Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rekomendasi Saham Pilihan 14 Januari 2026: AADI, AMMN, MEDC, MLPL, INDF Patut Diperhatikan

2026-01-14 | 07:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T00:31:38Z
Ruang Iklan

Rekomendasi Saham Pilihan 14 Januari 2026: AADI, AMMN, MEDC, MLPL, INDF Patut Diperhatikan

Sejumlah analis pasar saham menyoroti lima emiten, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Multipolar Tbk (MLPL), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), sebagai pilihan menarik di tengah prospek penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026. IHSG sendiri diperkirakan berpotensi menembus level 9.000, didukung sentimen positif valuasi domestik yang rendah dan proyeksi pemulihan kinerja laba emiten, meskipun sentimen global dan fluktuasi komoditas tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.

Prospek pasar saham Indonesia pada tahun 2026 secara umum dinilai optimistis. HSBC Global Research memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 9.700, mengutip valuasi saham domestik yang berada pada titik terendah dalam 15 hingga 20 tahun terakhir, terutama di sektor perbankan dan konsumsi, menjadikannya titik masuk yang ideal bagi investor besar. Kepala Strategi Ekuitas Asia Pasifik HSBC Global Research, Herald van der Linde, menyatakan bahwa momentum kenaikan ini didorong oleh perbaikan valuasi dan kembalinya pertumbuhan laba perusahaan. Sementara itu, analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova memprediksi IHSG berpotensi menguji resistance 8.973 dan melanjutkan reli ke 9.000 atau bahkan 9.123 pada hari ini, ditopang indikator MACD yang menunjukkan momentum bullish. Namun, pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat melemah tipis 0,58% ke level 8.884,72 akibat aksi ambil untung pada saham berkapitalisasi besar.

Untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), MNC Sekuritas merekomendasikan "Buy on Weakness" dengan target harga 7.575 dan 7.850. Sementara BinaArtha Sekuritas menyarankan "Hold" dengan target harga 7.750. Saham AADI menguat 4,20% ke level 7.450 pada 13 Januari 2026, disertai peningkatan volume pembelian dan bergerak di atas MA200. Analisis teknikal Investing.com per 13 Januari 2026 juga menunjukkan sinyal "Sangat Beli" untuk AADI. Namun, laporan Emitennews.com per 9 Januari 2026 menyoroti bahwa laba bersih AADI pada tahun buku 2024 yang mencapai Rp20,98 triliun (USD 1,327 miliar) banyak didorong oleh keuntungan non-operasional sebesar Rp5,11 triliun (USD 323 juta) dari penjualan investasi, sementara laba inti operasional sebenarnya mengalami penurunan 21%. Perusahaan juga masih memiliki saldo utang pihak berelasi yang substansial.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga menjadi perhatian, dengan rekomendasi "Buy on Weakness" dari MNC Sekuritas, menargetkan harga 8.475 dan 8.775. Saham AMMN menguat 2,21% menjadi 8.100 pada 13 Januari 2026 dengan volume pembelian yang meningkat. Sebelumnya, AMMN menjadi penopang utama penguatan IHSG pada 13 Januari, naik 3,16% ke Rp8.150 per saham. Pada awal Januari 2026, AMMN mengucurkan dana US$3,03 juta untuk kegiatan eksplorasi, memprioritaskan pengeboran infill di area Elang. Namun, perusahaan masih dalam proses perbaikan smelter yang berhenti beroperasi pada Juli 2025 akibat kerusakan. Proses perbaikan diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama 2026, diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap sepanjang tahun. Untuk menjaga keberlanjutan operasional, AMMN telah memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering dari Kementerian ESDM hingga April 2026.

Dalam sektor energi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan "Buy on Weakness" oleh MNC Sekuritas, dengan target harga 1.605 dan 1.650. Saham MEDC terkoreksi 1,96% menjadi 1.500 pada 14 Januari 2026. MedcoEnergi menunjukkan komitmen ekspansi dengan mengalokasikan US$43,62 juta atau sekitar Rp733,61 miliar untuk eksplorasi minyak dan gas pada kuartal IV 2025. Selain itu, MEDC juga menandatangani perjanjian dukungan bisnis senilai total Rp2,42 miliar untuk empat anak usahanya hingga Desember 2026, bertujuan meningkatkan efisiensi operasional. Sejumlah direksi MEDC secara kompak menambah kepemilikan saham mereka pada akhir Desember 2025, menunjukkan keyakinan internal terhadap prospek perusahaan. Harga minyak mentah dunia menunjukkan volatilitas, dengan Brent berjangka sempat turun 0,4% menjadi USD63,08 per barel pada 13 Januari 2026 karena kekhawatiran pasokan berlebih. Namun, harga minyak naik selama empat sesi beruntun hingga 13 Januari 2026, didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran, dengan WTI berjangka naik 2,8% menjadi US$61,15 per barel dan Brent naik 2,5% menjadi US$65,47 per barel.

PT Multipolar Tbk (MLPL) juga menarik perhatian analis, dengan MNC Sekuritas memberikan rekomendasi "Buy on Weakness", menargetkan harga 163 dan 177. Saham MLPL menguat 7,59% ke 156 pada 14 Januari 2026, diiringi peningkatan volume pembelian dan mampu bergerak di atas cluster MA20 dan MA60. Analisis teknikal Investing.com per 13 Januari 2026 bahkan memberikan sinyal "Sangat Beli" untuk MLPL. Perusahaan ini, yang bergerak di segmen ritel, telekomunikasi, multimedia, dan teknologi, melakukan divestasi 37,5 juta saham MLPT senilai Rp300 miliar pada September 2025 sebagai upaya penguatan finansial. Meskipun masih mencatat rugi bersih, rasio Price to Book Value (PBV) sebesar 0,39x dinilai menarik karena jauh di bawah rata-rata industri 3,00x.

Terakhir, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) masuk dalam daftar saham pilihan Pilarmas Investindo Sekuritas untuk hari ini. Prospek INDF untuk tahun 2026 dipandang positif, terutama didukung oleh stabilitas harga bahan baku dan tren penurunan suku bunga yang berpotensi memulihkan margin laba. Pemulihan daya beli masyarakat yang didorong stimulus pemerintah juga diperkirakan akan menjaga pertumbuhan volume penjualan tetap positif. Analis memproyeksikan Bank Indonesia memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan hingga dua kali pada tahun 2026, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 rata-rata 5,7% juga diproyeksikan akan mendorong konsumsi dan saham konsumer. Namun, tantangan utama bagi INDF tetap datang dari potensi depresiasi nilai tukar rupiah, yang dapat menekan margin keuntungan.