:strip_icc()/kly-media-production/medias/4277611/original/083761300_1672400408-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia anjlok 1,36% ke posisi 9.010,33 pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, di tengah aksi jual saham oleh investor asing yang mencapai Rp 1,88 triliun. Pelemahan signifikan ini terjadi setelah sebelumnya IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, menembus level psikologis 9.000 pada 14 Januari 2026, dan menunjukkan ketahanan konsumsi domestik serta optimisme terhadap kebijakan fiskal baru pemerintah.
Arus keluar dana asing ini dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik global yang meningkat serta kebijakan domestik yang memengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar. Associated Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyatakan bahwa IHSG melemah dengan volatilitas tinggi akibat aksi ambil untung. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap Eropa terkait Greenland telah memicu kekhawatiran pelaku pasar global, mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman seperti emas dan dolar AS, dan pada gilirannya menyebabkan keluarnya modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi domestik, kebijakan pemerintah mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) sebanyak 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan, turut menekan saham-saham berbasis Sumber Daya Alam (SDA) yang termasuk dalam kategori big caps. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) anjlok 14,93% ke Rp 27.200 per saham setelah pemerintah mencabut izin tambang emas Martabe yang dikelola anak usaha perseroan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,3 triliun. Saham perbankan berkapitalisasi besar (big bank) juga kompak melemah, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan utama, turun 3,75% ke level 7.700, didominasi oleh aksi jual asing sebesar Rp 751,1 miliar pada sesi pertama perdagangan hari itu. Secara keseluruhan, pada sesi pertama perdagangan, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp 1 triliun.
Meskipun Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate tetap di level 4,75% atau sesuai ekspektasi pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari yang sama, hal itu belum mampu menjadi katalis untuk menahan pelemahan IHSG. Keputusan tersebut menjadi kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga datang dari potensi perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI Inc. yang dijadwalkan akan diputuskan pada akhir Januari ini. Jika disetujui, kebijakan baru ini dapat diterapkan pada peninjauan indeks MSCI Mei mendatang dan berpotensi memicu arus keluar dana asing lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp32 triliun dari bursa domestik dalam beberapa bulan mendatang, mengingat Indonesia tercatat sebagai negara dengan rata-rata free float terendah di kawasan Asia. Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, menyebut langkah ini sebagai "ujian penting bagi agenda reformasi pasar modal Indonesia" dan menegaskan "perlunya peningkatan tata kelola untuk membuka partisipasi investor global serta aliran investasi jangka panjang".
Dalam jangka pendek, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai tekanan IHSG dipicu kombinasi sentimen geopolitik global dan isu domestik, menyebabkan pasar menghindari ketidakpastian dan dana beralih ke aset aman, berdampak pada pelemahan rupiah. Namun, ia juga sebelumnya optimistis bahwa pasar saham Indonesia diproyeksikan masuk tiga teratas di Asia pada tahun 2026, dengan HSBC menargetkan IHSG mencapai 9.450 pada akhir 2026, didorong daya tahan konsumsi domestik dan katalis fiskal pemerintah, asalkan ada sinkronisasi antara pemangkasan suku bunga The Fed dan BI untuk mendorong ekspansi margin laba emiten. Kontrasnya antara prospek jangka panjang dan gejolak saat ini menyoroti sensitivitas pasar modal terhadap dinamika eksternal dan perubahan kebijakan domestik. Investor kini memantau pidato Trump di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, dan KTT darurat Uni Eropa di Brussels, Belgia, untuk mencari kejelasan lebih lanjut mengenai arah sentimen global.