
Indonesia telah mengalokasikan investasi awal sebesar 2,1 triliun rupiah, atau setara dengan US$124,5 juta, untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional melalui kemitraan strategis dengan ARM Holdings, perusahaan desain cip terkemuka yang berbasis di Inggris. Langkah ini diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto, menandai upaya signifikan Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global yang semakin krusial ini. Investasi awal tersebut akan fokus pada pengembangan desain cip dan kekayaan intelektual (IP), bukan pada pembangunan fasilitas fabrikasi (fab) yang membutuhkan modal jauh lebih besar.
Inisiatif ini datang pada saat semikonduktor menjadi tulang punggung ekonomi digital global, esensial untuk industri otomotif, elektronik, dan pusat data. Permintaan yang melonjak di tengah ketegangan geopolitik dan disrupsi rantai pasok telah mendorong banyak negara untuk mencari kemandirian dan diversifikasi dalam produksi semikonduktor. Indonesia, yang pada tahun 2024 menempati peringkat ke-26 secara global dalam ekspor perangkat semikonduktor, telah lama mengandalkan sektor perakitan, pengujian, dan pengemasan (ATP). Pasar semikonduktor Indonesia sendiri bernilai sekitar $3,5 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh menjadi $7,07 miliar pada tahun 2030. Namun, Indonesia masih tertinggal dalam penelitian dan pengembangan (R&D) serta ketersediaan talenta jika dibandingkan dengan pemimpin global.
Kemitraan dengan ARM Holdings, yang sebelumnya telah mendukung pengembangan peta jalan semikonduktor di Malaysia, memberikan Indonesia akses ke keahlian desain cip dan cetak biru IP yang vital. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem semikonduktor nasional bukan inisiatif baru, melainkan hasil upaya konsisten kementerian selama beberapa tahun terakhir, dimulai sejak 2019 dengan inisiatif pengembangan desain cip. Pada Hannover Messe 2023, Indonesia mulai membangun komunikasi dan menjajaki kerja sama dengan pemain industri semikonduktor global. Sebuah Memorandum of Understanding (MoU) juga telah ditandatangani dengan Apple untuk pengembangan kegiatan R&D di Indonesia melalui kolaborasi dengan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC), sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Kementerian Perindustrian pada 2023. ICDeC saat ini mengumpulkan para ahli dari 16 universitas di seluruh negeri yang berspesialisasi dalam desain cip.
Strategi semikonduktor nasional Inggris sendiri, yang diluncurkan pada tahun 2023, menekankan kekuatan negara tersebut dalam R&D, desain, IP, dan semikonduktor senyawa. Inggris telah berkomitmen menginvestasikan hingga £200 juta untuk periode 2023-2025 dan hingga £1 miliar dalam dekade berikutnya ke sektor semikonduktornya. Inggris secara strategis memilih untuk fokus pada area di mana mereka unggul, seperti desain, alih-alih mencoba mengembangkan industri semikonduktor yang sepenuhnya terintegrasi.
Ambisi Indonesia melampaui sekadar perakitan dan pengujian. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (2025-2029) mengidentifikasi semikonduktor sebagai salah satu dari sembilan sektor strategis, bertujuan untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam rantai nilai, mulai dari bahan baku hingga pengemasan dan desain. Negara ini memiliki keunggulan alami berupa cadangan pasir silika yang melimpah, bahan penting untuk produksi wafer silikon, dengan perkiraan 25,33 miliar ton cadangan. Pemerintah berencana memberlakukan larangan ekspor pasir silika secara penuh pada tahun 2027 untuk memastikan ketersediaan lokal.
Kemitraan ini mencerminkan pengakuan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar, melainkan mulai membangun kapabilitas sebagai bagian dari ekosistem inovasi global, khususnya dalam pengembangan desain cip. Meskipun tantangan seperti pengembangan talenta, efisiensi regulasi, dan persaingan regional tetap ada, inisiatif ini merupakan langkah konkret menuju peningkatan kemandirian industri, pengurangan ketergantungan pada teknologi impor, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai $600 miliar pada tahun 2030. Jika berhasil mengatasi kesenjangan talenta dan infrastruktur, Indonesia berpotensi menjadi tujuan penting berikutnya bagi raksasa teknologi global yang mencari ketahanan dalam rantai pasok yang tidak pasti. Selain itu, Indonesia juga telah menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat melalui International Technology Security and Innovation (ITSI) Fund di bawah CHIPS Act 2022, serta kemitraan dengan Arizona State University untuk memperkuat ekosistem semikonduktornya.