Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tarif Trump dan Isu Greenland: Badai Geopolitik Mengancam Kripto

2026-01-23 | 10:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T03:50:23Z
Ruang Iklan

Tarif Trump dan Isu Greenland: Badai Geopolitik Mengancam Kripto

Para pengamat pasar dan ekonom global kini mencermati potensi kembalinya kebijakan proteksionis agresif di Amerika Serikat, khususnya ancaman tarif yang pernah menjadi ciri khas pemerintahan Donald Trump sebelumnya, yang dapat memicu gejolak signifikan di pasar kripto. Prospek tersebut, sering dikaitkan dengan retorika isolasionis dan transaksi geopolitik tak lazim seperti penawaran pembelian Greenland di masa lalu, menimbulkan kekhawatiran baru tentang stabilitas ekonomi global dan sentimen investor terhadap aset digital yang rentan terhadap ketidakpastian makroekonomi.

Pada masa pemerintahannya, kebijakan tarif Trump terhadap barang-barang dari Tiongkok dan mitra dagang lainnya memicu perang dagang global yang mengguncang rantai pasokan dan memicu volatilitas pasar finansial tradisional. Investor kripto, yang sering mencari lindung nilai dari inflasi atau instrumen yang terdesentralisasi, justru menghadapi ketidakpastian lebih besar ketika kebijakan perdagangan memburuk. Analis di Goldman Sachs pada tahun 2019 mencatat bahwa perang dagang AS-Tiongkok saat itu berpotensi memangkas pertumbuhan PDB AS sebesar 0,4%, dampak yang signifikan terhadap ekonomi global dan sentimen pasar. Fluktuasi tersebut secara historis berkorelasi dengan pergerakan harga Bitcoin dan altcoin, karena investor cenderung menarik modal dari aset berisiko selama periode tekanan ekonomi dan politik.

Potensi kembalinya kebijakan tarif yang luas, seperti tarif 10% secara menyeluruh yang pernah disiratkan oleh tim kampanye Trump untuk impor di masa depan, dapat memicu babak baru ketidakpastian ekonomi global. Langkah semacam itu berisiko memicu balasan dari negara-negara lain, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan global, meningkatkan inflasi, dan mengurangi keuntungan perusahaan multinasional. Dalam skenario seperti itu, pasar kripto, yang telah menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap kondisi makroekonomi dan likuiditas global, kemungkinan akan menghadapi tekanan jual yang signifikan. Menurut laporan dari Galaxy Digital pada akhir tahun 2023, narasi "lindung nilai inflasi" untuk Bitcoin tidak selalu bertahan di tengah guncangan ekonomi parah, dengan korelasi positif terhadap indeks saham teknologi seperti Nasdaq 100 yang menunjukkan Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko oleh banyak investor institusional.

Selain ancaman tarif, gaya kebijakan luar negeri yang tidak konvensional, seperti ide pembelian Greenland dari Denmark pada tahun 2019, meskipun tidak secara langsung terkait dengan tarif atau kripto, dapat memperburuk persepsi ketidakpastian geopolitik. Insiden tersebut, yang ditolak keras oleh Denmark, menyoroti kecenderungan untuk mengejar agenda yang dapat mengganggu aliansi tradisional dan memicu ketegangan internasional. Lingkungan geopolitik yang tidak stabil ini dapat mengurangi selera investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto, karena modal cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah atau dolar AS. Perusahaan analitik kripto Chainalysis mencatat bahwa sentimen pasar kripto sangat dipengaruhi oleh berita dan perubahan kebijakan makroekonomi dan geopolitik, yang seringkali menyebabkan reaksi harga yang cepat dan tajam.

Para ahli menyatakan bahwa jika retorika dan kebijakan Trump kembali mendominasi, baik melalui tarif atau melalui pendekatan geopolitik yang unilateral, dunia usaha dan investor akan menghadapi lingkungan operasional yang lebih tidak dapat diprediksi. Michael O'Hanlon, seorang analis kebijakan luar negeri di Brookings Institution, mencatat bahwa kebijakan luar negeri yang impulsif dapat memiliki efek riak yang merugikan pada perdagangan dan pasar keuangan. Untuk pasar kripto, yang bergantung pada aliran modal global dan sentimen positif terhadap inovasi keuangan, guncangan eksternal seperti ini dapat menghambat adopsi massal dan stabilitas harga jangka panjang. Perusahaan yang bergerak di sektor kripto mungkin juga menghadapi tantangan regulasi yang lebih besar jika pemerintahan di masa depan mengambil sikap yang lebih keras terhadap aset digital, sebuah kemungkinan yang tidak dapat diabaikan mengingat skeptisisme beberapa pejabat terhadap mata uang digital non-negara. Implikasi jangka panjangnya adalah peningkatan volatilitas, diversifikasi portofolio yang lebih hati-hati di kalangan investor kripto, dan potensi perlambatan pertumbuhan pasar aset digital secara keseluruhan jika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik terus membayangi.