Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rusia-Ukraina: Dalang Anjloknya Harga Minyak Mentah RI

2026-01-15 | 19:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T12:15:57Z
Ruang Iklan

Rusia-Ukraina: Dalang Anjloknya Harga Minyak Mentah RI

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Desember 2025 tercatat sebesar 61,10 dolar AS per barel, menurun 1,73 dolar AS dari ICP November 2025 yang berada di level 62,83 dolar AS per barel. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar akan "super glut" atau kelebihan pasokan minyak dunia, tingginya produksi Amerika Serikat, peningkatan produksi OPEC+, serta proyeksi surplus oleh Badan Energi Internasional (IEA) di tahun 2026. Namun, di balik dinamika pasokan global tersebut, risiko geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang berpotensi mereda juga turut menjadi faktor pendorong penurunan ICP.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaiman, menyatakan bahwa potensi meredanya risiko geopolitik Rusia-Ukraina, terutama setelah adanya penawaran pembatalan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO, telah berkontribusi pada penurunan ICP. Selain itu, proyeksi kenaikan produksi minyak Rusia menjadi 10,36 juta barel per hari (bph) pada tahun 2025 dan 10,54 juta bph pada tahun 2026 juga menambah tekanan pada harga minyak global, yang kemudian berimbas pada ICP.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, pasar energi global mengalami gejolak signifikan. Awalnya, konflik memicu lonjakan harga minyak Brent hingga menembus 105 dolar AS per barel, didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Rusia sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Namun, seiring berjalannya waktu, pasar mulai beradaptasi dengan realitas sanksi Barat terhadap Rusia. Rusia berhasil mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke negara-negara "ramah" seperti China dan India, meskipun dengan diskon tertentu. Pada tahun 2024, produksi minyak dan kondensat gas Rusia mencapai 10,32 juta bph, turun 2,8% dibandingkan 2023, namun ekspor minyaknya meningkat.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa meskipun sanksi Barat terus berupaya menekan pendapatan minyak Rusia, pasokan energi Rusia ke pasar global tidak terganggu secara signifikan karena kemampuannya mengalihkan ekspor, terutama ke pasar Asia. Pada Desember 2024, pendapatan Rusia dari ekspor bahan bakar fosil mengalami penurunan 5% secara tahunan, namun pendapatan dari ekspor minyak mentah justru naik 6% meskipun volume ekspor turun 2%, mengindikasikan harga minyak Rusia yang kembali naik. Sementara itu, pada awal 2024, serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia sempat menyebabkan kenaikan ICP Maret 2024 menjadi 83,79 dolar AS per barel, memunculkan potensi pengetatan pasokan. Namun, efeknya cenderung temporer dibandingkan dampak fundamental dari dinamika penawaran dan permintaan global serta kebijakan OPEC+.

Keputusan OPEC+ juga memegang peranan krusial. Kelompok ini telah sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi hingga Kuartal II 2024 dan pada Juni 2024 bahkan mengumumkan rencana untuk secara bertahap memulihkan pasokan 2,17 juta barel per hari mulai Oktober, sebuah langkah yang menimbulkan kekhawatiran para pedagang kargo fisik karena kurangnya bukti perbaikan pasar yang memadai. Produksi OPEC+ pada November 2025 juga dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan November 2024, turut menekan ICP Desember 2025.

Implikasi bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak adalah sensitivitas yang tinggi terhadap fluktuasi harga global. Penurunan ICP pada Desember 2025 menjadi 61,10 dolar AS per barel dapat memberikan sedikit kelonggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang selama ini menanggung beban subsidi energi. Pada tahun 2024, pemerintah mengalokasikan target subsidi energi sebesar Rp186,9 triliun, dengan Rp113,3 triliun di antaranya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquified Petroleum Gas (LPG), serta Rp73,6 triliun untuk listrik. Setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS per barel diproyeksikan dapat meningkatkan defisit APBN sebesar Rp6,5 triliun karena peningkatan kebutuhan subsidi dan kompensasi BBM. Sebaliknya, penurunan harga dapat mengurangi tekanan pada pos belanja ini.

Meskipun demikian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek karena pengaruh geopolitik Rusia-Ukraina dan potensi sanksi baru dari Amerika Serikat. IEA memproyeksikan pasar global tetap surplus pada tahun 2025 karena pertumbuhan pasokan yang lebih tinggi dari permintaan, dengan pasokan non-OPEC+ yang kuat dan rencana OPEC+ untuk menghentikan pemangkasan dapat meredam kenaikan harga. Proyeksi harga Brent rata-rata 74,35 dolar AS per barel dalam 12 bulan ke depan menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, harga masih akan berada di level yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah Indonesia dalam mengelola kebijakan subsidi dan harga energi domestik.