Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Visa Sambungkan Jaringan Pembayaran ke Stablecoin

2026-01-15 | 23:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T16:56:27Z
Ruang Iklan

Visa Sambungkan Jaringan Pembayaran ke Stablecoin

Perusahaan pembayaran global Visa secara signifikan memperluas integrasi sistem pembayarannya dengan stablecoin, berfokus pada penyelesaian transaksi institusional menggunakan aset digital berpatok dolar AS seperti USDC. Langkah ini, yang puncaknya terlihat pada peluncuran resmi penyelesaian USDC di Amerika Serikat pada 16 Desember 2025, menandai evolusi penting dalam strategi Visa untuk memodernisasi infrastruktur pembayaran intinya dan memanfaatkan efisiensi blockchain untuk pergerakan dana lintas batas.

Sejarah keterlibatan Visa dengan aset digital dimulai beberapa tahun lalu, dengan pengumuman awal pada Maret 2021 mengenai rencana untuk mengizinkan penyelesaian USD Coin (USDC) di jaringannya. Kemudian, pada September 2023, perusahaan memperluas kemampuan ini dengan menambahkan dukungan untuk blockchain Solana dan bekerja sama dengan mitra seperti Worldpay dan Nuvei. Peluncuran terbaru di AS memungkinkan mitra penerbit dan akuisisi yang memenuhi syarat untuk menyelesaikan kewajiban dengan Visa menggunakan USDC milik Circle melalui blockchain Solana. Bank-bank awal yang berpartisipasi termasuk Cross River Bank dan Lead Bank. Perluasan ketersediaan yang lebih luas di AS direncanakan hingga tahun 2026.

Fokus Visa pada penyelesaian stablecoin, daripada pembayaran konsumen langsung di titik penjualan, menyoroti penekanannya pada peningkatan efisiensi infrastruktur. Sistem penyelesaian USDC memungkinkan pergerakan dana yang lebih cepat melalui blockchain, ketersediaan tujuh hari seminggu, dan peningkatan ketahanan operasional, termasuk selama akhir pekan dan hari libur, tanpa mengubah pengalaman kartu konsumen. Rubail Birwadker, Global Head of Growth Products and Strategic Partnerships Visa, menyatakan bahwa lembaga keuangan mencari opsi penyelesaian yang lebih cepat dan dapat diprogram yang terintegrasi secara mulus dengan operasi perbendaharaan mereka yang ada. Dia menambahkan, "Dengan membawa penyelesaian USDC ke AS, Visa menghadirkan kemampuan yang andal dan siap bank yang meningkatkan efisiensi perbendaharaan sambil mempertahankan standar keamanan, kepatuhan, dan ketahanan yang dibutuhkan jaringan kami." Volume penyelesaian stablecoin tahunan Visa telah melampaui $3,5 miliar per November 2025.

Selain penyelesaian institusional, Visa juga menjalankan program percontohan dengan perusahaan pembayaran BVNK yang berbasis di Inggris, memungkinkan bisnis untuk mengirimkan pembayaran stablecoin melalui Visa Direct. Program ini memungkinkan klien perusahaan untuk melakukan pra-pendanaan pembayaran menggunakan stablecoin dan mengirimkan token berpatok dolar AS langsung ke dompet kripto penerima. CEO Visa, Ryan McInerney, sebelumnya telah menegaskan komitmen perusahaan untuk merangkul stablecoin, menyatakan bahwa jika stablecoin menjadi mata uang yang ingin digunakan orang di seluruh dunia, Visa akan mengaktifkan dan menskalakannya di sistemnya. McInerney juga mencatat bahwa sejak 2020, Visa telah memfasilitasi lebih dari $140 miliar dalam arus kripto dan stablecoin.

Pasar stablecoin menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan kapitalisasi pasar gabungan stablecoin yang dipatok fiat mencapai $161,2 miliar pada Agustus 2024, naik 35,4% dari awal tahun. Per Februari 2025, kapitalisasi pasar stablecoin mencapai $223 miliar. USDT, USDC, dan Dai secara kolektif menyumbang 94% dari total kapitalisasi pasar stablecoin. Total volume transaksi stablecoin telah mencapai triliunan dolar setiap tahun, dengan perkiraan antara $3 hingga $4 triliun. Pada kuartal kedua 2024, stablecoin digunakan untuk transaksi senilai $8,5 triliun. Ini lebih dari dua kali lipat jumlah yang diproses oleh Visa pada periode yang sama. Volume penyelesaian stablecoin tahunan Visa saat ini diperkirakan mencapai $4,5 miliar. Peningkatan pengeluaran kartu yang terhubung dengan kripto Visa juga mencolok, melonjak 525% pada tahun 2025, dari $14,6 juta pada Januari menjadi $91,3 juta pada Desember.

Perkembangan regulasi global memainkan peran penting dalam strategi Visa. Pada tahun 2025, kerangka kerja regulasi yang komprehensif untuk stablecoin mulai terbentuk di berbagai yurisdiksi. Di AS, GENIUS Act disahkan, membentuk kerangka kerja regulasi federal untuk penerbit stablecoin, menetapkan persyaratan seputar cadangan, audit, dan integritas keuangan. Uni Eropa mengimplementasikan Peraturan Pasar dalam Aset Kripto (MiCA) secara penuh pada awal tahun 2025. Inggris juga memprioritaskan regulasi stablecoin, dengan Otoritas Perilaku Keuangan (FCA) membentuk aturan dan Treasury Inggris berencana untuk mendefinisikan stablecoin dalam undang-undang, mengharuskan stablecoin didukung penuh oleh mata uang fiat.

Implikasi dari integrasi stablecoin oleh Visa sangat luas. Ini berpotensi merevolusi pembayaran lintas batas, yang secara tradisional lambat dan mahal karena jam kerja bank, perantara, dan biaya berlapis. Stablecoin mengurangi gesekan ini dengan memindahkan nilai pada blockchain publik seperti Ethereum dan Solana. Bagi pekerja lepas, eksportir, dan keluarga yang mengirim uang secara internasional, ini berarti akses yang lebih cepat dan hambatan operasional yang lebih sedikit. Namun, meskipun Visa berupaya menjadikan stablecoin sebagai bagian integral dari sistem keuangannya, tantangan tetap ada, terutama dalam hal penerimaan pedagang yang luas. Cuy Sheffield, kepala kripto Visa, mengakui bahwa "belum ada penerimaan pedagang pada skala besar" untuk stablecoin.

Melihat ke depan, Visa meluncurkan "Stablecoins Advisory Practice" pada Desember 2025 untuk membantu bank dan fintech menerapkan strategi stablecoin ke dalam operasi mereka, menunjukkan komitmen terhadap adopsi yang lebih luas. Selain itu, Visa juga merupakan mitra desain untuk Arc, sebuah blockchain Layer 1 baru yang dikembangkan oleh Circle, dan berencana untuk memanfaatkan Arc untuk penyelesaian USDC dalam jaringannya. Integrasi ini memposisikan Visa sebagai jembatan penting antara keuangan tradisional dan ekonomi aset digital yang berkembang, memungkinkan efisiensi baru dalam pergerakan uang institusional, sambil beradaptasi dengan lanskap regulasi yang semakin jelas.