Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IHSG Meroket, Ukir Rekor Tertinggi Sepanjang Masa pada 19 Januari 2026

2026-01-19 | 18:02 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T11:02:15Z
Ruang Iklan

IHSG Meroket, Ukir Rekor Tertinggi Sepanjang Masa pada 19 Januari 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mencetak rekor tertinggi baru pada penutupan perdagangan Senin, 19 Januari 2026, ditutup menguat 0,64% ke level 9.133,87. Capaian ini menjadi penutupan tertinggi sepanjang masa dan sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di 9.140, menegaskan optimisme pasar terhadap fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Penguatan IHSG hari ini didorong oleh dominasi saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, ekspektasi kebijakan moneter Bank Indonesia yang akomodatif, serta arus dana asing yang terus masuk ke pasar modal domestik. Mayoritas indeks saham unggulan seperti LQ45, Jakarta Islamic Index (JII), dan Indeks KOMPAS100 turut menguat sejalan dengan IHSG. Nilai transaksi pada sesi pertama mencapai Rp543,79 miliar dengan 718,13 juta saham diperdagangkan, dan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mendekati US$1 triliun atau sekitar Rp16.639 triliun.

Kenaikan signifikan IHSG sepanjang awal tahun 2026 tidak terlepas dari sejumlah faktor fundamental yang menopang ekonomi Indonesia. Prospek ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap kuat, didukung stabilitas makro, arus investasi, serta perluasan basis industri dan hilirisasi. PT Insight Investments Management (PT IIM) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026, ditopang konsumsi domestik, inflasi terkendali, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan optimisme bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih baik dengan kebijakan fiskal dan moneter yang semakin sinkron, bahkan menargetkan pertumbuhan 6% pada 2026. Danantara Indonesia juga memproyeksikan kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi penopang utama perekonomian nasional pada 2026, dengan arah kebijakan pemerintah yang bergeser menuju pro-pertumbuhan.

Namun, prospek cerah ini juga dibayangi tantangan global. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland, serta penantian rilis data ekonomi penting dari China, menyebabkan mayoritas pasar Asia-Pasifik justru melemah pada perdagangan hari ini. Di sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp16.935-Rp16.955 per dolar AS juga menjadi perhatian, meskipun tidak menghambat laju penguatan IHSG. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini untuk menjaga stabilitas rupiah dan daya tarik aset keuangan.

Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai penguatan IHSG didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) yang mendorong masuknya aliran dana asing. Meskipun terjadi jual bersih investor asing di pasar SBN pada pekan lalu, pasar saham justru mencatat beli bersih yang signifikan. Pada periode 5-8 Januari 2026, nonresiden mencatat beli neto sebesar Rp1,44 triliun, terdiri dari beli neto Rp1,78 triliun di pasar saham dan Rp1,04 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Pemerintah juga menargetkan investasi baru senilai Rp2.100 triliun pada 2026, dengan fokus pada sektor berkelanjutan seperti Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dan ekonomi digital, yang diminati investor global. Sektor industri pengolahan, khususnya hilirisasi komoditas seperti nikel dan tembaga, diproyeksi masih akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

Kendati IHSG mencetak rekor baru, sejumlah analis seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati potensi koreksi jangka pendek dan pergerakan konsolidatif. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas pekan ini, dengan support di 9.000 dan resistance di 9.200, seiring penantian keputusan suku bunga BI. Para analis dari Mirae Asset Sekuritas hingga BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menembus level 10.000 pada akhir 2026, didukung oleh fundamental pasar modal nasional yang matang. Optimisme ini menggarisbawahi kepercayaan bahwa momentum kenaikan IHSG didukung oleh struktur yang lebih sehat karena ditopang oleh berbagai sektor, bukan hanya kelompok saham tertentu.