
PT Pertamina (Persero) menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan menyiapkan insinyur masa depan yang adaptif terhadap transformasi industri energi. Kolaborasi ini melibatkan 419 perwira Pertamina dari berbagai entitas bisnis yang akan mengikuti program pendidikan profesi pada tahun 2026. Program ini secara resmi dibuka pada 8 Januari 2026 di Bandung, dengan durasi dua semester akademik.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap dinamika industri energi global yang ditandai oleh transformasi digital dan pergeseran menuju energi bersih. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa Pertamina, yang telah menjadi rumah bagi insinyur Indonesia selama lebih dari enam dekade, menjadikan penguatan SDM sebagai strategi utama. Simon menyatakan, melalui sinergi dengan ITB, perusahaan bertujuan mencetak insinyur yang unggul secara teknis, memiliki daya analisis kuat, menjunjung etika profesional, serta mampu beradaptasi dengan perubahan industri.
Direktur SDM Pertamina Andy Arvianto menambahkan, pengembangan kompetensi melalui pendidikan profesi merupakan investasi strategis jangka panjang bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan energi nasional. Pihaknya memastikan setiap perwira memiliki akses luas terhadap peningkatan kapasitas diri agar tetap relevan, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan bisnis yang terus berkembang.
Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara menilai program kerja sama ini sebagai langkah konkret dalam membangun kualitas SDM unggul di sektor energi. Program PSPPI tidak hanya memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, tetapi juga memastikan para insinyur Indonesia memiliki kompetensi teknis kelas dunia, wawasan global, karakter kuat, serta menjunjung tinggi etika profesi.
Konteks historis menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam jumlah dan kualitas insinyur. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat hanya sekitar 2.671 insinyur per 1 juta penduduk di Indonesia, jauh di bawah Vietnam (9.000 insinyur per 1 juta penduduk) dan Korea Selatan (25.000 insinyur per 1 juta penduduk). Wakil Presiden RI K.H. Ma'ruf Amin pada tahun 2021 bahkan menyebut Indonesia masih memerlukan antara 300 ribu hingga 1 juta insinyur. Kesenjangan keterampilan ini menjadi krusial, terutama dalam menghadapi tuntutan baru dan perkembangan teknologi di sektor energi terbarukan, seperti pengembangan proyek, desain sistem, konstruksi, pengujian, serta operasi dan pemeliharaan.
Kolaborasi ini mencerminkan upaya Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Program PSPPI diharapkan tidak hanya memperkuat keunggulan operasional bisnis eksisting Pertamina, tetapi juga mendorong inovasi pengembangan bisnis baru, termasuk dalam transisi energi dan pengembangan energi hijau. ITB sendiri telah lama berperan sebagai pusat keilmuan yang menjembatani sains, kebijakan, dan implementasi di lapangan, serta secara aktif terlibat dalam pembahasan transisi energi Indonesia melalui forum seperti ITB Energy Transition Summit 2025. Sinergi antara akademisi dan industri ini merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem energi yang lebih bersih dan berketahanan di masa depan.