Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Logistik Aceh Makin Lancar Berkat Rampungnya 2 Jembatan Vital

2026-01-22 | 19:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T12:23:42Z
Ruang Iklan

Logistik Aceh Makin Lancar Berkat Rampungnya 2 Jembatan Vital

Dua jembatan vital di Provinsi Aceh, Jembatan Bailey Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen dan Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, kini telah rampung dan kembali fungsional, secara signifikan memulihkan arus logistik dan mobilitas masyarakat yang sebelumnya terhambat pasca-banjir bandang dahsyat pada akhir November 2025. Jaringan transportasi utama yang sempat terputus, termasuk ruas nasional Banda Aceh-Medan dan lintas timur Aceh, kini telah tersambung kembali, menandai langkah krusial dalam pemulihan konektivitas regional.

Banjir bandang pada 27 November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur jalan dan jembatan di berbagai wilayah Aceh, melumpuhkan jalur distribusi barang dan akses masyarakat. Jembatan Krueng Tingkeum, yang merupakan bagian integral dari jalur nasional Banda Aceh-Medan, terputus total. Kondisi serupa menimpa Jembatan Krueng Meureudu di lintas timur Aceh. Kerusakan ini menimbulkan disrupsi ekonomi yang meluas, menghambat distribusi kebutuhan pokok, dan mengisolasi sejumlah komunitas. Data Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat sebanyak 38 ruas jalan nasional dan 16 jembatan nasional di Aceh terdampak bencana kala itu, meskipun seluruhnya kini telah kembali fungsional.

Jembatan Bailey Krueng Tingkeum di Bireuen, yang merupakan solusi darurat, dibangun dalam waktu 18 hari oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk berkolaborasi dengan kontraktor lokal PT Krueng Meuh dan didukung oleh 33 personel Zeni Kodam Iskandar Muda. Jembatan sementara sepanjang lebih dari 60 meter ini memiliki kapasitas hingga 30 ton, memungkinkan dilalui kendaraan roda dua hingga truk logistik. Direktur Utama ADHI Moeharmein Zein Chaniago menyatakan bahwa akses infrastruktur merupakan pondasi pemulihan, karena fungsi jalan dan jembatan yang kembali akan menggerakkan distribusi bantuan, aktivitas ekonomi, dan layanan publik secara bersamaan. Sementara itu, Jembatan Krueng Meureudu di Pidie Jaya telah kembali fungsional setelah penanganan darurat rampung pada 12 Desember 2025, memperlancar kembali transportasi antarwilayah.

Penyelesaian dua jembatan ini menjadi katalisator bagi pemulihan ekonomi lokal. Arus pasar lintas wilayah yang sebelumnya terputus kini terbuka kembali, memungkinkan distribusi kebutuhan pokok yang sempat melambat berangsur normal, dan layanan publik menjangkau masyarakat secara lebih merata. Selain dua jembatan tersebut, upaya pemulihan infrastruktur darurat juga dilakukan oleh TNI, yang telah merampungkan pembangunan Jembatan Bener Kelipah di Kabupaten Bener Meriah dan Jembatan Krueng Pelang (Totor Pelang) di Kabupaten Aceh Tengah pada pertengahan Januari 2026. Kedua jembatan ini vital dalam menghubungkan kembali kecamatan-kecamatan yang sempat terisolasi dan menggerakkan kembali aktivitas ekonomi di 16 desa yang terdampak. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang mengembalikan akses tersebut, menyatakan bahwa masyarakat kini bisa bergerak kembali dan ekonomi mulai pulih.

Di tengah upaya pemulihan darurat ini, Kementerian Pekerjaan Umum juga mempercepat pembangunan jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap bencana. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa percepatan pembangunan jembatan permanen menjadi prioritas utama. Kementerian PU telah memulai pengerjaan delapan jembatan permanen pada Januari 2026, termasuk jembatan permanen kembar sepanjang sekitar 150 meter untuk menggantikan Jembatan Krueng Tingkeum yang lama, serta Jembatan Krueng Meureudu. Total 20 jembatan permanen dan 68 titik longsoran di seluruh Aceh ditargetkan rampung secara bertahap hingga Juni 2026. Dody Hanggodo menjelaskan, pembangunan permanen membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan, dirancang dengan perhitungan teknis matang untuk memastikan keamanan, keandalan, dan keberlanjutan. Langkah strategis ini bertujuan tidak hanya untuk mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga untuk membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan adaptif terhadap potensi bencana hidrometeorologi di masa depan, demi menjamin konektivitas yang berkelanjutan dan mendukung pertumbuhan ekonomi regional.