Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Trump Gebrak Prancis dengan Tarif 200%, Industri Minuman Terancam Krisis

2026-01-21 | 02:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T19:09:07Z
Ruang Iklan

Trump Gebrak Prancis dengan Tarif 200%, Industri Minuman Terancam Krisis

Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif 200 persen pada anggur dan sampanye Prancis telah memicu kekhawatiran serius di kalangan perusahaan minuman dan memperburuk ketegangan perdagangan transatlantik yang sudah genting. Pernyataan tersebut, yang dilontarkan Trump pada Senin, 19 Januari 2026, dan disiarkan oleh Reuters pada 20 Januari, muncul setelah adanya indikasi bahwa Prancis bermaksud menolak undangan untuk bergabung dengan inisiatif "Dewan Perdamaian" yang diusulkan Trump, sebuah badan yang dirancang untuk mengawasi konflik global, dimulai dari Gaza.

Menteri Pertanian Prancis Annie Genevard menyebut ancaman tarif 200 persen itu "tidak dapat diterima" dan merupakan "kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya," menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibiarkan tanpa respons dari Prancis maupun Uni Eropa secara keseluruhan. Ancaman ini secara spesifik menargetkan sektor vitikultura Prancis, yang disebut Genevard sedang menghadapi kesulitan dan merupakan "permata pertanian Prancis."

Ancaman tarif yang mengejutkan ini muncul di tengah eskalasi gesekan perdagangan yang lebih luas. Baru-baru ini, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 10 persen pada semua barang dari delapan negara Eropa, termasuk Prancis, mulai 1 Februari 2026. Tarif ini dapat meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni 2026, kecuali jika Amerika Serikat diizinkan untuk membeli Greenland. Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang sedang berada di Forum Ekonomi Dunia di Davos, mengkritik pendekatan perdagangan Amerika Serikat dan menyerukan agar Eropa "menghargai dirinya sendiri" dan "bereaksi" secara tegas terhadap tindakan ekonomi semacam itu.

Industri minuman Prancis memiliki ketergantungan signifikan pada pasar AS. Ekspor anggur Prancis ke Amerika Serikat diperkirakan mencapai 1,96 miliar euro (sekitar 2,2 miliar dolar AS), yang merupakan hampir 40 persen dari total ekspor anggur Uni Eropa ke AS. Amerika Serikat juga merupakan pasar ekspor terbesar untuk sampanye Prancis, dengan 27,41 juta botol dikirim pada tahun 2024, menghasilkan pendapatan ekspor sebesar 3,75 miliar euro (sekitar 4,1 miliar dolar AS). Konfederasi Anggur Eropa (CEEV) telah memperingatkan bahwa tarif 200 persen akan secara efektif "menutup pasar AS untuk anggur Uni Eropa." Ketua lobi ekspor anggur dan minuman keras Prancis (FEVS), Gabriel Picard, melaporkan bahwa industri tersebut telah mengalami penurunan aktivitas 20 hingga 25 persen di AS pada paruh kedua tahun lalu, bahkan sebelum ancaman tarif 200 persen terbaru ini.

Secara historis, di bawah pemerintahan Trump sebelumnya, sengketa perdagangan, terutama terkait dengan pajak layanan digital (DST) yang diberlakukan Prancis, telah mengakibatkan tarif dikenakan pada anggur dan barang-barang mewah Prancis antara tahun 2019 dan 2021. Tarif-tarif tersebut menyebabkan penurunan 40 persen dalam ekspor anggur Prancis ke Amerika Serikat, dengan kerugian diperkirakan mencapai hampir 500 juta euro. Tarif-tarif terkait DST, yang juga menargetkan tas tangan, keju, dan kosmetik Prancis hingga 100 persen, ditangguhkan pada Januari 2021 setelah kesepakatan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Menanggapi ancaman terbaru ini, Prancis telah mengisyaratkan kesediaannya untuk mengambil tindakan balasan. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyatakan dukungan Prancis untuk menangguhkan kesepakatan perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat, dengan alasan bahwa ancaman tarif digunakan sebagai "pemerasan untuk mendapatkan konsesi yang tidak dapat dibenarkan." Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menegaskan bahwa Uni Eropa akan merespons secara "tegas, bersatu, dan proporsional" terhadap tindakan Amerika Serikat.

Uni Eropa memiliki instrumen yang kuat untuk merespons, termasuk "instrumen anti-koersi" (ACI) yang mulai berlaku pada tahun 2023. ACI memungkinkan Uni Eropa untuk memberlakukan sanksi perdagangan, membatasi akses pasar, atau menangguhkan perlindungan kekayaan intelektual sebagai tanggapan terhadap tindakan ekonomi koersif. Selain itu, Uni Eropa dapat mengaktifkan kembali tarif yang sebelumnya direncanakan senilai 93 miliar euro (108 miliar dolar AS) atas barang-barang AS seperti bourbon, pesawat terbang, dan kedelai. Tarif-tarif ini ditangguhkan setelah kesepakatan perdagangan musim panas lalu, dan penangguhan tersebut akan berakhir pada 6 Februari 2026.

Investor telah menunjukkan kekhawatiran. Saham LVMH, konglomerat barang mewah pemilik merek seperti Louis Vuitton, Hennessy, dan Moët & Chandon, turun 4,5 persen menyusul ancaman tarif 10 persen atas Greenland. Goldman Sachs memperkirakan bahwa tarif 10 persen dapat mengurangi PDB Eropa yang terdampak sebesar 0,1 hingga 0,2 persen, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang dagang timbal balik dapat mengurangi output global sekitar 0,3 persen. Parlemen Eropa juga sedang mempertimbangkan untuk menunda implementasi kesepakatan perdagangan Uni Eropa-AS yang dicapai musim panas lalu sebagai bentuk protes.