
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia menargetkan lifting minyak bumi mencapai 610 ribu barel per hari (bph) pada tahun 2026, sebuah kenaikan signifikan dari target 2025 sebesar 605 ribu bph yang berhasil dicapai. Pencapaian target 2025 menandai pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir target lifting APBN terpenuhi, dengan realisasi rata-rata 605,3 ribu bph termasuk Natural Gas Liquid (NGL). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah akan mengimplementasikan serangkaian strategi agresif untuk mencapai target 2026 dan ambisi jangka panjang 1 juta bph pada 2030, di tengah tantangan penurunan produksi alamiah sumur-sumur tua dan keterbatasan cadangan.
Sejarah produksi minyak Indonesia menunjukkan tren penurunan yang signifikan sejak mencapai puncak 1,5-1,6 juta bph pada tahun 1997, turun menjadi hanya 577 ribu bph pada 2024. Pada tahun 2024, realisasi lifting minyak bumi sekitar 579,7 ribu bph, lebih rendah dari target APBN 2024 sebesar 635 ribu bph. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa cadangan terbukti minyak bumi Indonesia terus menurun, dari 5,12 miliar barel pada tahun 2000 menjadi 2,29 miliar barel pada 2024. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menekankan pentingnya menjaga laju penurunan produksi dan mencari substitusi untuk menambal kehilangan produksi, seperti yang terjadi akibat ledakan pipa gas di Rokan pada Januari 2026 yang menyebabkan estimasi kehilangan produksi sekitar 2 juta barel selama 20 hari.
Untuk mengatasi tantangan ini, Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyiapkan berbagai jurus. Salah satu strategi utama adalah melanjutkan proyek Enhanced Oil Recovery (EOR), yang sudah dimulai di beberapa lokasi dan akan terus dikembangkan. Lapangan Duri menjadi proyek steamflooding terbesar di dunia selama lebih dari 30 tahun, sementara Lapangan Minas diproyeksikan menjadi lapangan Chemical EOR (CEOR) pertama di Indonesia setelah lebih dari 80 tahun berproduksi. EOR melibatkan injeksi zat seperti uap, gas CO2, atau bahan kimia ke reservoir untuk meningkatkan perolehan minyak dari sumur yang produksinya menurun.
Selain EOR, pemerintah juga fokus pada penggarapan sumur-sumur idle (sumur yang tidak aktif), optimalisasi sumur eksisting dengan penerapan teknologi, dan percepatan eksekusi proyek-proyek baru. SKK Migas mencatat peningkatan aktivitas utama hulu migas, dengan pemboran sumur pengembangan mencapai 409 sumur hingga Juni 2025, meningkat 14% dibandingkan periode yang sama 2024. Kegiatan workover meningkat 6% menjadi 517 sumur, dan well service mencapai 20.644 kegiatan atau meningkat 12%.
Investasi di sektor hulu migas juga menjadi perhatian krusial. Realisasi investasi hulu migas hingga semester I-2025 meningkat 28,6% menjadi US$ 7,19 miliar dibandingkan periode yang sama 2024. Outlook realisasi investasi hingga akhir 2025 diperkirakan mencapai US$ 16,5 miliar hingga US$ 16,9 miliar, melampaui realisasi 2024 sebesar US$ 14,4 miliar dan menjadi investasi terbesar dalam 10 tahun terakhir. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan iklim investasi, penemuan cadangan besar pada 2023 dan 2024, serta perbaikan sistem fiskal oleh pemerintah. Investasi eksplorasi juga menunjukkan tren positif, mencapai US$ 1,3 miliar pada 2024 dan diproyeksikan US$ 1,5 miliar pada 2025, menjadi investasi eksplorasi terbesar dalam satu dekade terakhir.
Pemerintah juga berencana mempercepat perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas dan melakukan lelang terhadap sekitar 75 blok minyak baru, yang sebagian besar memiliki potensi di wilayah Papua dan Sulawesi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengindikasikan bahwa perizinan akan dipermudah untuk menarik investor dalam eksplorasi. Presiden Prabowo Subianto secara langsung meminta Menteri ESDM untuk memasifkan eksplorasi hulu migas dan memberikan kemudahan bagi investor.
Meskipun optimisme meningkat, tantangan tetap membayangi. Penurunan cadangan minyak, tingginya usia lapangan produksi (60% wilayah kerja migas tergolong lapangan tua), dan kebutuhan teknologi mahal untuk mempertahankan produksi menjadi hambatan signifikan. Ketergantungan impor minyak mentah dan BBM yang rata-rata mencapai 1 juta bph menunjukkan bahwa peningkatan produksi domestik menjadi sangat vital untuk ketahanan energi nasional. Tanpa terobosan kebijakan dan insentif signifikan, eksplorasi baru mungkin tidak akan menarik bagi investor. Namun, dengan strategi yang komprehensif dari peningkatan investasi, penerapan teknologi EOR, revitalisasi sumur, hingga percepatan eksplorasi blok-blok baru, pemerintah berupaya keras membalikkan tren penurunan produksi dan memenuhi kebutuhan energi domestik.