
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memperluas jaringan Transjabodetabek dengan membuka dua rute baru yang strategis: Blok M-Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan Cawang-Jababeka. Inisiatif ini diumumkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Selasa, 20 Januari 2026, sebagai upaya mendesak untuk meningkatkan konektivitas transportasi publik dan mengurangi kemacetan parah di Jabodetabek.
Rencana pembukaan dua rute ini didasari oleh tingginya kebutuhan masyarakat akan akses transportasi langsung ke Bandara Soekarno-Hatta serta mobilitas pekerja di kawasan industri Jababeka. Gubernur Pramono Anung menjelaskan bahwa rute Blok M-Bandara Soetta diprioritaskan karena lonjakan permintaan angkutan umum dari pusat kota Jakarta ke bandara internasional utama. Sementara itu, rute Cawang-Jababeka dirancang untuk melayani ribuan pekerja komuter yang beraktivitas di kawasan industri terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Sejak Juni 2025, Transjabodetabek telah mengoperasikan beberapa rute baru yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga, berakhir di titik-titik penting seperti Terminal Blok M, Cawang Sentral, dan Lebak Bulus. Namun, inisiatif terbaru ini merupakan langkah signifikan dalam memperluas jangkauan ke area dengan volume perjalanan tinggi yang selama ini masih didominasi kendaraan pribadi. Pramono Anung optimistis rute Blok M-Bandara Soetta akan menjadi salah satu koridor ramai, serupa dengan rute PIK 2-Blok M atau Bogor-Blok M yang mencatat jumlah penumpang tinggi.
Integrasi transportasi di Jabodetabek menjadi kebutuhan krusial mengingat data terbaru dari TomTom Traffic Index 2025 menunjukkan bahwa Jakarta menduduki peringkat ke-24 kota termacet di dunia, naik drastis dari posisi ke-90 pada tahun sebelumnya. Rata-rata waktu tempuh 10 kilometer di Jakarta pada tahun 2025 tercatat 26 menit 19 detik, meningkat dari 25 menit 31 detik pada tahun 2024, dengan tingkat kemacetan rata-rata mencapai 59,8 persen. Angka ini mengindikasikan semakin parahnya kondisi lalu lintas yang membebani ekonomi dan produktivitas warga.
Meskipun tingkat konektivitas layanan TransJakarta di wilayah DKI Jakarta telah mencapai 92 persen, tingkat pemanfaatannya oleh masyarakat masih tergolong rendah, hanya berkisar 23-25 persen. Gubernur Pramono menargetkan peningkatan signifikan penggunaan transportasi umum secara berkelanjutan hingga menembus angka 30 persen, yang diyakini akan secara signifikan mengurangi kemacetan di Jakarta.
Pembukaan rute lintas provinsi ini masih memerlukan persetujuan dari Kementerian Perhubungan. Gubernur Pramono Anung telah berkomunikasi langsung dengan jajaran Kemenhub untuk mempercepat proses perizinan. Rycko Menoza, Anggota Komisi VII DPR RI, menekankan bahwa konektivitas transportasi merupakan kunci pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, bukan hanya kemegahan fisik bangunan. Ia menyoroti bahwa meskipun sudah ada kereta api bandara, belum semua masyarakat merasakan kemudahan akses tersebut, dan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk ekosistem transportasi udara yang terintegrasi. Senator Achmad Azran dari DPD RI Dapil Jakarta juga mendukung rencana ini, berharap dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ke bandara.
Kawasan industri Jababeka sendiri merupakan hub ekonomi vital di Cikarang, dengan lebih dari 1.500 perusahaan menampung banyak tenaga kerja. Mobilitas harian di Cikarang Raya mencapai sekitar 770 ribu perjalanan, dengan 46 persen di antaranya berasal dari dan menuju Jababeka. Oleh karena itu, penyediaan transportasi umum yang memadai menjadi esensial untuk mendukung produktivitas dan mengurangi beban lalu lintas di jalan arteri sekitarnya. Integrasi ini sejalan dengan konsep transit-oriented development (TOD) yang didorong di Jababeka untuk menciptakan sistem transportasi efisien dan saling terhubung.
Pengembangan rute baru Transjabodetabek ini merefleksikan urgensi perbaikan infrastruktur transportasi di tengah pertumbuhan pesat wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya. Optimalisasi layanan publik diharapkan dapat menggeser preferensi masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, menciptakan mobilitas perkotaan yang lebih efisien, terpadu, dan berkelanjutan. Gubernur Pramono menegaskan bahwa rute baru ini tidak akan menghilangkan trayek lama yang sudah berjalan, melainkan memberikan lebih banyak pilihan kepada publik.