
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi memulai babak baru penataan Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Januari 2026, dengan membongkar 109 tiang monorel mangkrak yang selama dua dekade menjadi simbol kegagalan proyek infrastruktur. Langkah ini ditujukan untuk mengembalikan estetika kota, meningkatkan kenyamanan publik, dan mengurai kemacetan di salah satu koridor bisnis utama ibu kota. Pembongkaran tiang-tiang beton sepanjang 3,6 kilometer ini menandai komitmen serius Pemprov DKI Jakarta dalam merevitalisasi kawasan tersebut, dengan target penyelesaian penataan menyeluruh pada September 2026.
Proyek monorel Jakarta pertama kali digagas pada awal 2000-an oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, sebagai solusi ambisius untuk mengatasi kemacetan. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004, namun pembangunan terhenti pada 2007 akibat sengketa hukum dan masalah pendanaan. Setelah upaya revitalisasi pada 2013 juga gagal, tiang-tiang ini terbengkalai, menjadi "monumen kegagalan pembangunan" yang mengganggu pemandangan dan citra kota. Mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama bahkan sempat menyebutnya sebagai 'monumen penipuan'.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan ketidaknyamanannya terhadap keberadaan tiang-tiang tersebut sejak menjabat, yang disebutnya "gatal" untuk diselesaikan, dan pada Mei 2025 ia mengumumkan niat pembongkarannya. Proses pembongkaran fisik tiang-tiang ini diperkirakan menelan biaya Rp 254 juta. Namun, total anggaran yang digelontorkan dari APBD sebesar Rp 102 miliar dialokasikan tidak hanya untuk pembongkaran, melainkan untuk penataan kawasan secara menyeluruh. Penataan ini meliputi perbaikan badan jalan, saluran drainase, pelebaran trotoar yang ramah pejalan kaki dan disabilitas, peningkatan penerangan jalan umum, hingga perapian taman di sepanjang koridor Rasuna Said. Pekerjaan dilakukan pada malam hari, mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, untuk meminimalkan gangguan lalu lintas di siang hari.
Mantan Gubernur Sutiyoso, yang turut menyaksikan seremoni pembongkaran, mengungkapkan kelegaannya atas adanya kepastian terhadap proyek yang lama terbengkalai. "Jujur saja hari ini, hati saya tuh lega sekali," kata Sutiyoso, seraya berterima kasih kepada Gubernur Pramono Anung atas ketegasannya. Ia berharap penataan Jalan Rasuna Said dapat memperbaiki wajah kota dan tidak lagi menyisakan 'besi tua' di tengah jalan.
Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menilai pembongkaran tiang monorel ini sebagai simbol penghapusan kegagalan pembangunan dan komitmen untuk membersihkan Jakarta dari warisan masalah yang tidak tuntas. Tigor menekankan bahwa kawasan Kuningan adalah "wajah Jakarta di mata global," dan keberadaan tiang mangkrak berpotensi menimbulkan preseden buruk. Pembongkaran ini, menurutnya, memperbaiki citra Jakarta sebagai kota global yang serius menata wilayahnya. Warga yang kerap melintasi kawasan tersebut juga menyambut positif langkah ini, merasa estetika kota akan jauh lebih baik.
Penataan ulang Jalan Rasuna Said ini diharapkan mampu mengurai kemacetan, meningkatkan kenyamanan pejalan kaki, dan memperbaiki mobilitas di Jakarta. Pemprov DKI Jakarta juga telah berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memastikan proses pembongkaran berjalan transparan dan tanpa masalah hukum di kemudian hari, mengingat status kepemilikan tiang yang merupakan aset PT Adhi Karya. Pemprov juga berencana mengembalikan puing beton kepada pemilik aset awal. Transformasi ini menjadi indikator penting dalam upaya berkelanjutan Jakarta menata infrastruktur perkotaannya, mengubah warisan proyek mangkrak menjadi ruang publik yang fungsional dan estetis.