:strip_icc()/kly-media-production/medias/3020527/original/046868200_1578913888-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-2.jpg)
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah sentimen global yang beragam dan rilis data ekonomi krusial dari China. Setelah mencapai rekor penutupan tertinggi di 9.075,40 pada Kamis (15/1/2026) pekan lalu, dengan kapitalisasi pasar menembus Rp 16.512 triliun, pasar saham domestik menunjukkan ketahanan yang kuat didorong oleh aliran dana investor asing. Investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp 3,2 triliun sepanjang pekan lalu, mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah volatilitas global.
Kinerja IHSG yang mencatatkan rekor baru pada awal 2026 ini melanjutkan tren positif dari tahun sebelumnya, dengan kenaikan 22,13 persen hingga 31 Desember 2025 dan 24 kali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (ATH). Momentum ini didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia serta dukungan fiskal yang terfokus pada pertumbuhan ekonomi. Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai lonjakan IHSG di awal tahun sebagai sinyal jelas dari pasar bahwa investor global menangkap sinyal positif dari kombinasi faktor domestik dan eksternal. HSBC menempatkan Indonesia di kategori Overweight dengan potensi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026, menargetkan IHSG mencapai level 9.450 pada akhir 2026.
Meski demikian, sejumlah sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi hari ini. PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkirakan IHSG akan bergerak dengan level support di 9.000 dan resistance di 9.200 untuk pekan 19-23 Januari 2026. Sementara itu, MNC Sekuritas memprediksi IHSG bergerak dalam rentang koreksi di 8.970-9.039 dan area penguatan di 9.123-9.151. BNI Sekuritas juga memproyeksikan IHSG bergerak datar (sideways) di level support 9.000-9.040 dan resistance 9.100-9.150.
Secara fundamental, stabilitas ekonomi domestik menjadi penopang utama. Inflasi Indonesia per Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), yang masih dalam kisaran target Bank Indonesia 1,5%-3,5% untuk tahun 2026. Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar serta memperkuat sinergi moneter-fiskal guna mendorong pertumbuhan ekonomi 2026, dengan proyeksi pertumbuhan 4,9-5,7 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan BI akan terus menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan di tengah ketidakpastian global, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan menyediakan ruang ekspansi likuiditas untuk mendukung sektor riil. Rupiah sendiri sempat terdepresiasi di awal tahun, dengan nilai tukar mendekati Rp 17.000 per dolar AS, namun BI menyatakan akan terus intervensi untuk menjaga stabilitas.
Di sisi global, sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang stabil namun dibayangi rencana kebijakan tarif baru Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa, yang memicu respons keras dari Uni Eropa. Inflasi AS pada Desember 2025 tercatat 2,7% YoY, sejalan dengan ekspektasi, sementara inflasi inti bertahan di 2,6%, level terendah sejak 2021. Aktivitas ekonomi AS juga solid, ditunjukkan oleh pertumbuhan retail sales 3,3% YoY dan penurunan initial jobless claims. Namun, ketahanan ekonomi AS yang kuat dapat memberikan alasan bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga, berpotensi menahan laju pasar keuangan negara berkembang. Selain itu, investor juga akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi China kuartal IV-2025, data ritel, tingkat pengangguran, serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) oleh Bank Sentral China (PBOC). Perlambatan pertumbuhan kredit di China mengindikasikan ruang pelonggaran kebijakan, tetapi penahanan suku bunga oleh PBOC dapat direspons negatif oleh pasar regional.
Dalam konteks rekomendasi saham, beberapa analis memberikan pandangan yang bervariasi. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, merekomendasikan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) karena lonjakan anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 yang mencapai Rp 335 triliun. JPFA, sebagai produsen unggas terintegrasi, dinilai strategis menangkap peningkatan permintaan protein hewani. Untuk sektor perbankan, IPOT merekomendasikan beli pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness untuk saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga 960, 975; buy on weakness untuk PT Indika Energy Tbk (ITMG) dengan target harga 22.475, 22.675; dan spec buy untuk PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dengan target harga 6.975, 7.500. Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham DSSA, ITMG, dan INDY. Phintraco Sekuritas merekomendasikan BFIN, ISAT, CDIA, MAPI, TLKM, dan SIDO. Sementara itu, Tim Analis Bareksa merekomendasikan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) untuk trading hari ini. Sektor komoditas dan pertambangan, seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, serta sektor telekomunikasi, juga diproyeksikan menjadi penopang utama IHSG dalam jangka menengah hingga panjang.
Meskipun terjadi penguatan di awal tahun, investor perlu mencermati potensi aksi ambil untung dan sentimen geopolitik yang dapat memicu ketidakpastian. Kondisi makroekonomi domestik yang solid, ditopang oleh konsumsi masyarakat yang kuat dan kebijakan BI yang akomodatif, menjadi fundamental utama di balik optimisme pasar.