:strip_icc()/kly-media-production/medias/2935917/original/056992200_1570705752-20191010-IHSG-3.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia membukukan kenaikan signifikan sebesar 1,55% dalam sepekan, mencapai level rekor tertinggi sepanjang masa di 8.948,30 pada penutupan perdagangan Selasa, 13 Januari 2026. Penguatan pasar saham ini terjadi seiring dengan lonjakan harga emas dunia yang juga mencetak rekor, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global dan sentimen kehati-hatian terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Pada pekan yang berakhir 10 Januari 2026, harga emas dunia menguat sekitar 2,23%, melonjak dari US$4.411,14 per ons pada Senin menjadi US$4.509,34 per ons pada Jumat. Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh US$4.591 per troy ounce pada Selasa, 13 Januari 2026, dan diproyeksikan berpeluang menembus US$4.700 per troy ounce dalam waktu dekat. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa kenaikan ini didorong oleh kombinasi faktor politik di Amerika Serikat, sinyal kebijakan bank sentral yang hati-hati terkait penurunan suku bunga, serta memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan kegagalan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Data tenaga kerja AS yang di bawah ekspektasi pasar juga mengindikasikan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Korelasi antara pergerakan harga emas dan IHSG telah menjadi subjek analisis berulang. Meskipun beberapa studi historis menunjukkan bahwa secara parsial harga emas tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap IHSG, pengaruh signifikan dapat terlihat ketika variabel lain seperti nilai tukar juga dipertimbangkan secara simultan. Secara teoretis, dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung mencari aset yang aman, dan emas seringkali menjadi pilihan utama. Peningkatan minat pada emas dapat mengalihkan sebagian investasi dari pasar modal, yang secara logis dapat menekan IHSG. Namun, pada konteks saat ini, lonjakan harga komoditas, termasuk emas, justru memicu optimisme di sektor-sektor terkait di IHSG.
Emiten-emiten yang terkait dengan komoditas, khususnya emas dan nikel, menjadi incaran investor asing. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat net buy asing sekitar Rp632 miliar pada periode 1-9 Januari 2026, didorong ekspektasi kinerja positif dari kenaikan harga emas dan nikel. Demikian pula, PT Astra International Tbk (ASII) turut menikmati sentimen positif ini melalui prospek bisnis emas Grup Astra via United Tractors (UNTR), meskipun produksi komersial tambang Doup baru diproyeksikan dimulai pada 2028. Sektor bahan baku dan industri secara keseluruhan melonjak masing-masing 6,2% dan 6,19% pada pekan pertama Januari 2026, menunjukkan respons positif terhadap harga komoditas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah menyatakan optimismenya bahwa IHSG akan menyentuh level 10.000 pada tahun 2026, didasarkan pada sinkronisasi kebijakan pemerintah dan perbaikan ekonomi domestik. Namun, pasar tetap mencermati data ekonomi AS dan kebijakan moneter Federal Reserve, yang dapat memicu volatilitas. Bank Indonesia sendiri terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter yang fleksibel, termasuk pengaturan suku bunga acuan dan intervensi pasar untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global. Tantangan dari permintaan global yang melemah dan fluktuasi suku bunga internasional tetap menjadi perhatian, menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan dan mengatasi risiko geopolitik.