
Beberapa perusahaan pelayaran global mulai kembali menggunakan Laut Merah dan Terusan Suez pada Januari 2026, setelah periode panjang pengalihan rute sekitar Tanjung Harapan yang dipicu oleh serangan kelompok Houthi di Yaman. Keputusan ini, yang dipimpin oleh raksasa perkapalan Maersk dan diikuti oleh CMA CGM, menandai titik balik signifikan bagi rantai pasok global, meskipun dengan kehati-hatian tinggi dan risiko yang masih ada.
Latar Belakang Krisis dan Dampak Pengalihan Rute
Sejak November 2023, serangan Houthi terhadap kapal komersial di Laut Merah, yang diklaim sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina di Gaza, memaksa sebagian besar perusahaan pelayaran besar mengalihkan rute mereka. Rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan menambah waktu perjalanan sekitar 10 hingga 14 hari untuk pelayaran Asia-Eropa, meningkatkan biaya bahan bakar, premi asuransi maritim, dan tarif pengiriman. Dampak ekonomi ini terasa luas, mulai dari kenaikan harga barang hingga gangguan produksi industri yang mengandalkan pengiriman tepat waktu (just-in-time). Otoritas Terusan Suez (SCA) juga melaporkan penurunan pendapatan yang tajam, dengan perkiraan pendapatan 2024 turun lebih dari 60 persen dan proyeksi 2025 sekitar 4,1 miliar dolar AS. Sebelum krisis, Terusan Suez menangani sekitar 10-12 persen perdagangan maritim global.
Langkah Bertahap Kembali ke Laut Merah
Maersk, yang sebelumnya menjadi salah satu operator paling berhati-hati, mengumumkan pada 15 Januari 2026 bahwa salah satu layanannya, MECL (menghubungkan Timur Tengah dan India dengan Pantai Timur AS), akan kembali menggunakan rute Laut Merah dan Terusan Suez mulai 26 Januari, dengan keberangkatan pertama dari pelabuhan Salalah, Oman. Keputusan ini diambil setelah serangkaian uji coba yang berhasil oleh kapal Maersk Sebarok pada Desember 2025 dan Maersk Denver pada Januari 2026. Maersk menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada "stabilisasi kondisi yang berkelanjutan di dalam dan sekitar Laut Merah, termasuk koridor Suez, serta peningkatan stabilitas dan keandalan di wilayah tersebut." Perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM telah lebih dulu kembali menggunakan koridor tersebut pada awal Januari untuk layanan India-AS INDAMEX-nya, dan sebelumnya telah melakukan transit terbatas ketika kondisi keamanan memungkinkan. Perusahaan seperti MSC juga telah mengirimkan kapal melalui Terusan Suez pada Januari.
Data statistik terbaru menunjukkan peningkatan jumlah transit kapal kontainer melalui Terusan Suez. Jumlah kapal kontainer yang berlayar melalui Terusan Suez meningkat menjadi 26 pada minggu yang berakhir 11 Januari 2026, naik dari 10 transit pada minggu sebelumnya, menurut Drewry Shipping Consultants. Namun, angka ini masih jauh di bawah tingkat normal sebelum krisis, yang biasanya sekitar 80 kapal kontainer per minggu. Meskipun demikian, peningkatan ini dilihat sebagai indikator bahwa operator global mulai menguji navigasi di Laut Merah lagi.
Faktor Pendorong dan Keamanan yang Masih Rawan
Pemicu utama di balik keputusan untuk kembali adalah tekanan ekonomi dan persaingan untuk efisiensi. Rute Suez dapat memangkas waktu transit hingga satu minggu, yang sangat menarik bagi pelanggan yang mencari waktu pengiriman yang lebih efisien dan biaya yang lebih rendah. Premi asuransi risiko perang untuk transit Laut Merah juga telah menurun secara signifikan menjadi sekitar 0,2% dari nilai lambung kapal dari 0,5% sebelum gencatan senjata di Gaza pada Oktober 2025. Gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang berlaku sejak Oktober tahun lalu, juga telah meningkatkan harapan normalisasi lalu lintas Laut Merah.
Namun, situasi keamanan tetap sangat volatil. Meskipun serangan Houthi telah mereda, kelompok tersebut belum secara resmi menarik ancaman mereka. Para ahli memperingatkan bahwa risiko serangan dapat kembali meningkat, terutama jika konflik di Gaza kembali memanas atau jika ada operasi militer AS atau Israel terhadap Iran. Peter Sand, kepala analis di platform penetapan harga Xeneta, menyatakan bahwa Maersk secara umum paling enggan mengambil risiko di antara operator besar terkait kembali ke Laut Merah, sehingga langkah ini merupakan "titik balik yang sangat signifikan", namun bukan berarti kembalinya skala besar secara langsung. Mads Drejer, Chief Commercial Officer Global di Scan Global Logistics, menyoroti bahwa meskipun risiko dan keamanan tetap menjadi perhatian utama, sebagian besar pelanggan akan menyambut baik kembali ke waktu transit yang lebih cepat melalui Laut Merah dan Suez.
Implikasi bagi Rantai Pasok Global dan Pasar
Kembalinya kapal-kapal melalui Terusan Suez diperkirakan akan memberikan tekanan pada tarif angkutan. Niels Rasmussen, Kepala Analis Perkapalan di BIMCO, memperkirakan normalisasi penuh akan mengurangi permintaan kapal kontainer sekitar 10 persen. Analis dari bank Skandinavia SEB memprediksi bahwa tarif akan memburuk karena pelepasan pasokan yang efektif akan memiliki dampak signifikan pada penawaran/permintaan. Philip Damas, direktur pelaksana konsultan pengiriman Drewry, menambahkan bahwa kembalinya rute Terusan Suez adalah salah satu faktor kunci yang mempengaruhi kapasitas, tarif pengiriman, waktu transit, dan konsumsi bahan bakar tahun ini.
Selain itu, transisi kembali ke rute trans-Suez diperkirakan akan menciptakan volatilitas tambahan dalam rantai pasok. Model pasar yang diterbitkan dalam Maersk Global Market Update Winter 2026 menyoroti bagaimana transisi ini dapat memadatkan kedatangan kapal ke Eropa, meningkatkan risiko kemacetan, inventaris, dan peralatan di pelabuhan-pelabuhan Eropa yang sudah mendekati kapasitasnya. Johan Sigsgaard, Chief Product Officer for Ocean di A.P. Moller Maersk, menggambarkan pergeseran kembali ke transit Timur-Barat sebagai sesuatu yang inheren volatil, mencatat bahwa meskipun sebagian transisi dapat direncanakan, "perubahan sebesar ini memperkenalkan gangguan yang cukup besar pada jaringan".
Kehati-hatian tetap menjadi kata kunci di industri ini. Operator yang lebih besar diperkirakan akan meningkatkan transit melalui Suez secara bertahap, memantau pasar asuransi, perilaku pesaing, dan potensi kemacetan pelabuhan. Niels Rasmussen dari BIMCO mencatat bahwa lalu lintas Suez masih turun 60 persen pada minggu pertama tahun 2026 dibandingkan dengan tahun 2023, menunjukkan bahwa jeda sementara dalam permusuhan tidak cukup untuk memicu kembalinya lalu lintas skala besar. Meskipun demikian, prospek jangka panjang menunjukkan bahwa kembalinya ke Laut Merah akan menjadi pengubah permainan bagi perkapalan kontainer pada tahun 2026. Namun, tidak ada jaminan kekebalan penuh terhadap gangguan, dan perusahaan pelayaran telah mengembangkan rencana kontingensi untuk mengalihkan rute kembali ke Tanjung Harapan jika situasi keamanan memburuk.