
Penyelesaian instalasi pabrik baterai kendaraan listrik (EV) PT HLI Green Power di Karawang New Industry City, Jawa Barat, menandai langkah signifikan Indonesia dalam mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Pabrik hasil usaha patungan antara Hyundai Motor Company, LG Energy Solution, dan Indonesia Battery Corporation (IBC) ini, yang memulai produksi komersial pada April 2024, merupakan fasilitas sel baterai EV pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Investasi sebesar 1,1 miliar dolar AS untuk fase pertama fasilitas HLI Green Power ini menghasilkan kapasitas produksi tahunan 10 gigawatt-jam (GWh), cukup untuk memasok lebih dari 150.000 kendaraan listrik. Rencana ekspansi fase kedua senilai 2 miliar dolar AS akan meningkatkan kapasitas menjadi 20 GWh, dengan total proyeksi mencapai 30 GWh setelah beroperasi penuh. Presiden Joko Widodo menyatakan, "Dengan pabrik ini, bersama dengan smelter, kita akan menjadi pemain kunci dalam rantai pasok kendaraan listrik." Pernyataan ini menegaskan ambisi Indonesia untuk bergerak dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen bernilai tambah tinggi di industri global.
Latar belakang kebijakan "hilirisasi" sumber daya mineral Indonesia menjadi pendorong utama investasi ini. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, mencakup antara 22 hingga 42,5 persen dari total global dan menyumbang 50-60 persen produksi nikel dunia, Indonesia bertekad memanfaatkan dominasinya dalam bahan baku krusial ini. Larangan ekspor bijih nikel mentah pada tahun 2020 secara fundamental mengubah rantai pasok global, memaksa investor asing untuk membangun fasilitas pemrosesan di dalam negeri. Strategi ini bertujuan menciptakan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih besar; bijih nikel mentah dihargai sekitar 30-50 dolar AS per ton, sementara nikel sulfat murni untuk baterai mencapai 15.000-20.000 dolar AS per ton.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Rosan Roeslani, pada Februari 2025, mengungkapkan komitmen pemerintah untuk mempercepat pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060, bahkan lebih cepat. Ia juga mencatat bahwa produksi mobil listrik Indonesia saat ini sekitar 1,2 juta unit per tahun dan diproyeksikan mencapai 2,5 juta unit pada tahun 2030. Target pemerintah secara keseluruhan adalah memproduksi 600.000 EV pada tahun 2030 dan meningkatkan kapasitas produksi baterai EV hingga 140 GWh per tahun pada periode yang sama, mencakup 4 hingga 9 persen dari permintaan global.
Namun, perjalanan menuju dominasi industri EV tidak lepas dari tantangan. Meskipun Indonesia berhasil menarik lebih dari 30 miliar dolar AS dalam investasi asing berkat Peraturan Presiden No. 55/2019, yang menguraikan peta jalan produksi EV dan baterai, kemajuan masih tidak merata. Adopsi kendaraan listrik di dalam negeri masih rendah dibandingkan target, dengan hanya 17.051 unit mobil listrik dan 59.000 unit sepeda motor listrik terjual pada tahun 2023, jauh di bawah target masing-masing 5 persen dan 0,95 persen dari pangsa pasar. Infrastruktur pengisian daya juga masih terbatas, dengan hanya 1.620 stasiun pengisian publik terpasang dibandingkan target 2.960.
Isu lingkungan juga menjadi sorotan. Pemrosesan nikel yang intensif energi, terutama dari bijih nikel kadar rendah melalui teknik High-Pressure Acid Leaching (HPAL), menimbulkan kekhawatiran tentang limbah beracun dan emisi CO2. Sektor nikel Indonesia dapat menyebabkan kapasitas batubara captive mencapai 32 gigawatt pada tahun 2031 jika tidak ada intervensi regulasi, yang dapat menghambat kepatuhan terhadap peraturan rendah karbon di pasar Barat. Tantangan lain termasuk ketergantungan pada teknologi asing, terutama dari Tiongkok, yang mengontrol sekitar 75 persen kapasitas peleburan nikel Indonesia, serta kebutuhan untuk meningkatkan kandungan lokal dan transfer keahlian.
Meskipun demikian, insentif pemerintah, seperti pengurangan PPN dari 11 persen menjadi 1 persen untuk EV dengan kandungan lokal lebih dari 40 persen, pembebasan pajak penjualan barang mewah, dan pembebasan bea masuk hingga 2025, dirancang untuk mendorong produksi dan penjualan EV. Kehadiran pabrik HLI Green Power dan komitmen investasi besar lainnya menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang benar untuk mengubah cadangan nikelnya menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam era elektrifikasi global. Menteri Perdagangan Korea Selatan Jeong In-kyo optimis, "Saya yakin EV Indonesia dengan baterainya akan segera dipasarkan di ASEAN dan pasar global." Pengembangan ekosistem terintegrasi dari penambangan nikel hingga produksi baterai dan kendaraan adalah kunci untuk mewujudkan visi Indonesia menjadi pemain global penting di industri EV.