Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Whoosh Jadi Primadona: 22.000 Penumpang Diprediksi Padati Libur Panjang

2026-01-16 | 18:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T11:33:07Z
Ruang Iklan

Whoosh Jadi Primadona: 22.000 Penumpang Diprediksi Padati Libur Panjang

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memproyeksikan sebanyak 22.000 hingga 23.000 penumpang akan menggunakan layanan kereta cepat Whoosh per hari selama periode libur panjang akhir pekan bertepatan dengan Hari Raya Isra Mi'raj pada 15-18 Januari 2026. Angka ini menandai lonjakan signifikan dibandingkan rata-rata harian pada hari kerja biasa yang berada di kisaran 16.000-18.000 penumpang per hari. Peningkatan ini didorong oleh tingginya minat masyarakat Jakarta dan sekitarnya untuk berlibur ke Bandung, dengan penjualan tiket dari Stasiun Halim menunjukkan okupansi di atas 80 persen, bahkan beberapa jadwal pagi telah habis terjual.

General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menyatakan bahwa antisipasi lonjakan telah dilakukan dengan penambahan jadwal perjalanan Whoosh menjadi 62 jadwal per hari, dengan interval keberangkatan setiap 30 menit. Hal ini lebih tinggi dibandingkan operasional awal pada Oktober 2023 yang hanya 14 perjalanan per hari, dan terus bertambah menjadi 48 perjalanan per hari sejak Mei 2024. Penambahan kapasitas ini juga didukung oleh pengoperasian penuh Whoosh oleh Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sejak 10 April 2025, termasuk masinis dan teknisi, menandai kemandirian Indonesia dalam mengoperasikan moda transportasi modern ini.

Secara historis, Whoosh telah mencatat rekor penumpang harian tertinggi pada 10 Mei 2025 dengan 25.316 penumpang, melampaui rekor sebelumnya 24.350 penumpang pada 27 Januari 2025. Pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Whoosh melayani rata-rata 22.000-24.000 penumpang per hari, dengan total 225.000 tiket terjual selama 18-28 Desember 2025. Angka ini meningkat 20-30 persen dibandingkan hari biasa dan menunjukkan tren pertumbuhan kepercayaan publik.

Meskipun menunjukkan performa operasional yang menjanjikan, proyek Kereta Cepat Whoosh masih menghadapi tantangan ekonomi yang substansial. Total utang proyek mencapai sekitar 7,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp120,38 triliun, dengan 75 persen dibiayai pinjaman China Development Bank. Pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS telah menambah beban utang baru. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, bahkan menyebut kondisi keuangan proyek sudah bermasalah sejak awal dan menegaskan tidak ada permintaan penggunaan APBN untuk menanggung utang KCIC. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sedang mencari solusi pendanaan untuk restrukturisasi utang ini, termasuk opsi melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atau dukungan dari Kementerian Keuangan.

Para analis dan pejabat telah menyoroti bahwa proyek ini sejak awal lebih merupakan investasi sosial jangka panjang untuk mengatasi kemacetan dan menumbuhkan titik ekonomi baru, bukan semata-mata mencari laba finansial. Namun, untuk menutup utang yang bernilai miliaran dolar, Whoosh harus beroperasi dengan tingkat okupansi yang luar biasa tinggi dan stabil selama puluhan tahun. Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, menekankan pentingnya pengembangan ekosistem transportasi yang terintegrasi antara kereta cepat dengan moda transportasi lokal serta pusat-pusat ekonomi daerah untuk mengoptimalkan potensi katalisator ekonomi Whoosh. Integrasi intermoda yang telah ada di stasiun Halim, Padalarang, dan Tegalluar dengan LRT Jabodebek, KA Feeder, bus, taksi, dan transportasi daring menjadi krusial untuk mobilitas penumpang dan pengembangan kawasan.

Ke depan, keberlanjutan Whoosh akan sangat bergantung pada kemampuan KCIC dan pemerintah dalam menyeimbangkan antara peningkatan jumlah penumpang yang terus tumbuh dan penyelesaian tantangan finansial yang membayangi. Potensi perluasan jalur hingga Surabaya juga memerlukan penyelesaian finansial proyek saat ini sebagai langkah penting. Implementasi strategi peningkatan nilai tambah lokal dan reorientasi strategi pembiayaan dapat menjadi kunci agar proyek ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan bagi Indonesia.