Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rosan Yakinkan Investor: Rupiah Melemah Tetap di Level Menguntungkan

2026-01-15 | 19:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T12:01:53Z
Ruang Iklan

Rosan Yakinkan Investor: Rupiah Melemah Tetap di Level Menguntungkan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan tekanan signifikan pada pertengahan Januari 2026, memicu perdebatan mengenai stabilitas ekonomi. Di tengah gejolak tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani pada 15 Januari 2026 menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih berada dalam kisaran yang wajar dan dapat diterima oleh investor, sebuah pandangan yang menyoroti persepsi risiko pasar terhadap aset Indonesia.

Pada Kamis, 15 Januari 2026, rupiah diperdagangkan di rentang Rp16.851 hingga Rp16.878 per dolar AS di pasar spot, bahkan sempat menyentuh Rp16.901 per dolar AS. Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup pada level Rp16.871 per dolar AS pada hari yang sama, setelah sebelumnya sempat berada di Rp16.880 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan depresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date per 13 Januari 2026. Beberapa analis bahkan memproyeksikan rupiah dapat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rosan Roeslani menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah sudah menjadi perhitungan awal bagi para investor sebelum menanamkan modal di Indonesia, sehingga pergerakan saat ini dianggap masih dalam "range yang sangat acceptable" bagi mereka. Pernyataan ini didukung oleh data realisasi investasi pada kuartal I-2025 yang mencapai Rp465,2 triliun, atau 24,4 persen dari target tahun 2025, dengan investasi asing mencapai Rp230,4 triliun atau 49,5 persen dari total tersebut. Tingginya realisasi investasi ini, menurut Rosan, menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah saat ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Secara eksternal, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih menjadi pemicu utama, didukung oleh sinyal hawkish dari beberapa pejabat The Fed. Eskalasi tensi geopolitik global di berbagai wilayah turut memperkuat tekanan pasar keuangan dunia, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di beberapa negara maju dan potensi kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat juga menambah tekanan. Dari sisi domestik, peningkatan kebutuhan valuta asing pada awal tahun dan aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik turut menekan pergerakan rupiah. Kekhawatiran mengenai defisit anggaran yang berpotensi melampaui batas 3 persen juga memberikan sentimen negatif.

Bank Indonesia secara konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Otoritas moneter telah melakukan intervensi berkelanjutan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya, seperti won Korea yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina yang turun 1,04 persen.

Meskipun tekanan eksternal meningkat, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap baik. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, melampaui standar kecukupan internasional tiga bulan impor. Aliran masuk modal asing yang terus berlanjut, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang mencapai neto Rp11,11 triliun pada Januari 2026, juga mendukung stabilitas rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan kembali menguat dalam dua minggu ke depan dan menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen.

Implikasi pelemahan rupiah ini bervariasi bagi pelaku bisnis dan investor. Sektor yang sangat bergantung pada impor, seperti elektronik, otomotif, dan farmasi, akan menghadapi tekanan margin akibat biaya bahan baku yang lebih mahal. Sebaliknya, perusahaan berorientasi ekspor atau berbasis komoditas dapat diuntungkan oleh pendapatan dalam mata uang asing. Bagi rumah tangga, biaya untuk liburan ke luar negeri, pendidikan di luar negeri, serta pembelian barang impor akan meningkat. Dalam situasi ini, investasi dalam bentuk dolar AS, emas, dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dapat menjadi pilihan strategis untuk mengamankan nilai aset. Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-pasar guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sembari mencapai sasaran inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.