Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IHSG Kembali Cetak Rekor: Pemicu Kenaikan Tak Terduga Terungkap

2026-01-16 | 22:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T15:52:46Z
Ruang Iklan

IHSG Kembali Cetak Rekor: Pemicu Kenaikan Tak Terduga Terungkap

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mencatat rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, ditutup pada level 9.075,41 pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, setelah sempat menembus level psikologis 9.000 pada 8 Januari 2026 dan menyentuh 9.100 secara intraday. Penguatan signifikan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif domestik, termasuk stabilitas makroekonomi dan optimisme terhadap kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah, di tengah gejolak arus modal asing yang masih menantang.

Kinerja cemerlang IHSG pada awal tahun 2026 ini merupakan kelanjutan dari tren positif tahun sebelumnya, di mana indeks menguat 22,13 persen sepanjang 2025 hingga mencapai 8.646,94 per 31 Desember 2025, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak 24 kali. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan optimismenya bahwa IHSG dapat menembus level 10.000 pada 2026, sejalan dengan sinkronisasi kebijakan pemerintah dan perbaikan ekonomi Indonesia. Senada, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut capaian IHSG ini sebagai cerminan kepercayaan investor yang semakin kuat terhadap perekonomian nasional pada 2026, didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Salah satu pemicu utama kenaikan IHSG adalah ekspektasi pertumbuhan laba emiten yang lebih tinggi pada tahun 2026, yang diproyeksikan sekitar 8 persen secara tahunan. Kinerja emiten-emiten berkapitalisasi pasar besar (big cap), khususnya di sektor perbankan, menunjukkan ketahanan yang solid. Selain itu, reli harga komoditas global, terutama nikel yang harga globalnya naik 3,21 persen, serta timah, tembaga, dan minyak mentah, turut mengerek saham-saham di sektor pertambangan dan komoditas. Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan, seperti program mandatori biodiesel B40, penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank BUMN, dan perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) properti, juga memberikan sentimen positif kepada pasar.

Meski demikian, pasar saham Indonesia tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika arus modal asing. Meskipun pada periode 1 hingga 8 Januari 2026, nonresiden mencatatkan beli bersih sebesar Rp3,85 triliun di pasar saham, Rp3,23 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp0,26 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terjadi arus modal asing keluar bersih sebesar Rp7,71 triliun pada pekan kedua Januari 2026 dari pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan. Secara kumulatif, sepanjang tahun 2026 hingga 15 Januari, investor asing bahkan mencatatkan jual bersih Rp7,30 triliun, meskipun masih ada beli bersih Rp947,45 miliar di pasar saham pada pekan tersebut. Ini menunjukkan adanya divergensi antara minat terhadap saham dan obligasi pemerintah. Depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat ditutup di atas level Rp16.800 per dolar AS sejak April 2025 akibat sentimen risk-off global juga menjadi perhatian.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, stabilitas makroekonomi domestik, seperti inflasi yang terjaga di 2,92 persen pada Desember 2025 dan ekspektasi suku bunga rendah, menjadi penopang utama reli IHSG. Meskipun Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025 dan diperkirakan akan tetap stabil dalam waktu dekat, ekspektasi penurunan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve pada pertengahan 2026 mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Analis dari Barclays memperkirakan pemangkasan suku bunga BI akan terjadi di paruh kedua 2026 sebanyak dua kali dengan total 50 basis poin, sementara HSBC memproyeksikan pemangkasan total 75 basis poin sepanjang 2026.

Melihat ke depan, sejumlah institusi sekuritas tetap optimistis terhadap prospek IHSG. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menargetkan IHSG mencapai 10.500 pada 2026, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan potensi kebijakan yang lebih akomodatif. HSBC Global Research memproyeksikan IHSG dapat menguat ke level 9.450 hingga 9.700 pada akhir 2026. Sektor-sektor seperti komoditas, telekomunikasi, keuangan, dan teknologi diprediksi akan menjadi pendorong utama. Namun, investor disarankan untuk tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang ini, serta mencermati perkembangan inflasi global dan domestik, kebijakan moneter bank sentral utama, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Penilaian pasar saham Indonesia secara keseluruhan masih dianggap menarik dengan valuasi yang relatif murah dibandingkan bursa negara maju, terutama saham-saham big cap yang memiliki potensi kenaikan lebih lanjut.