
Presiden Donald Trump pada 14 Januari 2026 secara resmi memberlakukan tarif 25 persen untuk chip komputasi canggih tertentu, termasuk prosesor AI Nvidia H200 dan AMD MI325X, melalui proklamasi keamanan nasional yang berlaku mulai 15 Januari 2026. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk merelokasi produksi semikonduktor ke Amerika Serikat, menyusul penyelidikan sembilan bulan di bawah Bagian 232 Undang-Undang Ekspansi Perdagangan 1962 yang menyimpulkan bahwa ketergantungan pada rantai pasokan asing mengancam keamanan nasional AS.
Proklamasi tersebut, yang ditandatangani oleh Presiden Trump, menargetkan semikonduktor berkinerja tinggi yang memenuhi spesifikasi teknis tertentu, namun juga mencakup pengecualian signifikan. Chip yang diimpor untuk digunakan di pusat data AS, untuk perbaikan atau penggantian, untuk penelitian dan pengembangan domestik, untuk startup, untuk aplikasi konsumen non-pusat data, untuk penggunaan industri sipil non-pusat data, atau untuk aplikasi sektor publik AS, dikecualikan dari tarif ini. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, memiliki wewenang diskresioner untuk menerapkan pengecualian lebih lanjut.
Keputusan ini menggarisbawahi upaya berkelanjutan pemerintah AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan semikonduktor asing. Saat ini, Amerika Serikat memproduksi hanya sekitar 10 persen dari total chip yang dibutuhkannya, menjadikannya sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Proklamasi tersebut juga menginstruksikan Menteri Perdagangan dan Perwakilan Dagang AS untuk memulai negosiasi dengan negara-negara produsen semikonduktor. Jika negosiasi ini tidak menghasilkan kesepakatan yang mendorong peningkatan kapasitas manufaktur AS dalam waktu 180 hari, tarif yang lebih luas pada semikonduktor dan produk turunannya dapat diberlakukan.
Bagi Nvidia, yang mendesain chipnya di AS namun sangat bergantung pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) di Taiwan untuk produksi chip kelas atasnya, tarif ini menciptakan dinamika pasar yang kompleks. Meskipun Nvidia telah mengumumkan investasi dalam fasilitas manufaktur superkomputer di Texas melalui kemitraan dengan Foxconn di Houston dan Wistron di Dallas, serta memulai produksi chip Blackwell di pabrik TSMC di Phoenix, sebagian besar produksi chip AI canggih masih berpusat di luar AS. Situasi ini diperumit oleh persetujuan penjualan chip Nvidia H200 ke Tiongkok oleh pemerintahan Trump, di mana pengalihan wajib melalui AS untuk pengujian pihak ketiga kini memicu tarif 25 persen pada setiap pengiriman. Kondisi ini berpotensi membuat chip H200 yang menuju Tiongkok menjadi sangat mahal, sehingga mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk beralih ke alternatif semikonduktor domestik.
Dampak kebijakan ini telah menarik perhatian global. Menteri Perdagangan Korea Selatan, Yeo Han-koo, menyatakan bahwa dampak langsung pada perusahaan Korea Selatan akan terbatas, karena tarif ini fokus pada chip AI canggih dan tidak mencakup memori chip yang merupakan ekspor utama Korea Selatan. Namun, ia juga memperingatkan tentang ketidakpastian seputar potensi perluasan tarif di fase kedua. Para ahli industri mengkhawatirkan bahwa tarif pada impor chip canggih dapat meningkatkan biaya pengadaan bagi pelanggan hilir dan mengganggu rantai pasokan global, yang pada akhirnya dapat merugikan industri AS sendiri. Sementara itu, pertempuran teknologi antara AS dan Tiongkok diperkirakan akan semakin intensif, dengan proyeksi bahwa pasar komputasi Tiongkok akan tumbuh delapan kali lebih cepat daripada AS pada tahun 2029.