Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dukuh Atas Bakal Jadi Simpul Transportasi Terpadu MRT-LRT-KRL Jakarta

2026-01-19 | 09:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T02:34:08Z
Ruang Iklan

Dukuh Atas Bakal Jadi Simpul Transportasi Terpadu MRT-LRT-KRL Jakarta

Jakarta, 19 Januari 2026 – Dukuh Atas bersiap menjadi hub transportasi publik terpadu yang menghubungkan secara seamless Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Kereta Bandara, dan Transjakarta. Proyek strategis yang dikelola PT MRT Jakarta (Perseroda) ini menargetkan integrasi penuh pada tahun 2027 melalui pembangunan jembatan pejalan kaki berbentuk cincin atau "Donut Ring" dan pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) yang lebih komprehensif.

Rencana integrasi ini didorong oleh mandat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan konektivitas antarmoda di salah satu kawasan transit tersibuk ibu kota. Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, menyatakan bahwa proyek "pedestrian deck" ini akan menyatukan empat kuadran di simpang Sudirman-Dukuh Atas yang saat ini belum terhubung langsung bagi pejalan kaki. Pembangunan jembatan melingkar selebar 12 meter, dengan 7 meter untuk jalur pejalan kaki dan 5 meter untuk fungsi komersial, dijadwalkan memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Mei atau Juni 2026.

Sejak diresmikan sebagai kawasan TOD pada tahun 2017, bersamaan dengan dimulainya pembangunan MRT Fase 1, Dukuh Atas telah berkembang pesat. Momentum krusial terjadi pada tahun 2023 dengan peresmian LRT Jabodebek yang menempatkan Dukuh Atas sebagai stasiun sentral. Meskipun Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) "Serambi Temu" Dukuh Atas telah beroperasi sejak 28 Agustus 2023, menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek dan Stasiun KRL Sudirman, serta Halte Transjakarta Dukuh Atas 2, akses antarmoda secara keseluruhan masih belum sepenuhnya mulus. Pejalan kaki masih harus keluar ke trotoar terbuka, rentan terhadap hujan atau terik matahari Jakarta.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Gubernur Jakarta Pramono Anung pada pertemuan September 2025 sepakat mempercepat pengembangan TOD Dukuh Atas. Integrasi penuh ini bertujuan agar warga dapat berpindah moda transportasi tanpa harus keluar gedung stasiun, menghubungkan LRT, MRT, KRL, dan Kereta Bandara dalam satu kawasan terpadu. PT MRT Jakarta ditugaskan sebagai pengelola kawasan berorientasi transit koridor utara-selatan jalur MRT Jakarta, sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 65 Tahun 2021.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Januari-Juni 2024, rata-rata harian penumpang LRT mencapai 93.000, KRL Commuter Line 26.000, dan MRT 7.000 orang, menyoroti urgensi peningkatan kenyamanan dan efisiensi transit. Hingga April 2025, jumlah penumpang MRT Jakarta mencapai 3.258.454 orang, LRT Jakarta 95.011 orang, dan Transjakarta 29.757.421 orang. Pada November 2025, BPS mencatat 4,06 juta penumpang MRT dan 3,07 juta penumpang LRT di Indonesia, meskipun terjadi penurunan bulanan.

Integrasi fisik di Dukuh Atas akan mencakup fasilitas pejalan kaki di sepanjang Jalan Blora, fasilitas sepeda, ruang hijau, ruang publik, dan titik berbagi sepeda. Gedung Transport Hub Dukuh Atas yang dibangun sejak 2022 dan selesai 2023, juga menjadi pusat interkoneksi dan aktivitas masyarakat dengan fungsi campuran ritel, perkantoran, hingga hotel. Proyek senilai Rp360,70 miliar ini diharapkan secara signifikan meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas komuter, mengubah Dukuh Atas menjadi distrik modern yang saling terhubung dan mendorong investasi swasta.

Meskipun progres telah dicapai, tantangan klasik dalam pengelolaan transportasi di wilayah aglomerasi masih ada, seperti banyaknya pemangku kepentingan yang berwenang, yang dapat menimbulkan sekat kebijakan dan layanan di lapangan. Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Polana B. Pramesti, pada tahun 2021 menekankan perlunya koordinasi untuk mensinergikan pengelolaan moda guna mewujudkan integrasi. Gubernur Pramono Anung juga menekankan pentingnya menghilangkan "ego sektoral" yang menghambat integrasi transportasi. Selain itu, kajian tahun 2023 menunjukkan bahwa meskipun fasilitas transportasi publik cukup baik, infrastruktur pejalan kaki, pengelolaan parkir, dan konektivitas pesepeda masih memerlukan perbaikan.

Pemerintah menargetkan penyelesaian penuh integrasi TOD Dukuh Atas pada tahun 2027, yang akan menandai tonggak penting dalam upaya Jakarta menuju sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan efisien, sejalan dengan visi menjadikan Jakarta sebagai kota global.