
Anak usaha PT Pelni, PT PBM Sarana Bandar Nasional atau Pelni Logistics, akan menjalin kerja sama dengan PT Pos Logistics Parcel, entitas di bawah PT Pos Logistik Indonesia, untuk memperkuat pengiriman paket antarpulau di seluruh Indonesia. Kolaborasi strategis ini menandai upaya berkelanjutan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mengatasi tantangan logistik di negara kepulauan terbesar di dunia, khususnya dalam menekan biaya dan meningkatkan efisiensi distribusi barang, seiring dengan lonjakan aktivitas e-commerce.
Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau, menghadapi kompleksitas geografis yang signifikan dalam distribusi barang, yang kerap menyebabkan biaya logistik tinggi, infrastruktur tidak merata, dan birokrasi yang memakan waktu. Biaya logistik nasional saat ini masih mencapai 14,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan bahkan bisa mencapai 23 persen jika mencakup biaya logistik ekspor, jauh di atas rata-rata negara-negara Asia Tenggara yang berkisar antara 8-10 persen dari PDB. Kondisi infrastruktur pelabuhan di banyak daerah juga masih belum memadai, dengan banyak pelabuhan pengumpul dan pengumpan memiliki dermaga yang rusak, gudang terbatas, serta fasilitas bongkar muat yang sempit.
Di sisi lain, sektor e-commerce Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang eksplosif. Pasar e-commerce diproyeksikan mencapai 95 miliar dolar AS pada tahun 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sekitar 17 persen sejak 2022. Bahkan, beberapa laporan memprediksi pertumbuhan e-commerce Indonesia mencapai 30,5 persen pada tahun 2024, menjadikannya salah satu yang tertinggi secara global. Pertumbuhan ini secara langsung mendorong permintaan akan layanan logistik yang cepat, andal, dan terjangkau di seluruh pelosok negeri.
Kerja sama antara Pelni Logistics, yang fokus pada konektivitas maritim, dan Pos Logistics Parcel, yang memiliki jaringan darat luas, bukanlah hal baru bagi induk perusahaan mereka. PT Pelni dan PT Pos Indonesia telah menjalin kolaborasi "Kirimanpos Laut" sejak tahun 2014, yang berhasil mengangkut 6,4 juta ton/m3 muatan pos laut hingga tahun 2021. Sinergi terbaru di tingkat anak usaha ini memperdalam integrasi, memanfaatkan kekuatan masing-masing perusahaan. Pelni Logistics, sebagai anak perusahaan PT Pelni, memiliki visi untuk menjadi perusahaan logistik total yang beroperasi sejak tahun 1986. Sementara itu, PT Pos Logistik Indonesia, anak perusahaan PT Pos Indonesia (Persero) yang berdiri sejak 2012, didukung oleh jaringan Pos Indonesia Group dengan 4.367 jaringan kantor cabang dan 33.000 titik penjualan di seluruh Indonesia, memungkinkan jangkauan hingga ke daerah terpencil.
Direktur Utama Pelni Logistics, Sukendra, menyatakan bahwa perusahaannya menargetkan pendapatan usaha sebesar Rp568,44 miliar pada tahun 2026. Target ini akan didukung oleh akselerasi kinerja bongkar muat peti kemas mencapai 56.482 TEUs (Twenty-foot Equivalent Units), volume general kargo lebih dari 427.000 ton/meter kubik, angkutan kendaraan 14.464 unit, dan angkutan ternak 13.207 ternak. Ia menegaskan bahwa target tersebut sejalan dengan strategi perusahaan untuk memperkuat peran sebagai pilar konektivitas logistik maritim nasional, khususnya dalam mendukung distribusi barang antarpulau dan pemerataan ekonomi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Kolaborasi dengan Pos Logistics Parcel diharapkan dapat mengoptimalkan kapasitas kapal Pelni untuk angkutan barang, yang mencakup layanan tol laut dan kapal penumpang, serta memanfaatkan jaringan distribusi Pos Indonesia untuk pengiriman "last-mile" yang efektif.
Integrasi layanan ini diharapkan dapat menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dari hulu ke hilir, mulai dari transportasi laut hingga pengiriman darat ke tangan konsumen. Efisiensi ini krusial untuk menurunkan biaya logistik yang selama ini menjadi beban bagi pelaku usaha dan konsumen, serta mendorong daya saing produk domestik. Sinergi ini juga berpotensi meningkatkan konektivitas ekonomi antara wilayah barat dan timur Indonesia, mengurangi disparitas harga barang, dan mendukung program pemerintah dalam pemerataan pembangunan. Namun demikian, keberhasilan kolaborasi ini akan sangat bergantung pada harmonisasi operasional, integrasi sistem informasi, dan penyelesaian hambatan regulasi yang masih sering ditemui dalam sektor logistik.