
PT Pertamina (Persero) secara resmi menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina Dex, berlaku efektif mulai 1 Januari 2026. Penyesuaian harga ini merupakan respons terhadap tren penurunan harga minyak mentah global sepanjang tahun 2025 dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Di DKI Jakarta, harga Pertamax (RON 92) turun menjadi Rp 12.350 per liter dari sebelumnya Rp 12.750 per liter pada Desember 2025. Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) kini dibanderol Rp 13.400 per liter dari Rp 13.750 per liter. Pertamax Green 95 mengalami penurunan harga menjadi Rp 13.150 per liter dari Rp 13.500 per liter. Untuk jenis diesel, Dexlite (CN 51) turun menjadi Rp 13.500 per liter dari Rp 14.700 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) menjadi Rp 13.600 per liter dari Rp 15.000 per liter. Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi tidak mengalami perubahan, tetap masing-masing Rp 10.000 per liter dan Rp 6.800 per liter.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini sejalan dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan atas Kepmen Nomor 62 K/12/MEM/2020 mengenai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM. Fluktuasi harga BBM nonsubsidi secara berkala dievaluasi berdasarkan tren harga rata-rata publikasi minyak, yakni Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus, serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sepanjang tahun 2025, harga minyak mentah global menghadapi penurunan tajam, anjlok lebih dari 15% karena tekanan pasokan yang melimpah dan perlambatan permintaan global. Minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$ 61,42 per barel, dengan penurunan tahunan hampir 18%, menandai kinerja negatif tahunan terdalam sejak 2020 dan rekor terpanjang dalam sejarah perdagangan minyak global. Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, memproyeksikan harga Brent masih berpotensi melemah pada awal 2026, mencapai kisaran US$ 55 per barel pada kuartal I 2026, sebelum pulih secara bertahap. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami koreksi tahunan mendekati 19%, berada di level US$ 58,05 per barel.
Penurunan harga BBM nonsubsidi ini diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat dan berpotensi menekan laju inflasi, meskipun dampaknya mungkin terbatas mengingat stabilnya harga BBM subsidi. Sektor transportasi umum juga dapat merasakan manfaat dari penurunan biaya operasional, yang berpotensi mencegah kenaikan tarif angkutan. Namun, dalam konteks yang lebih luas, prospek ekonomi global pada tahun 2026 masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa, yang dipicu oleh kebijakan tarif, kerentanan pasar keuangan, dan tekanan pada pasar tenaga kerja global. Kebijakan OPEC+ untuk menahan peningkatan produksi pada kuartal pertama 2026 juga akan menjadi faktor krusial yang mempengaruhi stabilitas harga minyak di pasar internasional.