
Pemerintah Indonesia tengah mengkaji pembangunan tanggul di sepanjang aliran Kali Perancis, Tangerang, Banten, sebagai respons mitigasi jangka panjang terhadap insiden banjir yang kerap melumpuhkan akses utama Tol Bandara Soekarno-Hatta. Kajian ini mencuat menyusul terendamnya ruas tol tersebut pada awal tahun 2026, yang menyebabkan gangguan parah pada mobilitas penumpang dan logistik menuju dan dari salah satu gerbang udara tersibuk di Asia Tenggara. Kejadian tersebut bukan yang pertama kali, dengan insiden serupa dilaporkan pada tahun-tahun sebelumnya, menandakan adanya permasalahan drainase dan tata kelola air yang sistemik di wilayah penyangga ibu kota.
Otoritas terkait, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Pemerintah Provinsi Banten, sedang mengevaluasi secara komprehensif kelayakan teknis dan dampak lingkungan dari proyek tanggul Kali Perancis. Kali ini, yang bermuara di sekitar pesisir utara Jakarta, diketahui memiliki kapasitas tampung yang terbatas dan sering meluap akibat curah hujan tinggi, pasang air laut (rob), serta sedimentasi yang diperparah oleh masifnya pembangunan di area hulu dan sekitarnya. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem di wilayah Jakarta dan sekitarnya cenderung meningkat dalam dekade terakhir, menambah tekanan pada sistem drainase eksisting. Banjir pada Tol Bandara Soekarno-Hatta terakhir dilaporkan terjadi pada Januari 2026, yang memaksa penutupan sebagian ruas jalan dan mengalihkan lalu lintas, menimbulkan kerugian ekonomi yang substansial.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan pada 4 Januari 2024, bahwa bencana banjir rob dan banjir lokal yang melanda Jakarta, Tangerang, dan sekitarnya perlu penanganan serius dengan melibatkan berbagai pihak. Banjir pada awal Januari 2026 terjadi di beberapa titik, termasuk terowongan underpass Jalan Perimeter Selatan yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dengan daerah sekitarnya, serta ruas tol Sedyatmo Km 24+400. Akibat banjir tersebut, lalu lintas di sekitar Bandara Soekarno-Hatta sempat dialihkan, menyebabkan antrean panjang dan keterlambatan penerbangan. Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengungkapkan pada tahun 2021 bahwa permasalahan banjir di Tol Bandara Soetta sangat kompleks, melibatkan banyak pihak dan dipengaruhi oleh curah hujan, air pasang, serta drainase.
Pembangunan tanggul Kali Perancis diharapkan dapat mengendalikan luapan air, terutama saat debit air tinggi bersamaan dengan fenomena rob. Namun, para ahli tata kota dan lingkungan mengingatkan bahwa proyek infrastruktur semata tidak akan menyelesaikan akar masalah tanpa disertai oleh pengelolaan tata ruang yang lebih baik di daerah aliran sungai (DAS) Kali Perancis. Urbanisasi yang pesat dan alih fungsi lahan resapan menjadi area terbangun telah mengurangi kemampuan alami tanah untuk menyerap air, sehingga mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan risiko banjir. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan penurunan signifikan tutupan lahan hijau di beberapa sub-DAS di Banten dalam dua puluh tahun terakhir. Selain itu, potensi dampak terhadap ekosistem muara dan keberlanjutan sumber daya air lokal juga perlu menjadi pertimbangan utama dalam studi kelayakan.
Pemerintah menargetkan kajian teknis dan lingkungan dapat rampung dalam beberapa bulan ke depan, diikuti dengan tahapan perencanaan detail dan penganggaran. Jika disetujui, proyek tanggul Kali Perancis akan menjadi bagian integral dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan infrastruktur vital nasional terhadap ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Implikasi jangka panjang dari proyek ini tidak hanya akan dirasakan oleh operasional Bandara Soekarno-Hatta, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Kali Perancis, yang selama ini rentan terhadap dampak banjir. Keberhasilan implementasi proyek ini, bagaimanapun, akan sangat bergantung pada koordinasi antarlembaga yang efektif, partisipasi publik, serta komitmen terhadap praktik pembangunan yang berkelanjutan.