:strip_icc()/kly-media-production/medias/4876292/original/002461400_1719462328-fotor-ai-20240627112338.jpg)
Pasar aset kripto global mengalami koreksi tajam pada Senin, 19 Januari 2026, ditandai dengan anjloknya harga Bitcoin dan Ethereum dalam sekejap setelah kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa memicu sentimen penghindaran risiko di pasar finansial global. Bitcoin, mata uang digital terbesar, merosot lebih dari 2,5% dalam 24 jam terakhir, jatuh ke kisaran $92.500 setelah sempat diperdagangkan di sekitar $95.000, sementara Ethereum anjlok lebih dari 3% ke level sekitar $3.200. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan menyusut hampir 3% menjadi $3,13 triliun.
Aksi jual masif ini juga memicu gelombang likuidasi posisi beli (long position) di pasar derivatif, dengan sekitar $546 juta hingga $864 juta posisi terlikuidasi dan hampir $130 miliar lenyap dari total pasar kripto hanya dalam waktu 90 menit. Penurunan drastis ini mengakhiri reli singkat yang terjadi pekan sebelumnya dan menunjukkan kerentanan pasar aset digital terhadap gejolak makroekonomi dan sentimen investor yang bergeser cepat.
Ancaman tarif baru sebesar 10% yang direncanakan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap negara-negara Eropa seperti Denmark, Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, Swedia, Norwegia, dan Finlandia, menjadi pemicu utama kegelisahan pasar. Pengumuman tersebut mendorong investor untuk beralih dari aset berisiko, termasuk kripto, menuju aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan perak. Emas melonjak ke rekor tertinggi baru, mencapai sekitar $4.670 per ounce, memperkuat statusnya sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, pasar kripto juga menghadapi tekanan dari faktor teknikal dan aksi ambil untung setelah Bitcoin sempat mendekati level psikologis $98.000. Kegagalan Bitcoin untuk bertahan di atas $94.000 dan Ethereum untuk menembus resistensi $3.400 memicu tekanan jual. Analis pasar utama di FxPro, Alex Kuptsikevich, mencatat bahwa transisi dari tren naik ke dukungan horizontal merupakan indikasi melemahnya momentum. Selain itu, aliran dana keluar dari produk ETF Bitcoin spot juga tercatat, dengan sekitar $394,68 juta keluar pada 16 Januari, mengakhiri empat hari berturut-turut arus masuk positif sebelumnya.
Volatilitas yang tinggi ini menggarisbawahi pentingnya manajemen risiko, terutama bagi para pedagang yang menggunakan leverage tinggi di pasar kripto. Korelasi Bitcoin dengan pasar tradisional, khususnya S&P 500 yang sempat menunjukkan korelasi 70% selama periode tekanan, menegaskan peran aset digital sebagai aset berisiko yang sensitif terhadap faktor makroekonomi. Meski demikian, industri kripto dinilai semakin matang, dan minat institusional terhadap aset digital tetap ada, terlihat dari arus masuk bersih ETF Bitcoin spot sebesar $1,42 miliar dan ETF Ethereum spot sebesar $479 juta selama seminggu terakhir, mencatat rekor tertinggi sejak Oktober 2025.
Ke depan, para pelaku pasar akan mencermati perkembangan kebijakan makroekonomi global, termasuk data inflasi AS yang akan dirilis pada Selasa, 20 Januari, serta putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan presiden dalam memberlakukan tarif. Diskusi mengenai Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) di Senat AS pada Januari 2026 juga berpotensi memberikan kejelasan regulasi yang lebih baik, meskipun saat ini masih menjadi sumber ketidakpastian. Analis memprediksi bahwa jika tekanan makroekonomi dan ketidakpastian regulasi berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji kembali level support yang lebih rendah, bahkan hingga $67.000-$74.000. Namun, dengan terus meningkatnya adopsi institusional dan inovasi teknologi, pasar kripto diperkirakan akan terus beradaptasi dan menemukan keseimbangan baru di tengah dinamika global.