:strip_icc()/kly-media-production/medias/5184183/original/032285800_1744269683-20250410-IHSG-AFP_7.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mengakhiri perdagangan Selasa, 13 Januari 2026, dengan penguatan signifikan sebesar 0,72 persen atau 63,58 poin, mencapai level 8.948,30. Capaian ini menandai rekor tertinggi baru (all-time high/ATH) dalam sejarah IHSG, membalikkan koreksi yang terjadi pada penutupan perdagangan Senin sebelumnya.
Penguatan IHSG pada hari ini ditopang oleh kinerja positif mayoritas sektor saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh dari sebelas sektor mencatatkan kenaikan. Sektor barang baku memimpin dengan melonjak 2,67 persen, diikuti oleh sektor industri yang menguat 2,12 persen, dan sektor properti yang naik 1,77 persen. Sektor lain yang juga menghijau meliputi barang konsumen non-primer (0,75 persen), kesehatan (0,73 persen), infrastruktur (0,33 persen), dan keuangan (0,30 persen).
Meskipun mayoritas sektor menguat, empat sektor lainnya mengalami koreksi. Sektor barang konsumen primer turun paling dalam 1,85 persen, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik yang melemah 0,91 persen, teknologi 0,73 persen, dan energi 0,54 persen.
Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 62,92 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp 33,54 triliun, dan frekuensi perdagangan mencapai 3,80 juta kali transaksi. Sebanyak 348 saham menguat, 327 saham melemah, dan 131 saham stagnan. Investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 1,99 triliun di seluruh pasar, dengan net buy di pasar reguler mencapai Rp 1,45 triliun. Saham-saham dengan net buy asing terbesar hari ini termasuk PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Pergerakan IHSG yang berbalik menguat hari ini datang setelah koreksi tipis pada Senin, 12 Januari 2026, ketika IHSG melemah 0,58 persen setelah sempat menyentuh level psikologis 9.000. Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, pada Senin lalu, menyatakan bahwa pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) yang agresif setelah indeks menyentuh area psikologis penting.
Kenaikan IHSG di awal tahun 2026 ini sejalan dengan sentimen positif pasar dan optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik. Optimisme ekonomi Indonesia didorong oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5,0-5,3 persen pada tahun 2026. Selain itu, arus modal asing juga menunjukkan tren positif, dengan Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masuk ke Indonesia sebesar Rp 1,44 triliun pada minggu pertama Januari 2026 (5-8 Januari), termasuk beli neto sebesar Rp 1,78 triliun di pasar saham. Sepanjang tahun 2026 hingga 8 Januari, nonresiden mencatatkan beli neto sebesar Rp 3,85 triliun di pasar saham.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, sebelumnya mengindikasikan bahwa IHSG berpotensi rebound jika mampu bertahan di level support tertentu, namun juga mengingatkan untuk berhati-hati terhadap potensi koreksi. Fenomena "January Effect," di mana harga saham cenderung naik pada bulan Januari, terutama saham berkapitalisasi kecil dan menengah, juga dinilai masih berpeluang terjadi pada tahun 2026 seiring perbaikan sentimen global dan terkendalinya inflasi.
Namun, beberapa analis juga menyoroti pentingnya mencermati faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral global, dinamika nilai tukar dolar AS, dan pemulihan ekonomi China, karena memiliki korelasi kuat dengan pergerakan IHSG. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, pada awal Januari, menyoroti solidnya stabilitas ekonomi nasional dan ketahanan terhadap konflik geopolitik global sebagai pendorong utama IHSG. Ia juga menyebut data ekonomi domestik seperti surplus neraca perdagangan sebagai katalis positif. Bank Indonesia sendiri terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.