Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Runtutan Penemuan Serpihan Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung

2026-01-19 | 09:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T02:26:34Z
Ruang Iklan

Terkuak: Runtutan Penemuan Serpihan Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung

Tim SAR gabungan pada Minggu (18/1/2026) berhasil menemukan serpihan besar pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT di lereng curam Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, sekitar 24 jam setelah pesawat tersebut hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Penemuan ini mengakhiri spekulasi intensif mengenai nasib pesawat yang membawa sepuluh orang—tujuh awak dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)—sekaligus menggeser fokus operasi dari pencarian menjadi evakuasi dan investigasi penyebab kecelakaan.

Kronologi penemuan serpihan dimulai pada Minggu pagi pukul 06.15 WITA, ketika tim Advance Jungle Unit (AJU) Basarnas Makassar diberangkatkan dengan membawa drone dan peralatan evakuasi. Lima belas menit kemudian, helikopter TNI Angkatan Udara turut dikerahkan untuk melakukan penyisiran udara. Pada pukul 07.46 WITA, kru helikopter pertama kali berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan kecil berupa jendela pesawat. Hanya berselang tiga menit, pada pukul 07.49 WITA, tim udara kembali menemukan serpihan berukuran lebih besar yang diyakini sebagai bagian badan utama dan ekor pesawat di lereng bawah puncak Gunung Bulusaraung.

Kepala Kantor SAR Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa penemuan bagian utama pesawat tersebut secara signifikan mempersempit zona pencarian dan memberikan petunjuk penting. "Fokus tim gabungan pencarian dan penyelamatan kami sekarang beralih pada pencarian korban, terutama mereka yang mungkin masih hidup," kata Arif. Penemuan serpihan ini juga dikonfirmasi oleh Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, yang menyatakan lokasi bangkai pesawat terlihat jelas di lereng Gunung Bulusaraung, wilayah Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menegaskan posisi penemuan berada sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat. Kondisi geografis Gunung Bulusaraung yang dikenal terjal dengan batuan karst tajam dan kemiringan hampir vertikal, ditambah cuaca berkabut tebal dan hujan lebat, menjadi tantangan berat bagi tim evakuasi darat yang dilengkapi peralatan mountaineering. Salah satu korban berjenis kelamin laki-laki telah berhasil ditemukan pada Minggu sore pukul 14.20 WITA di sebuah jurang sedalam sekitar 200 meter dekat lokasi serpihan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga kuat bahwa kecelakaan ini merupakan fenomena "Controlled Flight Into Terrain" (CFIT), di mana pesawat yang masih dalam kendali pilot menabrak permukaan bukit atau lereng gunung. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan, "Dari indikasi awal, pilot masih melakukan kontrol terhadap pesawat. Namun, pesawat tidak berada dalam kendali penuh atau uncontrolled." Ini berarti pesawat diduga menghantam lereng gunung secara tidak sengaja, menyebabkan pecahnya badan pesawat. Investigasi lebih lanjut akan fokus pada pencarian kotak hitam (black box) yang berada di bagian ekor pesawat, guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor seri 611 ini, yang berusia 25 tahun dan dioperasikan oleh Indonesia Air Transport, dilaporkan mengalami masalah mesin sehari sebelum kecelakaan, meskipun telah dinyatakan layak terbang setelah perbaikan. Ikatan Pilot Indonesia (IPI) melalui ketuanya, Capt. Muammar Reza Nugraha, mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri dari spekulasi dan menghormati proses investigasi demi menjamin objektivitas dan menghormati para korban serta keluarga. Kejadian ini menyoroti kembali tantangan penerbangan di wilayah bergunung-gunung di Indonesia yang sangat bergantung pada transportasi udara untuk konektivitas antar-pulau, serta pentingnya sistem peringatan dini dan prosedur navigasi yang adaptif terhadap kondisi geografis dan cuaca ekstrem.