Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IHSG Loyo Dihantam Aksi Jual Asing Beruntun

2026-01-22 | 19:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T12:51:04Z
Ruang Iklan

IHSG Loyo Dihantam Aksi Jual Asing Beruntun

Investor asing melanjutkan tekanan jual signifikan di pasar modal Indonesia pada Rabu, 21 Januari 2026, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,36% menjadi 9.010,33 poin. Aksi jual bersih investor asing mencapai Rp1,9 triliun di seluruh pasar, dengan saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penjualan bersih asing terbesar senilai Rp1,72 triliun, mengakibatkan harga sahamnya terkoreksi 3,75% dan ditutup pada Rp7.700 per saham. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian global dan domestik, termasuk tekanan geopolitik, antisipasi kebijakan suku bunga global, dan pelemahan nilai tukar Rupiah.

Tekanan jual investor asing ini memperpanjang tren keluarnya modal dari pasar saham Indonesia yang telah terlihat sejak awal tahun. Hingga 21 Januari 2026, investor asing telah membukukan net sell sekitar Rp2,67 triliun di saham BBCA saja secara year-to-date. Fenomena ini mencerminkan perubahan sentimen yang dipicu oleh beberapa faktor. Secara global, ketegangan geopolitik dan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan Federal Reserve yang semakin kecil memperkuat dolar Amerika Serikat, memicu arus keluar modal dari negara berkembang ke negara maju. Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar Rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS turut membebani pasar, dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui bahwa sentimen negatif pasar terkait pencalonan Deputi Gubernur BI juga berkontribusi pada tekanan ini. Selain itu, keputusan pemerintah mencabut sejumlah izin usaha kehutanan dan pertambangan dilaporkan memengaruhi saham-saham Grup Astra, seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), yang juga mengalami aksi jual asing yang signifikan.

Bank Indonesia pada hari yang sama memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, sebuah langkah yang disebut sesuai ekspektasi pasar namun belum mampu meredam aksi jual masif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 1 September 2025 menyatakan bahwa meskipun terdapat gejolak jangka pendek, arah pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif dan stabil, didukung oleh fundamental yang solid. Untuk menanggapi pelemahan Rupiah dan stabilitas pasar, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah mengadakan rapat terbatas dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo pada 21 Januari 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fokus pada pembenahan sisi fiskal dan perekonomian, sementara Gubernur BI Perry Warjiyo akan memastikan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga nilai tukar rupiah, termasuk intervensi di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF).

Dalam jangka panjang, dominasi investor domestik semakin kentara. Kontribusi investor asing dalam nilai transaksi harian pasar modal Indonesia merosot hingga menyentuh 26% pada awal tahun 2026, merupakan titik terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini menandakan bahwa kendali IHSG kini sebagian besar telah berpindah tangan ke investor domestik, termasuk ritel dan manajer investasi lokal, yang mengisi kekosongan likuiditas yang ditinggalkan asing. Meskipun demikian, aliran modal keluar yang berkelanjutan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional karena mengurangi investasi dan dapat memicu tekanan lebih lanjut pada nilai tukar Rupiah serta produk investasi berbasis saham. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mendorong pasar modal Indonesia untuk fokus pada peningkatan integritas, pendalaman likuiditas, penguatan basis investor institusi, serta pengembangan ekosistem bursa karbon yang kredibel pada tahun 2026. Bank Indonesia memastikan cadangan devisa negara tetap memadai, tercatat sebesar USD156,5 miliar pada Desember 2025, sebagai penyangga untuk menghadapi tekanan pasar keuangan global.