
Aliran gas melalui pipa utama PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada ruas Grissik-Duri telah kembali normal sepenuhnya pada Rabu, 21 Januari 2026, setelah tiga minggu terganggu oleh insiden kebocoran dan ledakan berulang di Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu, Riau. Pemulihan infrastruktur vital ini membuka jalan bagi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) untuk memulihkan produksi minyak di Blok Rokan ke kapasitas optimal dalam dua hari ke depan, menyusul penurunan signifikan yang mengancam target lifting minyak nasional.
Insiden pertama dilaporkan pada Jumat, 2 Januari 2026, sekitar pukul 16:35 WIB, di kilometer point (KP) 222 Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang disertai ledakan dan semburan api setinggi 15 meter. Gangguan ini diperparah dengan kebocoran kedua di KP294 Indragiri Hulu pada 9 Januari 2026, memaksa penghentian sementara aliran gas demi alasan keselamatan. Penyelidikan atas penyebab insiden awal masih berlangsung, dengan indikasi awal mengarah pada dugaan pencurian gas yang memicu ledakan.
Gangguan pada pipa TGI memiliki dampak langsung dan parah terhadap operasional Blok Rokan, produsen minyak terbesar di Indonesia yang menyumbang sekitar 24% dari total produksi nasional. Gas dari pipa TGI esensial untuk menggerakkan pembangkit listrik North Duri Cogeneration (NDC) yang menjadi sumber energi bagi ribuan pompa angguk dan fasilitas injeksi uap (steam flood) untuk mengangkat minyak mentah dari sumur-sumur di Blok Rokan. Akibat pasokan gas yang terhenti, produksi minyak Blok Rokan anjlok drastis dari rata-rata 150.000-160.000 barel per hari (bph) menjadi sekitar 60.000-70.000 bph selama beberapa pekan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa estimasi kehilangan potensi produksi akibat insiden ini mencapai sekitar 2 juta barel selama kurang lebih 20 hari gangguan.
Laode Sulaeman menegaskan bahwa aliran gas telah dibuka maksimal pada Rabu malam, 21 Januari 2026, dengan tekanan yang dinyatakan aman untuk distribusi ke berbagai titik, termasuk Blok Rokan. Proses normalisasi aliran gas dilakukan secara bertahap dan hati-hati untuk mencegah insiden berulang. Berdasarkan koordinasi dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), pemulihan operasional produksi minyak di Blok Rokan diperkirakan akan mencapai kapasitas normal kembali dalam dua hari ke depan.
Blok Rokan, yang dikelola oleh PHR sejak Agustus 2021, merupakan tulang punggung lifting minyak nasional. Gangguan produksi di blok ini memberikan tekanan signifikan terhadap upaya pemerintah untuk mencapai target lifting minyak nasional sebesar 610.000 bph pada tahun 2026. Untuk mengkompensasi kehilangan produksi sebesar 2 juta barel, Kementerian ESDM bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah mengintensifkan upaya optimalisasi produksi dari lapangan-lapangan lain, termasuk potensi sumur-sumur kecil di wilayah Sumatra Selatan. Pemerintah menginstruksikan penambahan produksi harian antara 5.000 hingga 6.000 barel untuk menambal defisit tersebut. Pemulihan cepat pasokan gas dan produksi minyak di Blok Rokan menjadi krusial dalam menjaga stabilitas pasokan energi domestik dan proyeksi lifting migas nasional sepanjang tahun ini.