
Gubernur Provinsi DKI Jakarta Pramono Anung pada Selasa, 20 Januari 2026, secara resmi memulai pembangunan pintu masuk baru Stasiun MRT Harmoni, Jakarta Pusat, sebuah langkah signifikan dalam pengembangan sistem transportasi massal ibu kota yang diproyeksikan akan menjadi simpul mobilitas padat. Pramono menyatakan keyakinannya bahwa stasiun ini akan menjadi salah satu Kawasan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development/TOD) paling strategis dan ramai di Jakarta seiring rampungnya proyek Fase 2A MRT Jakarta.
Inisiatif pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni, yang terletak di area parkir pertokoan Duta Merlin, Jakarta Pusat, merupakan bagian dari proyek MRT Jakarta Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota Tua. Stasiun Harmoni dirancang memiliki panjang 252 meter, lebar 18 meter, dan kedalaman 17 meter dengan dua lantai, serta dilengkapi tujuh pintu masuk. Tiga di antaranya akan terintegrasi langsung dengan Halte BRT TransJakarta, bertujuan menciptakan konektivitas antarmoda yang mulus. Proyek Fase 2A ini ditargetkan rampung bertahap, dengan rute Bundaran HI-Monas beroperasi pada 2027 dan rute Harmoni-Kota pada 2029.
Secara historis, Harmoni telah lama dikenal sebagai salah satu pusat bisnis dan aktivitas ekonomi yang vital di Jakarta. Posisi strategisnya, dikelilingi oleh berbagai kantor pemerintahan penting seperti Istana Kepresidenan, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Sekretariat Kabinet, dan Kantor Staf Presiden, menjadi alasan utama proyeksi kepadatan penumpang di masa depan. Pramono menegaskan bahwa kehadiran MRT dan pengembangan TOD di Harmoni akan menghidupkan kembali simpul aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat, sekaligus menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa pembangunan stasiun dan tujuh pintu masuknya, termasuk fasilitas cooling tower dan ventilation tower seluas 2.186 meter persegi, merupakan tahapan penting dalam pengembangan sistem perkeretaapian perkotaan modern. Integrasi ini diharapkan akan memudahkan perpindahan penumpang tanpa perlu keluar dari kawasan stasiun, meningkatkan efisiensi perjalanan, dan pada akhirnya mendorong peningkatan jumlah pengguna transportasi publik.
Data menunjukkan tren peningkatan penggunaan transportasi massal di Jakarta. Sepanjang tahun 2025, jumlah penumpang TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta mencapai 461 juta orang, meningkat signifikan sebesar 16,65 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebanyak 402 juta orang. TransJakarta sendiri melayani sekitar 1,4 juta orang setiap hari. Lokasi Harmoni menjadi persimpangan penting bagi beberapa koridor TransJakarta, termasuk Koridor I (Blok M-Kota), Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni), dan Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni). Pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni yang terintegrasi langsung dengan halte TransJakarta diproyeksikan akan memperkuat simpul transportasi ini, menjadikannya titik transfer krusial yang dapat secara substansial mengurangi kemacetan dan emisi di pusat kota. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada implementasi yang tepat waktu dan manajemen kawasan TOD yang efektif untuk memaksimalkan potensi mobilitas dan pengembangan ekonomi di sekitarnya.