Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tekanan Harga Bitcoin: Pasar Cermati Bayang-bayang Perang Dagang

2026-01-20 | 22:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T15:34:15Z
Ruang Iklan

Tekanan Harga Bitcoin: Pasar Cermati Bayang-bayang Perang Dagang

Harga Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, kembali mengalami tekanan signifikan, diperdagangkan di sekitar level 92.000 dolar Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari 2026, setelah sempat merosot di bawah 92.000 dolar AS dalam perdagangan intraday. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap potensi eskalasi perang dagang antara AS dan Uni Eropa (UE) yang dipicu oleh kebijakan tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump, memicu lonjakan harga emas sebagai aset lindung nilai tradisional dan gelombang likuidasi masif di pasar kripto.

Ketegangan perdagangan transatlantik ini kembali memanas setelah Presiden Trump pada Sabtu, 17 Januari, mengumumkan rencana pemberlakuan tarif impor sebesar 10% terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa—Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia—mulai 1 Februari 2026. Ancaman tarif ini didasari oleh penolakan negara-negara tersebut terhadap rencana AS untuk mengakuisisi Greenland, dengan kebijakan yang dijuluki "Pajak Greenland". Trump menegaskan, tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25% mulai 1 Juni 2026, jika tidak ada kesepakatan terkait isu Greenland. Uni Eropa merespons dengan keras, mengadakan pertemuan darurat dan dilaporkan tengah menyiapkan paket balasan berupa tarif hingga 93 miliar Euro, serta opsi pembatasan akses perusahaan AS ke pasar Eropa.

Dampak langsung kebijakan ini terasa di seluruh spektrum pasar keuangan. Emas, secara konsisten berperan sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian, melonjak mencapai rekor tertinggi baru di sekitar 4.690 dolar AS per ons troi, dengan perak juga mencatat kenaikan signifikan. Sebaliknya, pasar saham global dibuka melemah, dan pasar kripto terpukul dengan Bitcoin yang justru tertekan. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun sekitar 2,8% menjadi 3,22 triliun dolar AS. Data menunjukkan lebih dari 864 juta dolar AS posisi kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, mayoritas berasal dari posisi long (beli) yang bertaruh pada kenaikan harga. Altcoin utama seperti Ethereum, BNB, XRP, dan Solana juga mengalami koreksi signifikan, dengan Solana mencatat penurunan 6%.

Analis menilai pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan posisinya sebagai aset berisiko (risk-on) di mata investor institusional, berbeda dengan narasi "emas digital" sebagai pelindung nilai. Richard Galvin, salah satu pendiri hedge fund DACM, menyatakan, "Lonjakan harga emas hingga mencapai titik tertinggi sepanjang masa mengonfirmasi bahwa aksi jual ini adalah pergerakan risk-off (menghindari risiko) secara umum, bukan karena masalah spesifik pada sektor kripto." Richard juga menambahkan bahwa penguatan Bitcoin sebelumnya merupakan pemulihan dari level jenuh jual. Panji Yudha, Financial Expert Ajaib, menuturkan bahwa pasar kripto mengalami tekanan karena gejolak sentimen global. Ia mengamati bahwa "pasar saat ini cenderung waspada menantikan perkembangan retorika perang dagang yang diperkirakan akan menjadi topik hangat dalam forum Davos pekan ini."

Secara historis, Bitcoin belum sepenuhnya terbukti sebagai aset lindung nilai dalam fase awal krisis geopolitik atau ketidakpastian ekonomi. Dalam banyak kasus konflik bersenjata seperti invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan eskalasi konflik Iran-Israel pada 2024, Bitcoin justru mengalami koreksi drastis dalam waktu 24 jam setelah dimulainya serangan militer, seiring investor beralih ke aset konvensional yang lebih stabil. Peran Bitcoin sebagai lindung nilai biasanya baru diuji dalam konflik berkepanjangan yang memicu pembatasan arus modal atau tekanan mata uang, bukan pada guncangan awal.

Implikasi ke depan dari perang dagang ini diproyeksikan akan menekan pertumbuhan ekonomi global secara signifikan. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah memangkas proyeksi pertumbuhan volume perdagangan barang global untuk 2026 menjadi hanya 0,5%, jauh di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 1,8%, sebagai dampak tertunda dari kebijakan tarif Trump. Perang dagang menciptakan inefisiensi, meningkatkan biaya produksi, dan berpotensi memicu inflasi, yang pada gilirannya dapat membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Muhammad Syarkawi Rauf, Ekonom Universitas Hasanuddin, menyebutkan bahwa kebijakan tarif AS mendorong ekonomi global memasuki fase proteksionisme baru, yang berpotensi memfragmentasi arus perdagangan dan aliran modal. Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pekan ini diharapkan akan menjadi panggung utama untuk membahas perkembangan retorika perang dagang ini. Kelanjutan eskalasi perang dagang berpotensi mempertahankan sentimen risk-off di pasar global, yang akan terus membebani aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin, sementara aset tradisional seperti emas mungkin terus menarik modal.