
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai revitalisasi menyeluruh koridor Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, dengan membongkar 109 tiang monorel mangkrak yang telah puluhan tahun menjadi simbol kegagalan infrastruktur kota. Pekerjaan yang ditargetkan rampung pada September 2026 ini bertujuan mengubah wajah salah satu urat nadi bisnis ibu kota menjadi lebih modern, fungsional, dan ramah pejalan kaki.
Langkah signifikan ini menelan anggaran sekitar Rp102 miliar yang dialokasikan tidak hanya untuk biaya pembongkaran tiang monorel sekitar Rp254 juta, tetapi juga untuk penataan ulang jalan, pelebaran trotoar, perbaikan drainase, serta pembangunan fasilitas publik lainnya di sepanjang 3,6 kilometer ruas jalan tersebut. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, dana sebesar Rp102 miliar tersebut merupakan alokasi untuk penataan kawasan secara keseluruhan, bukan sekadar pemotongan tiang. "Yang besar itu penataannya," kata Pramono saat meninjau lokasi pada 14 Januari 2026.
Sejarah proyek monorel Jakarta bermula pada awal dekade 2000-an di bawah kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004. Gagasan ambisius ini dirancang sebagai solusi mengurai kemacetan kronis, namun proyek terhenti pada 2007 atau 2008 akibat sengketa hukum, masalah pendanaan, dan perselisihan antara kontraktor dan pelaksana. Upaya revitalisasi di era Gubernur Joko Widodo sekitar 2012 pun tidak membuahkan hasil, meninggalkan tiang-tiang beton tanpa fungsi yang selama hampir 20 tahun menjadi pemandangan mengganggu dan bahkan berpotensi membahayakan. Mantan Gubernur Sutiyoso menyatakan kelegaannya atas dimulainya pembongkaran. "Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono," ujarnya.
Penataan kawasan Rasuna Said pasca-pembongkaran meliputi sejumlah perubahan fundamental. Median jalan akan dihilangkan, trotoar dilebarkan dengan konsep ramah pejalan kaki dan penyandang disabilitas, serta halte-halte transportasi publik akan ditingkatkan kenyamanannya dan diintegrasikan. Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo, menyebutkan bahwa penataan drainase juga menjadi fokus utama untuk mengatasi masalah genangan air yang kerap melanda kawasan tersebut. Selain itu, penyesuaian geometrik jalan dan pembaruan tiang-tiang penerangan umum berkonsep modern akan dilakukan untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas dan estetika kota. Dinas Perhubungan DKI Jakarta memprediksi, pembongkaran tiang monorel ini dapat meningkatkan efektivitas lalu lintas sekitar 18 persen.
Proses pembongkaran 109 tiang monorel, yang dikerjakan secara bertahap pada malam hari antara pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, dirancang untuk meminimalkan gangguan terhadap arus lalu lintas padat di Jalan Rasuna Said. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo memastikan tidak ada penutupan jalan total selama pekerjaan berlangsung, hanya rekayasa lalu lintas di lajur lambat secara bertahap. Gubernur Pramono Anung juga menekankan koordinasi yang ketat dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas proyek, menghindari masalah hukum di kemudian hari.
Dukungan terhadap proyek ini datang dari berbagai pihak, termasuk Komisi D DPRD DKI Jakarta. Ketua Komisi D Yuke Yurike menyatakan kesepakatan dan apresiasi atas upaya Pemprov DKI, seraya meminta asas kehati-hatian dalam pelaksanaannya. Warga sekitar Rasuna Said juga menyambut baik inisiatif ini, mengungkapkan kekhawatiran terhadap tiang-tiang mangkrak yang dinilai membahayakan dan menghambat kelancaran jalan. Setelah koridor Rasuna Said rampung, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mengevaluasi tiang-tiang monorel di kawasan Senayan, dengan opsi pembongkaran sebagian dan pemanfaatan sebagian lainnya, misalnya sebagai videotron atau media reklame. Penataan ini menjadi langkah krusial dalam upaya Jakarta menuju kota global yang lebih nyaman, humanis, dan berdaya saing.