
Kanada pada Jumat (16/1/2026) secara resmi mengumumkan kesepakatan dagang baru dengan China yang memungkinkan impor hingga 49.000 kendaraan listrik (EV) buatan China setiap tahun dengan tarif bea masuk yang dipangkas tajam menjadi 6,1 persen, memicu peringatan keras dari Amerika Serikat mengenai potensi penyesalan di masa depan. Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dalam kunjungan perdananya ke Beijing sejak 2017, menandatangani kesepakatan tersebut, yang secara signifikan mengurangi tarif 100 persen yang diberlakukan pemerintah Kanada sebelumnya pada akhir 2024. Sebagai imbalannya, China setuju untuk menurunkan tarif impor biji kanola Kanada dari 84 persen menjadi sekitar 15 persen, serta menangguhkan tarif "anti-diskriminasi" pada produk pertanian Kanada lainnya seperti tepung kanola, lobster, kepiting, dan kacang polong hingga setidaknya akhir 2026.
Langkah Kanada ini segera menuai kecaman dari para pejabat AS. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut keputusan Kanada "bermasalah" dan menyatakan bahwa ada alasan mengapa Amerika Serikat tidak menjual banyak mobil China di pasarnya, yaitu untuk melindungi pekerja otomotif Amerika. Menteri Transportasi AS Sean Duffy secara blak-blakan memperingatkan, "Saya pikir mereka akan melihat kembali keputusan ini dan pasti menyesal telah membawa mobil-mobil China ke pasar mereka." Kekhawatiran Washington berpusat pada potensi keputusan Kanada ini untuk memberikan pijakan yang lebih luas bagi China di Amerika Utara, terutama saat AS sendiri semakin memperketat kebijakannya terhadap kendaraan dan suku cadang China. Namun, Presiden Donald Trump justru menyuarakan dukungan, menyebut kesepakatan tersebut "hal yang baik" bagi Kanada.
Latar belakang kesepakatan ini melibatkan ketegangan perdagangan yang meningkat. Pada Oktober 2024, pemerintahan Perdana Menteri Justin Trudeau memberlakukan tarif 100 persen untuk EV China, sejalan dengan langkah serupa yang diambil oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk membendung dominasi industri EV China yang berkembang pesat. China membalas dengan tarif tinggi pada produk pertanian Kanada, merugikan eksportir kanola Kanada.
Bagi Ottawa, kesepakatan ini merupakan bagian dari "kemitraan strategis baru" dengan China, yang bertujuan memperkuat kerja sama teknologi bersih, mempercepat investasi rantai pasokan EV, dan memperluas manufaktur domestik. Perdana Menteri Carney berharap kesepakatan ini akan "mengkatalisasi investasi usaha patungan China yang signifikan di Kanada" dalam waktu tiga tahun, dengan fokus pada manufaktur EV dan rantai pasokannya. Pemerintah Kanada juga menyatakan bahwa masuknya EV China yang lebih terjangkau, dengan target lebih dari setengah impor akan berharga di bawah $35.000 dalam lima tahun, akan mengatasi masalah keterjangkauan dan meningkatkan tingkat adopsi EV, yang sempat menurun di Kanada pada tahun 2025.
Namun, reaksi di Kanada terpecah. Premier Ontario Doug Ford mengkritik keras kesepakatan tersebut, menyebutnya "tidak seimbang" dan memperingatkan bahwa langkah ini memberikan "pijakan di pasar Kanada" bagi Beijing, yang berisiko merugikan industri otomotif provinsi tersebut dan berpotensi menutup akses produsen mobil Kanada ke pasar AS. Lana Payne, presiden nasional Unifor, serikat pekerja terbesar di Kanada, menyebutnya sebagai "luka yang ditimbulkan sendiri" bagi industri otomotif Kanada yang sudah berjuang. Payne menekankan bahwa "menyediakan pijakan bagi EV China yang murah, didukung oleh subsidi negara besar, produksi berlebih, dan dirancang untuk memperluas pangsa pasar melalui ekspor, menempatkan pekerjaan otomotif Kanada dalam risiko". David Adams, presiden Global Automakers of Canada, menyatakan ketidaktahuannya mengenai rincian kesepakatan, termasuk bagaimana kuota 49.000 kendaraan akan dialokasikan, dan menyerukan strategi otomotif yang komprehensif dari pemerintah federal.
Di sisi lain, Rachel Doran, direktur eksekutif Clean Energy Canada, menyambut baik perjanjian tersebut. Dia berpendapat bahwa tarif 100 persen sebelumnya telah "merusak" pasar EV Kanada dengan mengurangi pilihan yang terjangkau dan menurunkan tingkat adopsi. Doran percaya bahwa menarik investasi manufaktur EV dan baterai China dapat menguntungkan Kanada melalui penciptaan lapangan kerja, pemanfaatan mineral penting Kanada, dan transfer teknologi. Erik Johnson, ekonom senior di BMO Capital Markets, mencatat bahwa meskipun 49.000 unit merupakan angka kecil dalam pasar kendaraan secara keseluruhan, ia akan membuat opsi EV China lebih terjangkau.
Kuota awal 49.000 kendaraan listrik China ini hanya mewakili kurang dari tiga persen dari total pasar kendaraan baru Kanada setiap tahunnya. Namun, jumlah ini dapat mencapai sekitar 26 persen dari pendaftaran kendaraan nol emisi pada tahun 2023, atau 29 persen dari penjualan EV pada tahun 2025. Kesepakatan ini mencakup klausul peninjauan setelah tiga tahun untuk menilai keberhasilan implementasi dan memastikan manfaat yang diharapkan terwujud. Langkah Kanada ini menunjukkan upaya untuk menyeimbangkan hubungan dagang dengan kekuatan ekonomi global yang berbeda, mengambil risiko potensi gesekan dengan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat, demi akses pasar dan tujuan energi bersih.