:strip_icc()/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pelemahan signifikan sebesar 12,77% dalam lima hari perdagangan terakhir, menutup sesi Kamis, 15 Januari 2026, pada posisi Rp 410 per saham. Penurunan ini terjadi setelah rentetan aksi jual institusional dan antisipasi pasar terhadap perubahan indeks global, mengikis sebagian keuntungan fantastis yang telah dinikmati emiten pertambangan batubara tersebut sepanjang tahun sebelumnya.
Penurunan harga BUMI datang menyusul aksi divestasi besar-besaran oleh investor asing, Chengdong Investment Corporation, yang secara bertahap melepas sekitar 3,71 miliar saham BUMI antara 23 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026. Aksi jual ini mengurangi kepemilikan Chengdong dari 5,99% menjadi 4,99%, membuatnya tidak lagi menjadi pemegang saham utama. Penjualan tersebut, yang ditujukan untuk divestasi, meraup dana sekitar Rp 1,57 triliun. UBS Group AG juga tercatat telah menjual 289,63 juta saham BUMI pada 6 Januari 2026, pada harga Rp 462 per saham, mengurangi porsi kepemilikannya.
Koreksi harga saham BUMI juga bertepatan dengan masa penantian pasar terhadap hasil peninjauan ulang (rebalancing) indeks global MSCI yang akan diumumkan pada akhir Januari 2026. Meskipun BUMI disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk masuk ke dalam MSCI Standard Cap Index pada peninjauan Februari 2026, koreksi saat ini dapat diinterpretasikan sebagai aksi ambil untung (profit-taking) atau dampak sementara dari penjualan investor institusional.
Secara historis, saham BUMI dikenal dengan volatilitas yang tinggi, sering mengalami lonjakan harga yang diikuti oleh koreksi tajam. Pada tahun 2025, saham ini sempat melonjak 244,54%. Bahkan, di awal Januari 2026, saham BUMI telah melambung hingga 93% dalam sebulan, mencapai Rp 464 per saham pada 6 Januari 2026, didorong oleh potensi masuknya ke indeks MSCI dan strategi diversifikasi bisnisnya. Namun, momentum tersebut kini menghadapi tekanan.
Di luar faktor internal perusahaan dan sentimen indeks, outlook industri batubara global pada tahun 2026 juga menghadapi tantangan signifikan. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memproyeksikan permintaan batubara dari Tiongkok dan India akan tumbuh moderat, hanya sekitar 0,2% hingga 1%. Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengindikasikan bahwa harga batubara diperkirakan tidak akan banyak berubah dari rata-rata tahun sebelumnya, berkisar antara US$ 90 - US$ 100 per ton. Tekanan tambahan datang dari penyesuaian regulasi domestik seperti rencana bea ekspor dan kebijakan retensi devisa hasil ekspor (DHE), di tengah kenaikan biaya produksi.
Menanggapi tekanan ini, BUMI telah melakukan transformasi model bisnis untuk mengurangi ketergantungan pada batubara. Perusahaan telah merampungkan akuisisi 64,98% saham Jubilee Metals Limited (JML), sebuah perusahaan tambang emas di Australia, dengan nilai transaksi sekitar AUD 31,47 juta atau setara Rp 346,93 miliar pada Desember 2025. BUMI juga mengakuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia, senilai sekitar Rp 698,98 miliar pada akhir 2025. Diversifikasi ini bertujuan mencapai komposisi EBITDA terkonsolidasi 50:50 antara batubara termal dan aset non-batubara termal pada tahun 2031.
Analis pasar menunjukkan pandangan yang bervariasi. CGS International merekomendasikan "Spec Buy" untuk BUMI dengan level support krusial di Rp 414 dan target harga Rp 430–Rp 438, namun menyarankan aksi cut loss jika harga menembus di bawah Rp 406. Sementara itu, analisis teknikal Investing.com per 15 Januari 2026, menunjukkan sinyal "Jual" untuk beberapa indikator seperti RSI dan MACD. Valuasi saham BUMI juga dianggap premium, dengan rasio Price to Earnings Ratio (PER) di atas 200x dan Price to Book Value (PBV) melampaui 5x.
Meskipun fundamental BUMI masih dibayangi beban utang dan dilusi berulang akibat aksi korporasi di masa lalu, manajemen terus menekankan strategi diversifikasi sebagai pendorong nilai jangka panjang. Keberhasilan transisi BUMI ke portofolio multi-komoditas, di tengah tekanan harga batubara dan sentimen pasar yang berhati-hati, akan menjadi penentu pergerakan sahamnya di masa mendatang.