
Pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan senilai sekitar Rp123 triliun telah rampung dan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 12 Januari 2026, memicu geliat ekonomi signifikan di Kalimantan Timur melalui penyerapan puluhan ribu tenaga kerja dan lonjakan aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Investasi strategis ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menciptakan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat Balikpapan dan sekitarnya.
Selama masa puncak konstruksi, proyek RDMP Balikpapan menyerap hingga 24.000 tenaga kerja, dengan 44 persen di antaranya merupakan warga lokal. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan bahwa penyerapan tenaga kerja ini juga didukung oleh Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencapai 30-35 persen. Namun, seiring rampungnya fase konstruksi, jumlah pekerja lapangan mulai berkurang. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Balikpapan mencatat penurunan drastis dari sekitar 40.000 menjadi 15.000 pekerja per Agustus 2025, mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan strategi transisi bagi pekerja terdampak. Meski demikian, untuk fase operasional, Kilang Balikpapan diproyeksikan akan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja permanen dan menargetkan penyerapan tambahan 600 pekerja operasi.
Dampak ekonomi meluas hingga ke sektor UMKM di Balikpapan, yang merasakan lonjakan permintaan seiring kehadiran ribuan pekerja proyek. Vice President Legal & Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan (PT KPB), Asep Sulaeman, menjelaskan bahwa aktivitas berantai ini terlihat dari peningkatan belanja kebutuhan sehari-hari, penggunaan transportasi, layanan makan-minum, hingga akomodasi. Pemilik warung makan lokal seperti Ibu Tuti dan Yanti, misalnya, melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah pelanggan yang didominasi oleh pekerja proyek, membantu perputaran ekonomi harian mereka. Sektor transportasi juga turut diuntungkan, dengan angkot-angkot yang sebelumnya sepi penumpang kini berfungsi ganda sebagai layanan antar-jemput karyawan proyek. Selain itu, keterlibatan vendor lokal dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, logistik, dan konsumsi turut berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan Timur. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, mengapresiasi sinergi antara Pemerintah Kota dan Pertamina, menyatakan bahwa proyek ini meningkatkan potensi pendapatan daerah dan memperkuat perekonomian kota.
Proyek RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), anak perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dengan total investasi sekitar US$7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Tujuan utama proyek ini adalah meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph, menjadikannya kilang terbesar di Indonesia. Peningkatan kapasitas ini memungkinkan produksi bensin mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun, diesel 1,8 juta kiloliter per tahun, dan avtur 640 ribu kiloliter per tahun, serta produk petrokimia bernilai tinggi seperti propilena dan etilena. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menekankan bahwa RDMP bukan sekadar penambahan kapasitas, melainkan perubahan mendasar pada sistem dan alur kerja kilang, menjadikannya lebih efisien dan mampu mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Secara makroekonomi, keberadaan RDMP Balikpapan diperkirakan akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp514 triliun per tahun dan menghemat devisa negara hingga Rp68 triliun per tahun dari penurunan impor BBM dan LPG. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pengoperasian kilang ini akan menghasilkan bahan bakar berkualitas standar Euro 5 yang lebih bersih dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung upaya transisi menuju energi bersih. Proyek ini juga selaras dengan Asta Cita pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi dan hilirisasi industri.
Meskipun dampak positifnya besar, tantangan bagi UMKM lokal tetap ada. Noval dari Kadin Balikpapan menekankan pentingnya UMKM untuk memahami standar produk, legalitas usaha, dan strategi pemasaran modern agar tidak kalah bersaing di tengah peluang yang luas, terutama sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat PDRB per kapita Balikpapan pada 2024 mencapai Rp214,11 juta, naik 6,22 persen dari tahun sebelumnya, serta peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 7,08 persen dari 2023 ke 2024, mengindikasikan kuatnya aktivitas industri selama masa konstruksi RDMP. Ke depan, keberlanjutan dampak positif proyek ini akan sangat bergantung pada adaptasi dan inovasi UMKM, serta dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan Pertamina dalam program pemberdayaan dan kemitraan pasca-konstruksi.