Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kemenhut Alokasikan 390 Ribu Hektar Lahan untuk Genjot Hilirisasi Perkebunan Nasional

2026-01-19 | 17:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T10:19:15Z
Ruang Iklan

Kemenhut Alokasikan 390 Ribu Hektar Lahan untuk Genjot Hilirisasi Perkebunan Nasional

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengalokasikan lahan seluas 390.000 hektare dari area perhutanan sosial untuk mendukung program hilirisasi komoditas perkebunan, sebuah langkah yang diumumkan pada Senin, 19 Januari 2026, dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyatakan inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dari hasil hutan berbasis masyarakat, mendorong kesejahteraan petani, dan memperkuat ekonomi nasional. Program ini secara spesifik berfokus pada enam komoditas utama: kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete, yang akan dikembangkan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian.

Pemanfaatan lahan perhutanan sosial ini menjadi bagian integral dari strategi pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya alam tanpa melakukan konversi atau pelepasan kawasan hutan baru. Skema perhutanan sosial selama ini telah memberikan izin pemanfaatan lahan seluas 8,9 juta hektare kepada sekitar 1,2 juta kepala keluarga di berbagai wilayah Indonesia, dengan masyarakat didorong mengelola lahan secara produktif melalui sistem agroforestri yang mengombinasikan tanaman kayu dan non-kayu, sembari menjaga kelestarian lingkungan. Selain komoditas perkebunan strategis, lahan perhutanan sosial juga akan dioptimalkan untuk mendukung swasembada energi, khususnya melalui pengembangan aren untuk bioetanol dan jenis kayu energi untuk biomassa, dengan uji coba bioetanol aren di Garut yang disebut berhasil melalui kolaborasi dengan PT Pertamina dan PT Gunung Hijau Masarang.

Langkah hilirisasi perkebunan ini selaras dengan agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam "Asta Cita", yang menekankan kelanjutan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Kementerian Pertanian, di bawah Menteri Andi Amran Sulaiman, telah gencar mendorong program hilirisasi yang lebih luas, menargetkan lebih dari 870.000 hektare lahan dan potensi penciptaan 1,6 juta lapangan kerja baru dengan alokasi anggaran multi-tahun sebesar Rp9,95 triliun untuk periode 2025-2027. Tujuannya adalah mengubah produk mentah seperti kopi menjadi produk spesialti, kakao menjadi cokelat premium, serta kelapa dan sawit menjadi bahan baku industri kosmetik dan bioenergi, sehingga nilai jual produk dapat meningkat tiga hingga lima kali lipat.

Meskipun potensi ekonomi dari hilirisasi sangat besar—diperkirakan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6-7% dan menciptakan jutaan lapangan kerja—implementasinya tidak lepas dari tantangan. Sektor kelapa sawit, misalnya, menghadapi kendala seperti tingkat pengembalian investasi hilir yang dianggap lebih rendah dibandingkan hulu, serta tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia dan teknologi. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat bahwa dari sekitar 200 produk turunan sawit yang teridentifikasi, baru sebagian kecil yang dikembangkan serius. Selain itu, produktivitas sawit nasional masih rendah, sekitar 4 ton per hektare per tahun, padahal potensi ilmiahnya bisa mencapai 8-9 ton.

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) juga menyoroti tantangan yang dihadapi petani mandiri, termasuk benih tidak bersertifikat dan ketergantungan pada tengkulak atau pabrik tanpa kontrak formal. Isu lingkungan juga menjadi perhatian, terutama terkait ekspansi perkebunan kelapa sawit yang di beberapa wilayah mendekati atau bahkan melampaui kapasitas lingkungan, meskipun program KLHK ini secara spesifik berfokus pada optimalisasi lahan perhutanan sosial daripada pembukaan lahan baru. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang kuat menjadi esensial untuk memastikan program hilirisasi berjalan efektif, transparan, dan berkelanjutan, serta mendukung tercapainya target Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sebesar 76,67 pada tahun 2026.

Ke depan, keberhasilan program hilirisasi ini akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat petani. Kementerian Investasi/BKPM juga menegaskan komitmen untuk menggeber hilirisasi kelapa sawit dan bauksit pada tahun 2026 karena efek bergandanya yang besar bagi perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Dengan potensi devisa dari hilirisasi kelapa saja yang bisa mencapai Rp1.200-2.400 triliun, kebijakan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan negara tetapi juga secara fundamental mengubah struktur ekonomi Indonesia dari pengekspor bahan mentah menjadi negara dengan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus mengurangi kemiskinan dan pengangguran di tingkat akar rumput.