
Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinan kuat terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, mengutip penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang menobatkan negara ini sebagai "titik terang global" di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato kunci pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026. IMF, dalam konsultasi Misi Pasal IV 2025 yang diselesaikan pada November 2025, secara eksplisit menggambarkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah ketidakpastian global.
Penilaian positif IMF ini didasarkan pada kinerja makroekonomi Indonesia yang stabil. Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di angka 5,0 persen pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027. Angka ini konsisten dengan rekam jejak Indonesia yang berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen setiap tahun selama satu dekade terakhir. Prabowo menambahkan bahwa pujian dari lembaga sekelas IMF bukan tanpa dasar, melainkan didasari bukti nyata ketangguhan ekonomi dan kalibrasi kebijakan yang baik.
Tingkat inflasi Indonesia juga menunjukkan stabilitas yang mengesankan, dengan inflasi tahunan (year-on-year) pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, berada dalam rentang target Bank Indonesia. Inflasi utama dan inflasi inti diperkirakan akan tetap nyaman dalam kisaran target. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan tetap terkendali dengan baik pada periode 2025-2026, didukung oleh cadangan devisa yang memadai.
Sektor investasi juga menunjukkan momentum positif. Realisasi investasi langsung asing (FDI) di Indonesia mencapai Rp245,80 triliun pada kuartal keempat tahun 2024. Sepanjang tahun 2025, total realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun, dengan Singapura menjadi negara investor terbesar yang menyumbang 30,9 persen dari total investasi tersebut. Data ini mengindikasikan kepercayaan investor yang terus menguat terhadap prospek ekonomi Indonesia, meskipun iklim investasi global diwarnai gejolak.
Namun, prospek cerah ini tidak lepas dari tantangan. IMF dan beberapa ekonom menyoroti sejumlah risiko eksternal dan domestik. Ketegangan perdagangan yang meningkat, ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, dan volatilitas pasar keuangan global menjadi risiko eksternal utama. Di sisi domestik, perubahan kebijakan besar, jika tidak diimplementasikan dengan pengamanan yang cukup kuat, berpotensi menciptakan kerentanan. Ekonom dari INDEF juga menyoroti tantangan struktural yang lebih kompleks, seperti kerentanan rantai pasok global, masalah ketahanan pangan, dan daya beli masyarakat yang harus terus diatasi untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan pada tahun 2026.
Pemerintah Indonesia menyadari tantangan tersebut dan telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang hati-hati. Komitmen terhadap kebijakan fiskal yang bijaksana, didukung oleh aturan fiskal yang kredibel, serta pelaksanaan pengeluaran publik yang cermat dan peningkatan mobilisasi pendapatan, dianggap penting untuk menjaga cadangan dan mencapai tujuan sosial. Reformasi struktural yang ambisius juga diperlukan untuk meningkatkan potensi pertumbuhan, serta memperkuat modal manusia, fisik, dan institusional, guna memastikan lingkungan bisnis yang sehat dan prediktif serta terbuka terhadap perdagangan dan investasi. Prabowo menekankan bahwa stabilitas dan perdamaian, yang merupakan hasil dari pilihan Indonesia untuk bersatu dan berkolaborasi, bukan perpecahan, menjadi prasyarat utama bagi kemakmuran jangka panjang.