Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Retorika Trump Guncang Wall Street, Pasar Terjun Bebas

2026-01-17 | 09:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T02:07:08Z
Ruang Iklan

Retorika Trump Guncang Wall Street, Pasar Terjun Bebas

Wall Street mengalami penurunan tajam pada 23 Agustus 2019 setelah Presiden AS Donald Trump secara agresif merespons pengumuman tarif baru oleh Tiongkok, memicu kekhawatiran yang meluas tentang eskalasi perang dagang yang merugikan. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 600 poin, atau 2,4%, sementara S&P 500 kehilangan 2,6% menjadi 2.847,11, dan Nasdaq Composite merosot 3% menjadi 7.751,77. Penurunan ini menandai minggu keempat berturut-turut bagi S&P 500, menyoroti gejolak pasar akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan.

Aksi jual massal terjadi menyusul serangkaian unggahan di Twitter oleh Presiden Trump. Setelah Tiongkok mengumumkan tarif balasan senilai $75 miliar terhadap barang-barang AS, Trump menanggapi dengan "memerintahkan" perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di Tiongkok untuk mempertimbangkan relokasi ke negara lain, termasuk AS. Setelah penutupan pasar, ia menindaklanjuti ancamannya dengan mengumumkan bahwa AS akan menaikkan tarif yang sudah ada pada barang-barang Tiongkok senilai $250 miliar dari 25% menjadi 30%, serta menaikkan tarif baru pada impor senilai $300 miliar lainnya dari 10% menjadi 15%.

Komentar Presiden Trump menciptakan ketidakpastian besar di kalangan investor. Janet Johnston, manajer portofolio di TrimTabs Asset Management, menyatakan, "Pasar ketakutan oleh eskalasi perang dagang. Investor mencari jalan keluar dan kami belum melihatnya." Sektor teknologi, yang sangat terpapar pada konflik perdagangan, merasakan dampak terberat, dengan saham Apple melorot 4,6%, Microsoft turun 3,2%, dan pembuat chip Nvidia anjlok 5,3%. Perusahaan ritel seperti L Brands juga merugi 9,3%, sementara harga minyak mentah turun, membebani saham-saham energi. Dalam upaya mencari perlindungan, investor berbondong-bondong beralih ke obligasi pemerintah AS, yang menyebabkan penurunan imbal hasil, dan harga emas naik tajam.

Latar belakang masalah ini berakar pada perang dagang AS-Tiongkok yang dimulai pada Januari 2018, di mana AS memberlakukan tarif dan hambatan perdagangan lainnya dengan tujuan memaksa Tiongkok mengubah praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual. Kebijakan "Amerika Pertama" yang diusung oleh pemerintahan Trump secara konsisten menempatkan tekanan pada Tiongkok melalui serangkaian tarif, yang sering kali diumumkan secara mendadak melalui media sosial. Meskipun dimaksudkan untuk melindungi industri domestik, studi oleh para ekonom dari Federal Reserve Bank of New York dan Columbia University menemukan bahwa perusahaan-perusahaan AS kehilangan setidaknya $1,7 triliun dalam harga saham mereka akibat peningkatan tarif AS terhadap impor dari Tiongkok. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana kenaikan tarif pada dasarnya merugikan perusahaan dan investor AS, serta berpotensi menekan investasi.

Implikasi jangka panjang dari pendekatan kebijakan yang tidak dapat diprediksi ini adalah peningkatan volatilitas pasar dan kerentanan ekonomi global. Meskipun ada beberapa saat di mana pasar pulih atau bahkan mengantisipasi kemungkinan Trump akan menarik kembali kebijakan yang merugikan pasar—fenomena yang kadang disebut sebagai "Trump put" oleh para trader Wall Street—ketidakpastian tetap menjadi faktor dominan. Para ekonom dan analis secara berkelanjutan harus merekonsiliasi sinyal-sinyal yang bertentangan mengenai kesehatan ekonomi di tengah kebijakan perdagangan yang bergejolak. Kondisi ini menggarisbawahi tantangan bagi bisnis dan investor dalam merencanakan masa depan di tengah lingkungan kebijakan yang dapat berubah secara drastis dalam waktu singkat, dengan pasar secara konstan mencari kejelasan dan "aturan main" yang stabil.