiversifikasi risiko bisnis sekaligus membuka berbagai jalur monetisasi. Sumber pendapatan yang dibidik meliputi penjualan tiket bioskop (box office), hak distribusi domestik dan internasional, lisensi ke platform Over-The-Top (OTT), hingga integrasi merek (brand integration). Model ini memungkinkan penciptaan arus pendapatan berulang yang tidak sepenuhnya bergantung pada volatilitas pendapatan berbasis acara langsung.
Untuk mendukung ekspansi ini, IRSX berencana menerbitkan sekitar 12,39 miliar saham baru melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, dengan harga pelaksanaan Rp300 per saham. Aksi korporasi ini diperkirakan akan menghimpun dana segar sekitar Rp3,71 triliun yang akan dialokasikan untuk pengembangan usaha, termasuk investasi di proyek-proyek film tersebut. Sebelumnya, pada September 2025, Subioto Jingga menargetkan pendapatan perseroan mencapai Rp300 miliar pada akhir 2025 dan sekitar Rp400 miliar untuk tahun 2026. Target pertumbuhan 200% yang baru ini menunjukkan ambisi agresif IRSX untuk melampaui proyeksi sebelumnya melalui strategi investasi di industri perfilman.
Industri perfilman Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pasca-pandemi, dengan sirkulasi ekonomi mencapai Rp3,2 triliun (sekitar US$191,5 juta) pada tahun lalu, meningkat 15% dari tahun 2022. Pasar sinema di Indonesia tumbuh dengan tingkat rata-rata tahunan gabungan (CAGR) sebesar 6,5% dari 2017 hingga 2028, didorong oleh peningkatan pendapatan per kapita dan pembukaan bioskop baru. Selain itu, pertumbuhan platform digital telah mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi film, membuka akses lebih luas bagi pembuat film untuk menjangkau penonton. Pemerintah juga mendukung pertumbuhan sinema independen melalui hibah kebudayaan, yang mencapai Rp200 miliar pada 2024.
Meskipun demikian, industri ini memiliki tantangan. Dominasi beberapa pemain besar dalam rantai bioskop menyulitkan rumah produksi kecil untuk mendapatkan slot penayangan. Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), Edwin Nazir, menekankan bahwa persaingan ketat berasal dari keterbatasan jumlah layar bioskop di tengah peningkatan produksi film. Investasi IRSX dalam skema co-investment dengan studio-studio ternama dapat membantu menavigasi lanskap ini dengan menyebarkan risiko sekaligus memanfaatkan keahlian produksi yang sudah mapan.
Melalui strategi ini, IRSX berpotensi mempercepat pertumbuhan pendapatan dan membuka ruang re-rating valuasi di pasar modal seiring dengan peningkatan visibilitas konten dan diversifikasi arus pendapatan. Pendekatan ini menegaskan posisi Folago bukan sebagai rumah produksi tunggal, melainkan sebagai "entertainment powerhouse" yang menghubungkan berbagai lini hiburan seperti film, konten digital, acara langsung (live entertainment), ekonomi talenta, dan teknologi dalam satu ekosistem terintegrasi. Namun, keberhasilan target pendapatan 200% tersebut akan sangat bergantung pada penerimaan pasar terhadap film-film yang diinvestasikan serta kemampuan perseroan dalam mengelola diversifikasi monetisasi di tengah persaingan pasar yang ketat dan potensi perlambatan ekonomi yang tercermin dari penyesuaian target penerimaan pajak karyawan pemerintah untuk tahun 2026.