:strip_icc()/kly-media-production/medias/3046088/original/077180100_1581323846-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-5.jpg)
Mayoritas bursa saham Asia mengakhiri perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja yang lesu, mencerminkan kombinasi aksi ambil untung investor, kekhawatiran geopolitik yang meningkat, dan evaluasi ulang prospek ekonomi global. Pada Rabu (31/12), indeks utama di berbagai pasar regional, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia, kompak ditutup melemah, sementara bursa di Hong Kong dan Tiongkok menunjukkan pergerakan yang beragam. Kondisi ini terjadi di tengah jadwal perdagangan yang diperpendek akibat periode liburan akhir tahun, dengan beberapa bursa seperti Jepang dan Korea Selatan telah ditutup penuh pada hari tersebut.
Sentimen lesu ini kontras dengan kinerja impresif yang dicatatkan Indeks MSCI Asia Pasifik (di luar Jepang) secara tahunan, yang berhasil mencatat kenaikan signifikan 26,7%, terbaik sejak 2017. Namun, kenaikan tahunan tersebut lebih merupakan akumulasi sepanjang tahun dibandingkan momentum harian yang kuat di penghujung tahun. Indeks Nikkei 225 Jepang dan Topix sama-sama turun setelah aksi profit taking yang cukup dalam menyusul reli panjang, sementara bursa Korea Selatan, Taiwan, dan Australia juga bergerak melemah. Di sisi lain, Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi pengecualian positif dengan kenaikan hampir 1%, didukung oleh aliran dana ke pasar yang dianggap relatif lebih murah dan likuid.
Ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor penekan utama. Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan serangan lanjutan ke Iran, ditambah dengan latihan tembak langsung Tiongkok di sekitar Taiwan, telah menambah lapisan risiko geopolitik yang memicu volatilitas harga di saham maupun komoditas. Analis IG di Sydney, Tony Sycamore, menyebut lonjakan harga perak yang terjadi di awal pekan lalu, sebelum terkoreksi tajam, sebagai "gelembung generasi" yang dipicu aksi stop loss, panic buying, serta kenaikan margin perdagangan di Chicago Mercantile Exchange. Harga perak sempat melonjak menembus $75 per ons, bahkan mencapai rekor tertinggi di atas $80 per ons, didorong oleh permintaan spekulatif dan pasokan yang ketat.
Di tengah kondisi ini, investor juga mencermati prospek ekonomi makro. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya pada Oktober 2025 menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia untuk tahun 2025 menjadi 4,5%, naik 0,6 poin persentase dari estimasi April lalu, meskipun sedikit melambat dari 4,6% pada 2024. Namun, IMF juga memperingatkan potensi dampak besar dari ketegangan perdagangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang dapat menjadi pukulan berat bagi kawasan yang sangat bergantung pada rantai pasok global. Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menyoroti risiko terhadap prospek Asia termasuk kelemahan permintaan domestik Tiongkok dan tanda-tanda pelemahan permintaan global, termasuk dari Amerika Serikat, yang akan berdampak negatif bagi kawasan yang berorientasi ekspor.
Kebijakan moneter bank sentral di Asia juga menjadi sorotan. Bank Indonesia (BI) diprediksi menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa tingginya minat asing untuk berinvestasi di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan yield yang menarik, serta upaya stabilisasi nilai tukar, menjadi alasan utama penahanan suku bunga tersebut. Sepanjang 2025, BI telah memangkas BI Rate sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin, dari 6% menjadi 4,75%. Namun, transmisi kebijakan tersebut ke sektor perbankan dinilai belum optimal, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hanya mencapai 7,74% per November 2025.
Meskipun demikian, ada beberapa titik terang. Ekonomi Asia-Pasifik pada 2025 masih diproyeksikan tumbuh jauh melampaui rata-rata global dan tetap menjadi pendorong utama ekonomi dunia. Pertumbuhan mencolok pasar saham di Korea Selatan dan Taiwan didorong oleh derasnya arus modal ke rantai pasok kecerdasan buatan (AI). Pasar Asia Tenggara seperti Singapura dan Indonesia juga menunjukkan kinerja cemerlang, dengan Indeks Straits Times (STI) Singapura mencetak rekor tertinggi baru dan IHSG mencatat kenaikan impresif, bahkan melampaui indeks teknologi Nasdaq 100 Amerika Serikat. Namun, volatilitas akhir tahun akibat penipisan likuiditas dan aksi reposisi portofolio oleh investor institusi setelah penutupan buku tahunan tetap menjadi tantangan, yang berpotensi memicu distorsi harga akibat aksi spekulatif jangka pendek.