:strip_icc()/kly-media-production/medias/3566688/original/041753800_1631185684-20210909-PPKM-IHSG-3.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat terbatas sebesar 0,01 persen atau 0,83 poin ke level 9.134,70 pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, mencatatkan rekor tertinggi baru (all-time high/ATH) di tengah mayoritas bursa saham Asia yang cenderung lesu. Penguatan ini menjadi tren positif kelima secara beruntun bagi IHSG sejak Selasa pekan lalu. Sementara itu, indeks LQ45 justru terkoreksi 0,98 persen ke level 884,38.
Kinerja IHSG yang resilien ini didorong oleh sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati momentum awal tahun atau "January Effect" dan menanti arah kebijakan moneter dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 20-21 Januari 2026. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa investor mulai memposisikan diri menjelang keputusan suku bunga acuan BI. Optimisme terhadap stabilitas kebijakan moneter dalam negeri, khususnya ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan, juga menjadi pendorong.
Di sisi lain, bursa regional Asia menunjukkan pelemahan. Sentimen negatif datang dari ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara Eropa mulai 1 Februari 2026 terkait proposal pembelian Greenland, memicu kekhawatiran perang dagang baru antara AS dan Uni Eropa. Ketidakpastian politik di Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana membubarkan parlemen, serta keputusan Bank Sentral China (PBoC) yang mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR) di level 3,0 persen, turut menambah tekanan di pasar kawasan. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 0,7%, Kospi Korea Selatan merosot 0,41%, dan indeks Topix juga melemah 0,52%. Kondisi bursa Asia yang memulai tahun 2026 dengan sepi pasca penutupan tahun 2025 yang lemah, juga menjadi faktor.
Secara sektoral, delapan dari sebelas sektor di BEI berhasil menguat, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,49 persen, disusul sektor barang konsumen non-primer naik 2,08 persen. Kenaikan sektor barang baku ini sejalan dengan lonjakan harga emas dunia yang menembus level tertinggi baru di atas US$4.700 per troy ons. Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik mencatat pelemahan terdalam 0,63 persen, diikuti sektor energi yang turun 0,32 persen.
Prospek ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 dinilai tetap solid. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,1 persen untuk tahun 2026, naik 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya, didukung oleh konsumsi domestik, stabilitas makroekonomi, dan perbaikan iklim investasi. Meskipun demikian, beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan tidak akan secepat target pemerintah dalam UU APBN 2026 sebesar 5,4 persen, dengan perkiraan di kisaran 5,1% hingga 5,2%. Tantangan struktural seperti daya beli masyarakat dan potensi penurunan investasi asing langsung (FDI) tetap perlu diatasi.
Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, termasuk inflasi Desember yang tinggi dan defisit fiskal yang melebar. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan. HSBC juga menempatkan Indonesia di kategori overweight dengan proyeksi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026, menargetkan IHSG di level 9.450 pada akhir tahun, menjadikannya salah satu pasar paling menarik di Asia bersama China dan India. Konsumsi domestik yang resilien dan katalis fiskal baru dari pemerintah seperti program makan bergizi gratis (MBG) dan Danantara diperkirakan menjadi pendorong utama.