
Amerika Serikat telah mengkonfirmasi pembelian minyak mentah perdana dari Venezuela senilai US$500 juta, atau setara dengan sekitar Rp 8,43 triliun, sebuah langkah signifikan yang terjadi tak lama setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026. Pembelian awal ini merupakan bagian dari kesepakatan yang lebih besar senilai US$2 miliar, atau sekitar Rp 33,73 triliun, yang bertujuan untuk mengembalikan pasokan minyak Venezuela ke pasar global di bawah pengawasan Washington. Pendapatan dari penjualan minyak perdana ini akan disimpan di rekening bank yang dikendalikan oleh pemerintah AS, kemungkinan besar di Qatar, sebagai negara netral, untuk memastikan dana dapat berpindah dengan persetujuan AS dan tanpa risiko penyitaan.
Langkah ini mencerminkan perubahan drastis dalam hubungan antara kedua negara, yang selama bertahun-tahun diliputi oleh sanksi keras AS terhadap sektor minyak Venezuela. Sejak 2019, sanksi komprehensif telah diberlakukan pada perusahaan minyak nasional Venezuela, Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA), sangat membatasi aksesnya ke pasar keuangan Amerika dan secara efektif menghentikan sebagian besar perdagangan minyak antara kedua negara. Akibatnya, impor minyak mentah Venezuela ke AS, yang pernah menjadi salah satu pemasok terbesar, hampir nol pada tahun 2020 dan 2021. Produksi minyak Venezuela sendiri telah merosot tajam dari puncaknya 3,75 juta barel per hari pada tahun 1970 menjadi rata-rata 921.000 barel per hari pada tahun 2024, hanya menyumbang 0,8% dari produksi global, meskipun negara tersebut memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Keputusan AS untuk membeli minyak dari Venezuela terjadi dalam konteks upaya Washington untuk mengambil alih kendali atas penjualan minyak negara tersebut setelah penangkapan Maduro. Presiden Donald Trump telah mengumumkan kesepakatan dengan pemimpin sementara Venezuela untuk mengekspor 30-50 juta barel minyak mentah ke AS, dengan Trump menegaskan bahwa dana transaksi akan sepenuhnya dikendalikan olehnya sebagai Presiden AS. Menteri Energi AS Chris Wright telah ditugaskan untuk menyelesaikan kesepakatan ini, dan ia mencatat bahwa harga minyak mentah Venezuela yang dijual di bawah program yang difasilitasi AS ini memperoleh harga 30% lebih tinggi dibandingkan sebelum penangkapan Maduro.
Meskipun potensi pemulihan pasokan minyak Venezuela disambut baik oleh kilang-kilang AS yang dirancang untuk mengolah minyak mentah berat, para ahli memperingatkan bahwa pemulihan signifikan akan membutuhkan waktu dan investasi besar. CEO ExxonMobil, Darren Woods, bahkan menyatakan bahwa Venezuela saat ini "tidak dapat diinvestasikan" karena kurangnya kerangka hukum dan komersial yang stabil. Perkiraan industri menunjukkan bahwa untuk mengembalikan kapasitas produksi Venezuela ke 1,5-2 juta barel per hari dalam 5-7 tahun, akan dibutuhkan investasi modal sebesar US$15-25 miliar. Selanjutnya, untuk kembali ke tingkat produksi puncak, investasi miliaran dolar dan puluhan tahun kerja mungkin diperlukan.
Implikasi geopolitik dari kesepakatan ini juga signifikan. Ini menandai perubahan dalam strategi AS dari sanksi ekonomi ke tindakan yang lebih langsung dalam mengelola sektor energi Venezuela. Perjanjian ini berpotensi mengalihkan pasokan minyak dari Tiongkok, yang sebelumnya merupakan pembeli terbesar minyak Venezuela, dan dapat meningkatkan pengaruh AS di Amerika Latin. Namun, keraguan tetap ada mengenai bagaimana pendapatan ini akan digunakan dan apakah skema yang dikendalikan AS ini pada akhirnya akan menguntungkan rakyat Venezuela, mengingat sejarah panjang gejolak politik dan ekonomi di negara tersebut.
Produksi minyak Venezuela telah menunjukkan tren kenaikan selama empat tahun terakhir, mencapai 893.470 barel per hari pada tahun 2024, naik 11,61% dari tahun 2023. Pada Juni 2024, produksi minyak mentah Venezuela bahkan mencapai rekor tertinggi tahunan dengan 922.000 barel per hari. Pada tahun 2023, AS mengimpor sekitar 30 juta barel minyak dari Venezuela senilai sekitar US$3,45 miliar, rata-rata sekitar 85.000 barel per hari, setelah sanksi terbatas memungkinkan Chevron untuk melanjutkan impor. Namun, pada tahun 2024, impor AS dari Venezuela hanya menyumbang sekitar 2,75% dari total impor minyak mentah AS, jauh di bawah porsi 8% sebelum sanksi 2019. Potensi peningkatan pasokan minyak Venezuela, meskipun bertahap, dapat memberikan tekanan terbatas pada harga global dan mempengaruhi dinamika pasar minyak mentah berat.