Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

RKAB 2026 Disetujui, INCO Mantap Lanjutkan Ekspansi dan Produksi

2026-01-17 | 05:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T22:42:16Z
Ruang Iklan

RKAB 2026 Disetujui, INCO Mantap Lanjutkan Ekspansi dan Produksi

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) secara resmi melanjutkan seluruh operasional dan investasi strategisnya di Sulawesi setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan untuk tahun 2026 pada Kamis, 15 Januari 2026. Keputusan ini mengakhiri periode ketidakpastian yang sempat menghentikan sementara kegiatan pertambangan dan konstruksi perusahaan di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi sejak awal tahun ini, menegaskan kembali peran PT Vale dalam ekosistem nikel nasional dan rantai pasok global.

Persetujuan RKAB 2026 menandai implementasi kebijakan pemerintah yang kembali menerapkan mekanisme persetujuan RKAB tahunan, menggantikan skema tiga tahunan sebelumnya yang terintegrasi dengan perizinan dasar lainnya. Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyambut baik kepastian regulasi ini. "Dengan dasar perizinan yang lengkap, seluruh kegiatan kami kini berjalan kembali secara normal, patuh, dan berkelanjutan," ujar Bernardus. Ia menambahkan bahwa persetujuan ini merupakan fondasi penting untuk menjaga disiplin produksi dan tata kelola yang baik dalam keberlanjutan industri nikel nasional.

PT Vale kini memfokuskan upaya untuk mengoptimalkan kembali kegiatan operasional dan konstruksi di tiga wilayah tersebut, dengan prioritas utama pada aspek keselamatan, guna mengejar ketertinggalan produksi yang terjadi akibat penghentian sementara. Perusahaan berkomitmen untuk melanjutkan rencana operasional dan produksi sesuai persetujuan yang diberikan, sekaligus memastikan kesinambungan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dan pemurnian nikel di dalam negeri.

Investasi PT Vale juga akan berlanjut pada pengembangan hilirisasi nikel dan rantai nilai kendaraan listrik (EV), termasuk proyek High Pressure Acid Leach (HPAL). Dua fasilitas smelter HPAL milik Vale di Sulawesi Tengah dan Tenggara ditargetkan beroperasi pada 2026, sementara satu proyek lainnya di Sulawesi Selatan diharapkan rampung pada 2027. Proyek-proyek ini merepresentasikan total investasi mencapai sekitar 8,5 miliar dolar AS atau setara Rp 146,52 triliun, bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri nikel Indonesia di pasar global.

Di tengah persetujuan RKAB ini, pasar nikel global menunjukkan volatilitas. Harga nikel berjangka di London Metal Exchange (LME) diperdagangkan sekitar 18.300 dolar AS per ton pada 15 Januari 2026, setelah sempat mencapai level tertinggi 19 bulan di sekitar 18.700 dolar AS per ton pada 14 Januari 2026. Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pasokan bijih nikel yang ketat dari Indonesia, seiring rencana pemerintah untuk memangkas kuota bijih nikel 2026 menjadi 250-260 juta ton, jauh di bawah target 2025 sebesar 379 juta ton. Kebijakan ini bertujuan menopang harga komoditas dan mendukung hilirisasi industri.

Dari sisi pasar modal, saham INCO menunjukkan pergerakan campuran. Pada sesi I perdagangan 15 Januari 2026, saham INCO terpantau melemah 1,17 persen atau 75 poin ke level 6.325. Namun, dalam periode satu bulan terakhir, saham INCO mencatatkan kenaikan signifikan 64,71 persen, bergerak dari sekitar 3.830 ke kisaran 6.950, dengan indikasi jenuh beli berdasarkan Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 73,24. Analis sebelumnya merekomendasikan untuk menghindari saham INCO akibat ketidakpastian regulasi terkait perubahan RKAB menjadi tahunan, namun persetujuan ini diharapkan membawa kepastian bagi investor.

Keberlanjutan operasional PT Vale, yang telah berkontribusi lebih dari lima dekade di Indonesia, memiliki dampak ekonomi yang luas melalui penerimaan negara dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta investasi jangka panjang dalam hilirisasi dan rantai nilai kendaraan listrik. PT Vale menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun industri nikel nasional yang bertanggung jawab, berdaya saing, dan berkelanjutan, dengan mengedepankan prinsip kepatuhan, transparansi, serta tata kelola perusahaan yang baik. Ini termasuk investasi pada teknologi rendah emisi dan pengembangan kapasitas pengolahan lanjutan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain strategis dalam rantai pasok nikel global.