Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengintip 10 Saham Raksasa BEI Pasca IHSG Terbang ke 9.075

2026-01-19 | 06:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T23:19:12Z
Ruang Iklan

Mengintip 10 Saham Raksasa BEI Pasca IHSG Terbang ke 9.075

Pada Kamis, 15 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) secara historis menembus level psikologis 9.075,406 pada penutupan perdagangan, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) baru. Indeks bahkan sempat menyentuh 9.100,82 intraday. Pencapaian ini dibarengi lonjakan kapitalisasi pasar bursa menjadi Rp16.512 triliun, didorong optimisme investor terhadap fundamental ekonomi domestik yang kuat dan aliran dana asing yang signifikan.

Kinerja cemerlang IHSG ini merupakan puncak dari tren penguatan yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026, melanjutkan momentum positif dari tahun sebelumnya. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengonfirmasi pencapaian historis tersebut, yang turut ditopang oleh peningkatan rata-rata nilai transaksi harian bursa sebesar 3,87 persen menjadi Rp32,68 triliun per hari selama periode 12-15 Januari 2026. Investor asing juga menunjukkan kepercayaan tinggi dengan membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp7,30 triliun sepanjang tahun 2026 berjalan hingga 15 Januari.

Sejumlah emiten berkapitalisasi pasar besar memainkan peran kunci dalam mendorong laju IHSG ke level rekor ini. Berdasarkan data awal Januari 2026, dominasi emiten konglomerat dan perbankan BUMN tetap kokoh di puncak daftar kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

Sepuluh Emiten Kapitalisasi Pasar Terbesar di BEI (per awal Januari 2026, konsolidasi dari berbagai sumber):

1. PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) dengan kapitalisasi pasar Rp1.268 triliun pada 9 Januari 2026.
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kapitalisasi pasar Rp992 triliun pada 9 Januari 2026.
3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan kapitalisasi pasar Rp795 triliun pada 9 Januari 2026.
4. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan kapitalisasi pasar Rp592 triliun pada 9 Januari 2026.
5. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan kapitalisasi pasar Rp582 triliun pada 9 Januari 2026.
6. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Emiten perbankan pelat merah ini konsisten menjadi salah satu pendorong utama penguatan IHSG. Kapitalisasi pasar BBRI tercatat Rp549 triliun pada akhir 2025.
7. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Bank berkapitalisasi besar ini juga menjadi salah satu saham paling aktif berdasarkan nilai transaksi pada 15 Januari 2026.
8. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Perusahaan telekomunikasi plat merah ini secara historis selalu masuk jajaran teratas kapitalisasi pasar di Indonesia.
9. PT Astra International Tbk (ASII). Konglomerasi ini secara konsisten menjadi salah satu kontributor utama penguatan IHSG.
10. PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Emiten batu bara ini memiliki sejarah kapitalisasi pasar yang signifikan di BEI.

Kenaikan IHSG ke 9.075 didorong oleh berbagai sentimen positif, baik dari domestik maupun global. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyoroti ekspektasi berlanjutnya penurunan suku bunga acuan The Fed, kenaikan harga komoditas global, serta aliran masuk dana investor asing yang masif. Dari dalam negeri, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyoroti stabilitas ekonomi nasional yang solid, surplus neraca perdagangan, dan inflasi yang terjaga sebagai faktor pendorong utama. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, melihat rekor ini sebagai cerminan ekspektasi tinggi masyarakat dan pelaku usaha terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

Namun, optimisme ini juga diiringi beberapa tantangan. Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mencatat penguatan IHSG awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang kurang menggembirakan seperti inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, dan defisit fiskal yang melebar. Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus Rp16.800 per dolar AS juga menjadi perhatian, membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Ekonom juga mengingatkan adanya risiko fiskal di balik euforia pasar, serta potensi aksi ambil untung dalam jangka pendek setelah kenaikan signifikan.

Meskipun demikian, prospek pasar modal Indonesia untuk tahun 2026 diproyeksikan tetap konstruktif. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahkan memproyeksikan IHSG dapat menembus 10.500, didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan potensi keselarasan kebijakan moneter dan fiskal. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengekspektasikan pertumbuhan investasi baik asing maupun domestik akan berlanjut di tahun 2026. Efektivitas program pemerintah dan menjaga stabilitas fiskal akan menjadi kunci untuk mempertahankan momentum pemulihan dan menarik lebih banyak investasi. Pasar saham Indonesia dinilai masih menawarkan valuasi yang menarik dibandingkan bursa negara maju, menjadikannya primadona di Asia.