
Pada beberapa kesempatan di antara tahun 2018 dan 2020, pernyataan-pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kebijakan terhadap Iran, khususnya terkait sanksi dan kapasitas ekspor minyak, secara konsisten memicu volatilitas signifikan di pasar minyak global, seringkali menyebabkan harga anjlok tajam dalam hitungan jam setelah ucapannya. Kebijakan "tekanan maksimum" pemerintahannya terhadap Teheran, yang mencakup penarikan AS dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) pada Mei 2018 dan penerapan kembali sanksi yang ketat, menjadi katalis utama bagi reaksi pasar yang cepat tersebut. Analisis terhadap peristiwa-peristiwa tersebut menyoroti sensitivitas pasar komoditas terhadap retorika geopolitik, terutama dari pemimpin negara-negara produsen atau konsumen minyak terbesar.
Penarikan AS dari JCPOA pada Mei 2018, misalnya, segera disusul oleh janji Trump untuk menjatuhkan sanksi baru yang "sekuat-kuatnya" terhadap sektor energi Iran. Meskipun niat sanksi adalah untuk mengurangi pasokan minyak Iran dari pasar, dampaknya diimbangi oleh ekspektasi pasar bahwa Arab Saudi dan sekutu-sekutunya akan meningkatkan produksi untuk menutupi defisit, serta kekhawatiran akan potensi perang dagang global yang dapat menekan permintaan. Pada Agustus 2018, setelah Trump mencuit bahwa ia telah meminta OPEC untuk menurunkan harga minyak, harga minyak Brent sempat turun lebih dari 1,5% dalam satu sesi perdagangan. Pernyataan tersebut, meskipun tidak selalu diikuti dengan kebijakan konkret yang langsung mengubah pasokan, cukup untuk menenangkan kekhawatiran pasar akan kenaikan harga, bahkan ketika sanksi terhadap Iran masih dalam proses implementasi.
Pada periode berikutnya, ketika AS mulai memberikan pengecualian sanksi kepada beberapa pembeli minyak Iran utama pada akhir 2018, retorika Trump yang cenderung meremehkan dampak sanksi atau mengindikasikan kelonggaran juga berkorelasi dengan penurunan harga. Misalnya, pada November 2018, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 7% dalam satu hari setelah Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi kepada delapan negara importir minyak Iran, sebuah langkah yang diinterpretasikan pasar sebagai peningkatan pasokan global yang tersedia. Pernyataan Trump pada saat itu yang menyiratkan bahwa dunia "sudah dibanjiri minyak" dan kekhawatirannya tentang harga tinggi, bertentangan dengan tujuan sanksi yang seharusnya mengurangi pasokan. Ini menunjukkan inkonsistensi yang menyebabkan ketidakpastian dan reaksi pasar yang ekstrem.
Para analis energi dan ekonom pada saat itu mencatat bahwa pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap fakta kebijakan yang diumumkan, tetapi juga terhadap sinyal verbal dan non-verbal dari Presiden Trump. Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, sering menekankan bagaimana pernyataan Trump dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar, bahkan jika kebijakan substansial membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil. Ini mencerminkan "Trump put" atau semacam proteksi tersirat dari pemerintahan AS terhadap harga minyak yang terlalu tinggi, di mana ia siap menekan OPEC atau membiarkan Iran mengekspor lebih banyak jika harga domestik AS melonjak.
Implikasi jangka panjang dari pendekatan ini melampaui fluktuasi harga harian. Hal ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi produsen minyak, investor, dan negara-negara konsumen. Pasar energi, yang secara inheren sensitif terhadap stabilitas geopolitik, menjadi lebih rentan terhadap retorika politik tingkat tinggi. Kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran, yang bertujuan untuk memaksa perubahan perilaku rezim, seringkali dibayangi oleh dampak tak terduga pada pasar global karena inkonsistensi dalam komunikasi publik. Kondisi ini mempersulit perencanaan jangka panjang oleh perusahaan minyak dan negara-negara importir, karena mereka harus terus-menerus menyesuaikan strategi mereka tidak hanya berdasarkan fundamental pasokan dan permintaan, tetapi juga berdasarkan sinyal politik yang dapat berubah-ubah. Ketidakpastian semacam ini mendorong premi risiko yang lebih tinggi atau, dalam kasus tertentu, penjualan panik yang menekan harga secara tidak proporsional terhadap perubahan fundamental.