Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pertamina Pastikan Logistik Krusial BBM-Air Bersih RSUD Aceh Tamiang Aman

2026-01-04 | 18:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T11:47:02Z
Ruang Iklan

Pertamina Pastikan Logistik Krusial BBM-Air Bersih RSUD Aceh Tamiang Aman

PT Pertamina (Persero) secara konsisten menyuplai Bahan Bakar Minyak (BBM) dan air bersih untuk menjaga operasional RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut akhir November 2025. Bantuan ini krusial mengingat infrastruktur dasar yang rusak parah, memastikan layanan kesehatan vital tetap tersedia bagi masyarakat yang rentan di tengah masa pemulihan.

Dukungan Pertamina ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Peduli, yang difokuskan pada pemulihan layanan dasar setelah RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang kembali beroperasi pada 9 Desember 2025. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa prioritas utama adalah memastikan layanan publik dapat berfungsi dalam kondisi darurat. “Fokus kami adalah mendukung pemulihan layanan dasar, mulai dari pasokan listrik, air bersih, hingga logistik pendukung agar rumah sakit dapat kembali memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat,” ujar Baron. Ia menekankan bahwa energi bukan sekadar komoditas, melainkan penopang kehidupan dan harapan di masa pemulihan.

Secara spesifik, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara memasok 200 liter Biosolar setiap hari untuk mengoperasikan genset berkapasitas 100 kVA dan 66 kVA yang menjadi penopang utama kelistrikan rumah sakit saat pasokan dari PLN belum stabil. Hingga 13 Desember 2025, total 800 liter Biosolar telah disalurkan. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pertamina secara rutin menyalurkan satu hingga dua tangki air bersih setiap hari. Air ini esensial untuk sterilisasi peralatan medis, sanitasi, serta kebutuhan dasar pasien dan tenaga kesehatan. Di luar RSUD, upaya Pertamina Peduli juga mencakup pemulihan 12 sumur warga dan rencana pengeboran tiga sumur bor baru di Kabupaten Aceh Tamiang, dengan total pasokan air bersih mencapai 1,4 juta liter yang diangkut menggunakan 191 mobil tangki sejak awal Desember.

Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr. Andika Putra, menegaskan peran krusial bantuan ini. "Listrik adalah penopang utama peralatan medis. Kami mengapresiasi Pertamina yang sigap memasok BBM untuk genset sehingga pasokan listrik di rumah sakit dapat terjaga selama 24 jam,” kata Andika. Ia menambahkan, "Orang sakit tidak bisa menunggu dan harus segera dilayani dalam keadaan apapun. Dukungan Pertamina sangat penting dalam menjaga denyut nadi rumah sakit, dan kami harapkan akan terus tersedia hingga keadaan kembali normal." RSUD Muda Sedia adalah satu-satunya rumah sakit pemerintah di kabupaten tersebut, menjadikannya fasilitas yang sangat vital bagi masyarakat. Sejak dibuka kembali pada 9 Desember 2025 hingga akhir tahun, rumah sakit ini telah melayani 507 pasien rawat inap, 2.350 pasien rawat jalan, melakukan 48 tindakan operasi, merawat 8 pasien di ICU, 20 pasien cuci darah, serta menangani 656 pasien di Unit Gawat Darurat (UGD). Angka ini mencerminkan tingginya kebutuhan akan layanan kesehatan pascabencana.

Insiden ini menyoroti kerentanan fasilitas publik esensial seperti rumah sakit terhadap bencana alam. Gangguan pasokan energi dan air bersih dapat melumpuhkan layanan medis, berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan. Peran aktif badan usaha milik negara (BUMN) seperti Pertamina dalam upaya tanggap darurat dan pemulihan menunjukkan dimensi tanggung jawab sosial yang melampaui mandat bisnis inti. Ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) yang menekankan kontribusi perusahaan terhadap keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Meskipun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau di Aceh Tamiang dilaporkan mulai beroperasi kembali untuk masyarakat umum pada awal Januari 2026, setelah perbaikan pascabanjir, kebutuhan rumah sakit akan pasokan energi yang stabil untuk genset dan air bersih yang terjamin tetap menjadi prioritas. Hal ini menggarisbawahi perlunya investasi jangka panjang dalam infrastruktur yang lebih tangguh dan rencana keberlanjutan untuk fasilitas kesehatan di daerah rawan bencana. Kapasitas rumah sakit untuk mandiri dalam energi dan air, misalnya melalui implementasi konsep 'green hospital' dengan efisiensi energi dan air, akan menjadi krusial untuk menghadapi tantangan serupa di masa depan. Analisis kebutuhan energi listrik rumah sakit menunjukkan bahwa untuk kapasitas 300 tempat tidur, daya listrik bisa mencapai 1.500 KVA dengan cadangan 25%, sementara 60-85% kebutuhan air bersih akan menjadi air limbah domestik, menunjukkan volume kebutuhan yang signifikan. Perbaikan fasilitas sanitasi air di sejumlah pusat layanan kesehatan seperti RSUD Aceh Tamiang juga menjadi bagian integral dari pemulihan yang didukung Pertamina, menandakan upaya kolaboratif lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan layanan publik.