Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tol Terpeka: Infrastruktur Futuristik dengan Landasan Pesawat Terintegrasi

2026-01-18 | 02:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T19:08:06Z
Ruang Iklan

Tol Terpeka: Infrastruktur Futuristik dengan Landasan Pesawat Terintegrasi

Integrasi strategis infrastruktur transportasi mutakhir tengah membentuk kembali lanskap konektivitas di Indonesia, dengan fokus pada Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, sebuah proyek yang telah berjuang mencari relevansi operasionalnya dan kini didukung oleh jaringan jalan tol yang krusial. Jaringan ini, yang secara fundamental mengubah aksesibilitas bandara terbesar kedua di Indonesia ini, menandai titik balik penting dalam visi pengembangan ekonomi regional.

Dibangun dengan investasi monumental mencapai Rp 18,3 triliun, Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 61,6 kilometer telah sepenuhnya beroperasi sejak Juli 2023, secara signifikan memangkas waktu tempuh dari Bandung ke Kertajati menjadi sekitar 1,5 jam. Peresmian penuh oleh Presiden Joko Widodo pada 11 Juli 2023, yang sebelumnya menyoroti lambatnya penyelesaian jalan tol sebagai penghambat operasional BIJB Kertajati, menandai upaya pemerintah untuk mengoptimalkan potensi bandara tersebut. Selain Tol Cisumdawu, jalan tol akses khusus BIJB Kertajati sepanjang 3,7 kilometer yang terkoneksi dengan Tol Cipali KM 158+700 telah beroperasi sejak 20 Desember 2021, dengan biaya pembangunan sebesar Rp 692 miliar. Fasilitas jalan bebas hambatan empat lajur dengan lebar 3,6 meter ini dirancang untuk memastikan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan pengguna jalan, khususnya dalam mendukung perekonomian di wilayah sekitar.

Kertajati Aerocity, sebuah konsep pengembangan terpadu di sekitar bandara seluas 3.480 hektar, didorong untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat, khususnya di kawasan utara dan timur. Area ini terbagi menjadi enam klaster utama, meliputi Aerospace Park, Logistic Hub, Creative Technology Center, Business Park, Energy Center, dan Residential Area. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) bersama PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) bahkan telah memulai pembangunan tahap pertama Kertajati Aerospace Park pada Desember 2025, dengan fokus pada infrastruktur dasar seperti pematangan lahan, akses jalan internal, dan jaringan utilitas. Tahap awal ini, dengan nilai investasi $5 juta, menargetkan operasional hanggar rotary wing pada kuartal III hingga kuartal IV tahun 2026, yang dirancang untuk menampung beberapa helikopter kelas menengah secara bersamaan. Menteri Perhubungan juga mengungkapkan rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai kawasan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) dan ekosistem aviasi lainnya untuk mengoptimalkan bandara ini.

Visi jangka panjang ini berupaya mengatasi tantangan awal BIJB Kertajati yang menghadapi sepinya penumpang, dengan penerbangan domestik yang terhenti sejak Juli 2025 dan hanya melayani rute Singapura-BIJB dua kali seminggu oleh Scoot. Pada tahun 2025, BIJB Kertajati hanya mencatat 79.523 penumpang, dengan rata-rata 218 penumpang per hari, jauh di bawah ekspektasi bandara terbesar kedua di Indonesia. Keterbatasan akses menjadi biang keladi sepinya bandara ini sejak dibuka pada 2018. Dengan rampungnya Tol Cisumdawu, konektivitas BIJB Kertajati diperkuat sebagai bagian dari program Rebana Metropolitan, yang juga akan mengintegrasikan Pelabuhan Patimban dan kawasan industri Ciayu Majakuning, menciptakan segitiga pertumbuhan ekonomi yang saling mendukung dan berdaya saing. Bupati Majalengka, Karna Sobahi, pada Juli 2023 menyatakan bahwa keberadaan jalan tol ini akan memperkuat Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Di luar pengembangan Kertajati, lanskap infrastruktur Indonesia juga melihat inovasi dalam fungsionalitas jalan tol. Di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Jalan Tol Akses IKN Seksi 6A dan 6B dirancang dengan kemampuan ganda, dapat difungsikan sebagai landasan pacu darurat pesawat dalam kondisi tertentu. Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis Sumadilaga menjelaskan bahwa bagian jalan tol sepanjang sekitar 3 kilometer ini tidak hanya berfungsi sebagai jalan tol biasa, tetapi juga didesain sebagai landasan pacu dengan kontur jalan lurus. Desain ini mencerminkan komitmen terhadap pembangunan infrastruktur yang adaptif dan strategis, serupa dengan pertimbangan masa lalu yang sempat mengemuka mengenai Tol Jagorawi yang dirancang sebagai landasan pacu darurat. Inovasi ini menunjukkan pendekatan pemerintah dalam membangun infrastruktur multi-fungsi yang mendukung ketahanan strategis dan operasional negara.